
Sinar rembulan tengah menguasai langit gelap tanpa adanya bintang. Cuaca di desa Kedawung Bicak cukup cerah karena sedang bulan purnama. Sejak sore Badiah memilih menutup toko kelontongnya demi menemani anak dan cucunya di rumah. Dia tidak peduli meski banyak pelanggan yang harus balik kucing karena toko tersebut tutup.
"Nis, kamu sudah tidak berhubungan lagi 'kan sama si Aris?" tanya Fina sambil membereskan piring kotor di meja makan, karena mereka baru saja selesai makan malam.
Nisa tak segera menjawab, dia mengamati keadaan sekitar dan memastikan Badiah tak ada di sana, "enggak lah! Aku masih waras kali, Mbak," sergah Nisa seraya menatap Fina, "mumpung Mbak pulang, bagaimana kalau nanti kita bicara sama Ibu mengenai Ardi?" tawar Nisa seraya menatap Fina.
"Boleh, siapkan saja semua pemberian Ardi. Nanti setelah Shazia dan Elza tidur saja kita bicara," ujar Fina sebelum meninggalkan Nisa di sana. Dia berjalan ke dapur untuk mencuci piring sekaligus membuatkan kopi untuk suaminya.
Setelah bekerjasama membereskan semua wadah dan piring kotor di dapur, kedua wanita cantik itu bergabung bersama anggota keluarga yang lain. Rumah yang biasa terasa sunyi sepi, kini berubah menjadi ramai dengan dipenuhi gelak tawa penghuni rumah. Suara celotehan Shazia dan suara teriakan Elza memenuhi seisi ruang keluarga. Semua merasa gembira karena kelucuan balita yang sedang tengkurap di atas matras itu.
"Cucunya Mbah ini kok cantik begini sih. Uluh ... uluh ... apa, Nak? Mau bicara apa, Nak? Pakai bandonya siapa itu? Uh, uh, uh, cantiknya," Badiah berbicara dengan Shazia yang sedang mengeluarkan celotehannya.
"Mbah, aku juga ganteng 'kan?" sahut Elza setelah mendengar Badiah memuji Shazia. Sepertinya dia tidak terima jika Shazia saja yang dipuji.
"Tentu dong. Elza juga ganteng sekali. Pokoknya cucunya Mbah paling ganteng dan cantik sedunia," ujar Badiah seraya menatap Elza dengan sorot mata bahagia.
Detik demi detik terus berlalu begitu saja, Shazia sudah tidur pulas di atas gendongan Fina. Sementara Elza pun sudah masuk kamar bersama Benny. Malam ini dia ingin tidur di kamar yang sama dengan kedua orang tuanya.
"Mas, titip Shazia sebentar ya. Aku sama Nisa mau bicara sama ibu sebentar," pamit Fina setelah membaringkan Shazia di atas tempat tidur.
"Iya. Jangan khawatir, Shazia aman bersamaku," ucap Benny dengan diiringi senyum manis.
Mantan duda itu tak banyak bertanya karena tidak mau ikut campur masalah yang memang hanya dibicarakan keluarga inti. Dia tidak mau terlalu ambil pusing jika tidak diajak berunding, karena dia sadar baik mertuanya ataupun orang tuanya sendiri pasti memiliki masalah yang tidak perlu diketahui menantu.
"Ayo, Mbak," ajak Nisa saat Fina keluar dari kamarnya. Kedua wanita cantik itu berjalan menuju kamar Badiah.
"Loh, ada apa?" Badiah terkejut setelah melihat kehadiran kedua putrinya di depan kamar.
"Kami ingin bicara, Bu," jawab Nisa, "bisa kita bicara di dalam kamar saja, Bu?" tanya Nisa.
Badiah membuka lebar pintu kamar tersebut dan kedua putrinya pun mengekor di belakangnya. Mereka bertiga duduk di atas tempat tidur agar nyaman saat membahas masalah Ardi.
"Ada apa sih?" Badiah semakin penasaran karena kedua putrinya masih bungkam. Apalagi, saat Nisa mulai membuka kotak hitam dan mengeluarkan selembar foto usang.
"Ibu kenal dengan orang-orang yang di foto ini?" tanya Nisa sambil menunjukkan foto tersebut kepada Ibunya.
Badiah tercengang setelah melihat foto tersebut. Jantungnya berdegup kencang karena melihat foto terakhir yang diambil sebelum dirinya menginjakkan kaki di kota kecil ini. Tak satupun dia melupakan orang-orang yang ada di sana.
"Ibu gak kenal!" Badiah berusaha mengelak. Akan tetapi rona wajah yang bersemu merah tidak bisa dibohongi.
"Ibu yakin tidak menyembunyikan sesuatu dari kami?" Kali ini Fina ikut bertanya.
"Dari mana kamu mendapatkan foto ini?" Bukannya menjawab, Badiah justru bertanya balik kepada Nisa.
"Apa dia seorang intel?" tanya Badiah pada intinya.
"Kenapa Ibu bisa menebak hal itu?" Nisa tak melepaskan pandangannya dari Badiah.
Sekali lagi Badiah gelagapan mendapat pertanyaan itu dari Nisa. Dia merasa seperti diinterogasi oleh petugas kepolisian. Bola mata itu bergerak ke kiri dan ke kanan serta air mata mulai menggenang. Wanita paruh baya itu bingung harus bagaimana lagi menyimpan semuanya sendiri.
"Bu, tolong jujur kepada kami, siapa sebenarnya orang-orang itu? Lalu apa hubungannya Bapak sama mereka, Bu?" Fina menepuk paha ibunya dengan sorot mata penuh harap.
"Siapa nama anak kecil ini, Bu? Nisa hanya ingin tahu siapa namanya," tanya Nisa dengan kalem.
"Johan Pamungkas." Hanya itu saja jawaban yang keluar dari bibir Badiah.
Nisa terkesiap setelah mendengar jawaban ibunya. Mungkin, setelah ini teka-teki yang ditinggalkan Ardi akan terungkap, "lalu apa Ibu mengenal Ibu Rahayu dan Pak Wiratama?" tanya Nisa.
"Dari mana kamu mengenal nama itu, Nis?" Suara Badiah mulai bergetar setelah mendengar kedua nama itu.
"Aku sudah bertemu dengan mereka, Bu ... di Jakarta," jawab Nisa dengan kepala tertunduk. Dia belum siap melihat kemarahan ibunya setelah ini.
"Jakarta? Kapan kamu pergi ke sana?" Benar saja Suara Badiah mulai meninggi setelah mendengar pengakuan putri bungsunya.
"Beberapa bulan yang lalu, Bu. Maaf jika aku sudah membohongi Ibu," gumam Nisa tanpa berani menatap Badiah.
"Astagfirullah haladzim!" Badiah mengusap dadanya karena terkejut dengan pengakuan putrinya, "katakan kepada Ibu! Siapa yang menyuruhmu ke sana? Apa kamu sedang mengikuti sebuah misi hmmm? Jawab, Nisa!" cecar Badiah dengan mata terbelalak.
"Tidak, Bu. Aku bisa menjelaskan semuanya, jangan marah dulu, Bu." Nisa sangat ketakutan setelah melihat kilat amarah dari tatapan mata wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini.
Rangkaian kejadian di mana awal dia bertemu Ardi hingga pulang dari Jakarta telah diceritakan kepada Badiah. Tak lupa dia menceritakan bagaimana Rahayu dan Wiratama memperlakukannya selama di sana. Hingga bagaimana perasaannya saat ini kepada Ardi pun diungkapkan kepada Badiah.
"Ya Allah," gumam Badiah seraya menyandarkan tubuh di dinding. Wanita paruh baya itu seperti kehilangan banyak tenaga setelah mendengar pengakuan Nisa.
Seketika hati dan pikirannya kacau saat ini. Semua kejadian di masa lalu mulai memenuhi kepala. Pesan dari suaminya serta rahasia yang disepakati berdua untuk ditutupi pun sepertinya akan terungkap malam ini.
"Aku sendiri bingung menyikapi bagaimana perasaanku, Bu. Aku tidak tahu apakah aku sedang jatuh cinta atau memiliki perasaan yang lain kepada pemuda bernama Johan itu. Satu hal yang pasti, saat ini aku menunggu dia menemuiku lagi," ungkap Nisa bagaimana isi hatinya saat ini.
Badiah duduk tegak setelah mendengar isi hati putrinya. Tentu dia tidak rela jika Nisa sampai menjalin hubungan dengan Johan, meski sebelumnya kedua keluarga itu menjalin hubungan yang sangat baik layaknya keluarga. Badiah hanya tidak mau putrinya memiliki suami seorang perwira ataupun seorang intelejen negara.
"Semoga saja dia tidak menemuimu lagi. Lupakan dia, Nak. Jangan sampai kamu jatuh hati kepada Johan. Ibu tidak mau terjadi sesuatu kepadamu. Terlalu bahaya jika menjadi pasangan dari orang seperti Johan. Ayahmu saja merelakan jabatan itu dan memilih bersembunyi di sini menjadi pedagang tempe. Sudahlah, hidup jauh lebih tenang jika kamu memiliki pasangan rakyat biasa," tutur Badiah panjang lebar.
...πΉTo Be Continued πΉ...
...π·π·π·π·π·π·π·...