
Suasana di dalam ruang tamu mendadak hening sampai terdengar suara derap langkah Fina di sana. Putri sulung Badiah itu meletakkan minuman dan beberapa camilan untuk kedua tamu dari jauh itu di atas meja.
"Silahkan, Pak ... Bu," ucap Fina sebelum pergi dari ruang tamu karena harus menjaga Shazia dan Elza di dalam.
"Monggo. Maaf hanya bisa menjamu seadaanya," ucap Badiah dengan senyum tipis.
"Walah, ini lebih dari cukup. Tidak perlu repot-repot, Mbak," ucap Rahayu dengan tulus.
Suasana kembali hening. Wiratama menatap istrinya dengan lekat, seperti sedang memberikan kode agar segera mengutarakan maksud kedatangannya menemui Badiah.
"Jadi begini, Mbak Bad. Memang benar, kedatangan kami kesini selain dari silahturahmi menyambung tali persaudaraan yang sempat terputus, kami ingin membicarakan hal serius," jelas Rahayu dengan sikap yang sangat anggun.
"Tentang apa ini?" tanya Badiah sambil mengubah posisinya.
"Kelanjutan hubungan anak-anak kita." Wiratama membantu istrinya berbicara kepada Badiah.
Tentu hal ini semakin membuat Badiah shock. Wanita paruh baya itu menoleh ke samping dan tatapan matanya bersirobok dengan Nisa. Sesuatu yang ingin dihindari ternyata datang secepat kilat. Bukan lagi sosok Johan yang menghadap, melainkan kedua orang tuanya langsung.
"Tidak perlu terkejut begitu, Mbak. Ya ... saya ini hanya ingin menjaga putri bungsu Mbak Bad ini seperti janji saya kepada Mas Hasan dulu. Saya rasa Fina sudah aman karena memiliki suami yang mapan, tanggung jawab dan bisa menjaganya. Tinggal Nisa yang belum memiliki pasangan. Berhubung anak kita berbeda jenis kelamin dan sama-sama sudah dewasa, tidak mungkin 'kan jika Nisa saya angkat jadi anak. Alangkah lebih baiknya jika dia menjadi menantu saya saja," jelas Wiratama panjang lebar.
"Kalau menurut Mbak Bad bagaimana?" timpal Rahayu seraya menatap Badiah dengan intens, "Johan sudah cerita kepada saya, jika dia memiliki perasaan kepada Nisa sejak awal bertemu." Senyum Rahayu terlihat sangat manis saat mengatakan hal ini.
"Waduh, saya jadi bingung harus menjawab bagaimana." Badiah tersenyum tipis saat menjawab pertanyaan itu.
"Tidak perlu bingung dan dijawab sekarang, Mbak. Yang terpenting Mbak Bad tahu maksud baik kami. Keadaan sekarang sudah aman, tidak perlu ada yang ditakutkan lagi," ucap Wiratama setelah melihat kegusaran dari sorot mata Badiah.
"Nisa ini masih kuliah. Kalau dia menikah, bagaimana nanti kuliahnya? Terus apakah Nak Johan mau tinggal di Mojokerto? Masalahnya saya sendirian di sini. Fina ikut suaminya di Surabaya," jelas Badiah. Wanita paruh baya itu tidak mau mengungkap apa alasan yang sebenarnya.
"Wah, nanti kalau masalah itu biar Johan sendiri yang menjawab. Kami sebagai orang tua hanya menyampaikan niat baik ini kepada Mbak Bad. Tujuan utama kami datang ke sini bukan untuk memaksa kok, Mbak. Tidak perlu sungkan atau takut begitu. Kita masih punya banyak waktu untuk membahas masalah ini lagi." Wiratama terus mengamati wajah Badiah.
"Iya, Mbak. Kami ingin melihat kondisi Mbak Bad sekaligus liburan di kota ini, mumpung Mas Wira sudah tidak bertugas lagi. Kami punya banyak waktu longgar," sahut Rahayu saat menenangkan Badiah.
"Loh tidak tugas bagaimana? Maksudnya sudah pensiun begitu kah?" tanya Badiah.
"Saya mengajukan pensiun dini, Mbak. Capek umur udah mendekati tua," jawab Wiratama dengan yakin.
Nisa hanya bisa menyimak obrolan orang-orang dewasa yang ada di sana. Ada rasa bahagia dalam hati setelah tahu jika Johan ternyata memiliki perasaan kepadanya. Bunga yang sempat layu seperti bermekar kembali. Apalagi, setelah mendengar sendiri jika kedua orang tua Johan juga menginginkan hubungan baik itu terjalin. Namun, setelah teringat dengan jawaban Badiah, rasanya begitu menyesakkan dada. Wanita paruh baya itu tidak menerima sepenuh hati tentang tawaran hubungan ini. Bahkan, sinyal-sinyal ketidaksetujuan pun terlihat jelas di sana.
"Tidak mungkin aku melawan Ibu demi Ardi," batin Nisa dengan wajah yang tertunduk itu.
Hingga beberapa puluh menit kemudian, Wiratama dan Rahayu pamit pulang karena harus melanjutkan perjalanan. Mereka ingin mengunjungi situs Kerajaan Majapahit di Trowulan. Mereka berdua berharap Badiah menerima perjodohan ini demi kebaikan bersama.
"Kapan-kapan saya main ke sini lagi ya, Mbak," ucap Rahayu sebelum masuk ke dalam mobilnya. Dia mengembangkan senyum ketika Badiah menganggukkan kepalanya dengan diiringi senyum tipis.
Nisa termangu di teras rumah. Dia bersandar di salah satu pilar yang ada di sana sambil menatap Badiah. Entah apa yang sedang diamati oleh wanita paruh baya itu sehingga cukup lama berdiri di sana. Gadis cantik itu merasa jika masalah asmaranya tak semudah kisah kakaknya.
Gadis cantik itu segera masuk ke dalam rumah ketika mobil hitam Benny berhenti di halaman rumah. Dia mengayun langkah menuju kamar tanpa menyapa Fina yang sedang berpapasan dengannya. Mungkin, gadis cantik itu sedang menyembunyikan mata merah akibat air mata yang menggenang di sana. Tak lupa dia mengunci pintu kamarnya agar tidak ada siapapun yang mengusik ketenangannya.
"Bu, biarkan dulu dia menenangkan diri," tutur Fina setelah berdiri di sisi ibunya, "lebih baik Ibu juga istirahat. Menenangkan diri sendirian sangat dibutuhkan loh, Bu, di saat seperti ini. Jangan terlalu banyak pikiran, Bu. Tidak baik untuk kesehatan," tutur Fina dengan senyum yang manis.
Helaan napas berat terdengar di sana. Badiah mencoba tersenyum di hadapan putri sulungnya. Lantas, dia membalikkan badan dan masuk ke dalam kamar. Kedatangan tamu dengan membawa kabar mengejutkan membuat Badiah semakin tak tenang. Ada banyak hal yang harus dia pikirkan sebelum memutuskan semua ini.
"Ada apa sih?" bisik Benny setelah menghampiri Fina di ruang keluarga. Ayah dua anak itu sempat menunggu di ruang tamu ketika mendengar nada tinggi ibu mertuanya.
"Sebaiknya kita bicara di kamar, Mas. Elza ada di kamar," ajak Fina dengan senyum yang manis, "mau dibuatkan minum apa?" tanya Fina ketika melihat gurat lelah di wajah suaminya karena baru kembali dari Surabaya. Ayah dua anak itu sejak kemarin malam kembali ke Surabaya karena ada urusan di pabrik.
"Nanti saja. Sebaiknya kita istirahat dulu. Tuh Shazia kelihatannya udah ngantuk banget," ucap Benny setelah mengamati putrinya yang sedang resah dalam gendongan Fina.
"Iya nih, dari tadi agak rewel." Fina menatap Shazia yang sedang menggeliatkan tubuh dalam gendongannya, "sebelum masuk kamar, jangan lupa membersihkan diri di kamar mandi," ujarnya Fina.
Ibu dua anak itu segera masuk ke dalam kamar. Sementara Benny langsung berjalan ke arah belakang untuk membersihkan diri di kamar mandi. Rasa lelah begitu terasa karena kurang istirahat. Ada beberapa kendala di pabrik sepatu yang membutuhkan kehadirannya secara langsung.
"Kak Elza, geser sedikit dong. Ini adek Zia pengen bobok," ujar Fina setelah berada di dalam kamar. Dia menghampiri Elza yang sedang asyik bermain game, karena tak lama setelah ini waktu istirahat akan tiba. Maka waktu bermain handphone harus berakhir.
Tak lama setelah itu, Benny masuk ke dalam kamar. Dia bergabung bersama anak dan istrinya di atas tempat tidur. Shazia yang awalnya mulai bisa tenang dan menutup kelopak mata, harus terbangun karena ulah Benny. Balita empat bulan itu kembali rewel karena merasa terganggu.
"Mas harus tanggung jawab nenangin dia!" ujar Finna dengan kesal.
"Ayo sini gendong Papa," ajak Benny seraya mengangkat tubuh gembul putrinya dari tempat tidur.
Berulang kali Benny memberikan kecupan penuh kasih di wajah putrinya sehingga membuat tangis Shazia berubah menjadi tawa. Elza sendiri sampai heran melihat tingkah adiknya.
"Lah habis nangis kok tertawa, Dek!" protesnya.
"Shazia kangen Papa pasti! Tuh dia gak rewel waktu sama Papa," ujar Benny saat menimang putrinya.
"Oh ya, Sayang. Tadi kenapa Ibu dan Nisa? Sepertinya sedang tidak baik-baik saja," tanya Benny setelah teringat momen yang dia lihat saat kembali ke rumah ini.
"Tadi itu ada temen lamanya Bapak silahturahmi ke sini. Terus mereka ingin menjodohkan putranya dengan Nisa. Mas pasti terkejut siapa yang akan dijodohkan sama Nisa," jelas Fina seraya menatap suaminya.
"Siapa memangnya?" Benny merasa penasaran.
"Ardi. Pemuda yang nolongin Mas waktu kecelakaan dulu," jawab Fina.
"Ck. Emang bener ya kalau dunia tak selebar daun kelor. Kok bisa gitu loh pemuda itu kebetulan anak dari temannya Bapak. Mengejutkan memang," gumam Benny sambil manggut-manggut.
Hanya itu saja yang mampu diceritakan Fina kepada suaminya, karena dia belum siap untuk membuka cerita lain yang dirahasiakan sementara ini. Fina hanya mengedikkan bahu saat menanggapi ucapan suaminya.
"Kamu pasti lebih terkejut setelah tahu siapa Ardi sebenarnya, Mas," batin Fina seraya menatap Benny yang asik dengan Shazia. Tidak ada pembahasan apapun lagi mengenai masalah Nisa, karena Benny sudah bisa menyimpulkan jika di antara mertua dan adik iparnya pasti terjadi perbedaan pendapat.
...πΉTo Be Continued πΉ...
...π·π·π·π·π·π·...