
Tiga bulan kemudian,
"Mama! Jangan adek Zia terus yang digendong! Aku juga pengen!" teriak Elza di sela isak tangisnya.
Benny segera beranjak dari tempatnya setelah melihat putra pertamanya yang sedang demam itu. Entah mengapa, dua hari ini Elza mendadak demam dan rewel. Dia berubah menjadi manja seperti anak kecil yang sedang tantrum. Sepertinya dia iri kepada Shazia karena perhatian Fina harus terbagi sejak kehadiran bayi menggemaskan yang saat ini sudah bisa tengkurap itu.
"Aku gak mau sama Papa! Aku mau sama Mama!" teriak Elza lagi. Selama dua hari ini dia terus mencari perhatian ibu sambungnya itu.
"Iya. Nanti sama Mama. Sekarang sama Papa dulu ya. Kalau Mama sudah selesai memberikan ASI untuk adek, baru nanti Mama sama Elza," ucap Benny sambil mengusap rambut tipis putranya.
Ayah dua anak itu mencoba menenangkan Elza terlebih dahulu sampai Fina selesai mengurus Shazia yang juga sedang rewel. Bayi menggemaskan itu baru selesai imunisasi tadi pagi. Sepasang suami istri itu harus bekerja sama dalam mengurus kedua anak yang sedang membutuhkan perhatian lebih.
"Iya. Sebentar lagi Kak Elza sama Mama ya. Biar Adek Zia tidur dulu. Sabar ya, Nak," ucap Fina dengan diiringi senyum yang manis.
Fina membawa Shazia menjauh dari tempat Elza berada saat ini agar bisa tidur dengan tenang. Wanita cantik itu sempat kuwalahan di saat kedua anaknya rewel begini. Rasanya dia ingin menangis saja merasakan tubuh yang lelah dan keadaan yang mulai tidak terkontrol itu.
"Ya Allah begini rasanya jadi Ibu di saat anak-anaknya rewel. Berat sekali menjaga kewarasan hati dan pikiran agar tidak emosi," gumam Fina sambil menimang Shazia dalam gendongan kain itu.
Cukup lama Fina menenangkan Shazia hingga bayi berusia tiga bulan itu tidur nyenyak. Fina membawa Shazia ke dalam kamar. Dia membaringkan dengan hati-hati tubuh putrinya di atas tempat tidur.
"Tidur yang nyenyak ya, Nak. Mama mau menenangkan kak Elza dulu. Shazia sama Papa ya," gumam Fina dengan suara yang lirih saat melepas gendongan kain itu dari pundaknya.
Setelah dirasa aman, Fina bergegas keluar dari kamar. Dia berjalan menuju ruang keluarga yang ada di lantai dua untuk menemui Elza. Tugasnya menjadi seorang ibu tak kunjung selesai meski malam telah hadir menggantikan siang.
"Aku mau digendong Mama seperti adek Zia," ucap Elza dengan manjanya setelah Fina berada di sana.
"Jangan, Nak. Elza itu berat loh, kasihan Mama nanti," sergah Benny. Tentu dia tidak tega melihat Fina harus menanggung semua ini sendiri.
"Pokoknya aku mau gendong Mama! Adek Zia terus yang digendong! Aku gak pernah!" Elza kembali menangis setelah mendengar sergahan Benny.
"Mas, tolong temani Shazia di kamar saja. Dia sedang tidur pulas. Jangan diganggu," ucap Fina setelah duduk di samping Elza.
Fina memberikan kode agar Benny segera pergi dari sana, karena memberikan pengertian kepada Elza membutuhkan ketenangan. Fina mengangkat tubuh Elza ke atas pangkuannya. Dia pun mengusap rambut tipis itu dengan penuh kasih.
"Elza sudah minum obat apa belum?" tanya Fina setelah terdiam selama beberapa menit.
Elza hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan dari ibu sambungnya itu. Dia mengeratkan dekapan tangannya di tubuh Fina. Sepertinya dia merindukan kasih sayang dari Fina karena tidak bisa dipungkiri jika akhir-akhir ini, ibu sambungnya itu fokus pada Shazia. Sementara Elza harus memahami situasi tersebut.
"Sekarang minum obat dulu yuk! Biar cepat sembuh," bujuk Fina dengan tutur kata yang lembut.
"Mama itu sayang kalian berdua. Mama tidak membedakan Elza dengan dek Zia. Berhubung Elza sudah besar dan bisa melakukan semuanya sendiri, maka Mama hanya mengawasi Elza saja. Kalau Adek Zia kan masih bayi, belum bisa makan, mandi dan ganti baju sendiri. Jadi, Mama yang harus membantu adek Zia melakukan semua itu." Fina mencoba menjelaskan bagaimana situasinya saat ini agar Elza tidak merajuk lagi.
"Coba bayangkan, kalau Adek Zia mandi sendiri. Nanti kalau terpeleset bagaimana? Sedangkan Dek Zia belum bisa duduk sendiri. Masih digendong Mama kan?" lanjut Fina seraya mengurai tubuh Elza darinya. Dia menatap putra sambungnya itu dengan lekat.
Elza hanya diam saja saat menyimak penuturan Fina. Dia kembali memeluk Fina dengan mata yang berembun. Suhu tubuhnya lumayan panas karena hari ini bocah enam tahun itu susah minum obat. Fina kembali merangkai kalimat untuk memberikan Elza pengertian.
"Nak, Elza kan sudah besar. Sudah kelas satu SD. Terus pemenang lomba pencak silat juga 'kan? Kenapa sekarang jadi manja seperti anak yang masih sekolah di play group? Katanya mau jadi pendekar sakti 'kan?" ujar Fina seraya menatap putranya dengan lekat.
"Memangnya pendekar gak boleh manja sama Mamanya?" tanya Elza seraya menatap Fina.
"Boleh. Tetapi tidak boleh terlalu berlebihan. Masa iya ada pendekar cengeng? Adek Zia saja kalau nangis dimarahi Elza. Katanya gak boleh cengeng. Kok sekarang yang cengeng Elza sih?" jawab Rina dengan diiringi senyum tipis.
Obrolan ibu dan anak itu terus berlangsung sampai Fina memenangkan hati Elza. Dia harus mengisi extra kesabarannya untuk menghadapi ketantruman bayi besar ini. Pada akhirnya, Fina berhasil membuat Elza mau minum obat dari dokter anak tersebut.
"Nah, kalau mau minum obat begini kan enak. Elza bisa cepat sembuh dan yang pasti bisa jadi pendekar saktinya Mojokerto. Nanti Elza bisa melindungi Mama, Papa dan Adek Zia," tutur Fina seraya mengusap kepala Elza dengan gerakan lembut.
"Berarti aku pintar ya, Ma?" tanya Elza lagi seraya menatap Fina dengan lekat.
"Iya dong! Anaknya Mama ini bukan hanya pintar, tetapi juga hebat!" Fina memberikan pujian kepada Elza agar tidak rewel lagi.
"Sekarang waktunya Elza tidur. Mama akan menemani Elza sampai tidur deh. Mau dibacakan surat apa nih? Surat Al-Baqarah atau Al-ikhlas?" Fina bertanya kepada Elza dengan senyum yang sangat manis.
"Aku mau bobo di kamarnya Mama. Pengen bobo bareng Papa, Mama dan Adek Zia," pinta Elza dengan tegas. Kalau sudah seperti ini, bocah kelas satu SD ini pasti susah diatur.
"Oke, kita ke sana sekarang yuk!" ajak Fina seraya mengangkat Elza agar berdiri dari pangkuannya.
Awalnya Elza bersikukuh ingin digendong dengan kain seperti Shazia, tetapi setelah Fina menunjukkan gendongan tersebut, Elza beringsut mundur karena tahu jika tubuhnya tidak bisa masuk ke dalam gendongannya.
"Nah, kalau jalan begini kan enak. Bisa bergerak bebas atau pun berlari 'kan?" ujar Fina saat berjalan beriringan bersama Elza menuju kamarnya.
Fina bernapas lega setelah melihat Shazia masih terlelap di tempat asal. Benny sendiri memilih duduk di sofa daripada tidur di ranjang empuk itu. Dia takut Shazia bangun gara-gara pergerakannya di sana.
"Elza mau bobo di sini, Pa. Enak nanti kita tidurnya rame-rame ya," ucap Fina sambil membawa Elza ke sisi Benny, "duduk di sini dulu. Biar Mama menyiapkan tempat tidurnya." Fina memberikan pengertian kepada putranya itu.
Benny bernapas lega karena pada akhirnya Fina berhasil menenangkan kedua anaknya. Mantan duda itu pasti bingung mencari solusi apabila berada di posisi Fina.
"Kamu memang ibu yang hebat, Fin." Benny memuji Fina di dalam hatinya.
...🌹To Be Continued 🌹...