Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Edukasi Tentang ...?


Hari-hari indah telah dilalui Benny sekeluarga dengan penuh kasih sayang. Setelah satu minggu melewati beberapa kesibukan masing-masing, akhirnya mereka bertiga bisa duduk santai di rumah karena saat ini adalah akhir pekan.


"Mas, sepertinya Elza udah cocok punya adek lagi loh! Gak bikin nih?" bisik Fina kepada Benny setelah mengamati apa yang sedang dilakukan oleh putranya.


"Bikin tapi nanti dulu deh," jawab Benny tanpa mengalihkan pandangan ke arah Fina.


"Bagaimana kalau kita konsultasi ke psikolog, Mas? Mungkin dengan bertemu dengan psikolog, bisa membantu Mas pulih dari rasa trauma," ajak Fina sambil meraih tangan Benny untuk digenggamnya.


"Elza ... Elza ... El!" teriak beberapa bocah seusia Elza dari luar pintu gerbang.


Tentu sang empu yang sedang asyik bermain di teras rumah bergegas berdiri dari tempatnya. Begitupun dengan Fina dan Benny, mereka terpaksa menghentikan pembicaraan karena kehadiran beberapa anak-anak seusia Elza di sana.


"Nak, temannya diajak masuk dong! Masa iya ngobrolnya di depan gerbang. Ayo masuk sini," ujar Fina setelah mengamati interaksi para bocah yang ada di gerbang rumah.


Pada akhirnya, Elza pun membawa beberapa temannya masuk ke dalam rumah. Mereka bersalaman kepada Fina dan Benny. Lantas mereka duduk di lantai teras sambil menunggu Elza pamit kepada kedua orang tuanya.


"Loh kenapa temannya tidak diajak masuk, El?" tanya Fina.


"Aku mau izin sama Mama dan Papa. Setelah ini aku mau main sama teman-teman naik sepeda keliling komplek. Boleh ya, Ma?" tanya Elza dengan sorot mata penuh harap.


"Naik sepeda?" Fina mengernyitkan keningnya sambil menatap Elza dan beberapa temannya.


Wanita cantik itu sedang menimbang permintaan Elza karena merasa bimbang. Ada rasa khawatir dan kasihan yang memenuhi pikiran karena tidak tega melihat keinginan kecil putra sambungnya itu. Ya, memang tidak bisa dipungkiri jika anak-anak seusia Elza mulai belajar mengenal lingkungan sekitar.


"Boleh, asal kalau menjelang dzuhur Elza harus pulang. Oke?" jawab Fina setelah mendapatkan kode dari Benny agar memberikan izin kepada Elza.


"Oke, Ma!" Elza mengacungkan jempolnya dengan senyum sumringah.


Tak berselang lama, Elza dan beberapa temannya berpamitan dan segera pergi dengan membawa sepeda masing-masing. Fina mengikuti Elza dan teman-temannya sampai keluar dari gerbang.


"Hati-hati ya! Jangan main di sungai atau ke jalan raya! Keliling komplek saja, oke!" ujar Fina sebelum anak-anak itu mengayuh sepedanya.


"Iya, Mama Sayang!" jawab Elza.


"Siap, Tante cantik!" jawab serempak teman-teman bermain Elza.


Setelah mereka hilang dari pandangan, Fina bergegas kembali ke teras rumah untuk menemani Benny bersantai di sana. Mantan duda itu terlihat sibuk dengan ponselnya sampai Fina duduk kembali di tempat asal.


"Tidak usah khawatir. Aku sudah menghubungi satpam agar tidak membiarkan anak-anak keluar komplek," ucap Benny setelah mendengar helaan napas berat istrinya, "kamu harus ingat jika Elza butuh bersosial." Benny mencoba menenangkan Fina agar tidak memikirkan Elza saat berada di luar rumah tanpa pengawasannya.


****


Rasa gelisah memenuhi diri wanita cantik yang sedang menunggu putranya pulang bermain. Langit terlihat sangat cerah karena sang raja sinar sedang menunjukkan kuasanya. Bertepatan dengan adzan dzuhur yang berkumandang, Elza tiba di halaman rumah.


"Iya. Mama dari tadi nunggu El pulang. Kenapa pulangnya terlambat?" tanya Fina sambil menggiring Elza masuk ke dalam rumah karena cuaca sedang tidak bersahabat.


"Tadi setelah selesai keliling komplek, kami pergi ke rumahnya Putra, Ma," jelas Elza sambil berjalan menuju ruang keluarga, di mana ada Benny yang sedang fokus dengan film yang terpampang di layar televisi.


"Oh iya, Ma. Masa tadi waktu aku main di rumahnya Putra, aku dan yang lain diajak nonton video aneh, Ma," jelas Elza setelah duduk di samping ayahnya.


"Video apa, Nak?" tanya Benny tanpa mengalihkan pandangan dari layar televisi.


"Tadi itu Putra pinjam handphone Mamanya, terus Putra mengajak aku dan yang lain nonton video dua orang dewasa lagi gak pakai baju, Ma. Masa sudah besar masih minum ASI seperti adek bayi! Mana di itunya ada rambut juga. Aku takut dan gak suka melihatnya," ujar Elza dengan jelas hingga membuat Fina dan Benny saling pandang.


Fina hanya bisa menelan ludah saat mendengarkan semua cerita yang disampaikan oleh putranya itu. Beberapa kali dia menatap wajah sang suami karena tidak tahu harus bagaimana menjelaskan semua ini kepada Elza.


"Kata Putra kalau ketemu teman cewek harus mengacungkan jari tengah sambil bilang 'F*ck'!" Elza memperagakan gerakan tangannya seperti yang diajarkan oleh temannya.


Memang di antara teman bermain di rumah, hanya Elza yang paling kecil umurnya dibandingkan dengan beberapa temannya. Apalagi Putra, bocah tersebut sudah berumur sembilan tahun dan duduk di bangku kelas tiga SD.


"Papa punya gak video seperti Mamanya Putra? Soalnya kata teman-teman semua orang dewasa punya video begitu!" Sungguh, pertanyaan ini berhasil membuat Benny gelagapan.


"Tidak, Nak. Papa tidak pernah melihat video seperti itu!" jawab Benny dengan tegas.


Fina menatap putra sambungnya itu dengan lekat. Pikirannya mulai merangkai kalimat yang tepat untuk menjelaskan perihal ini. Tak lama setelah itu, dia melambaikan tangan dan menepuk sofa yang ada di sisinya. Elza pun segera berpindah tempat di sisi Fina.


"Sayang, apa yang sudah kamu lihat tadi adalah video untuk orang dewasa. Anak-anak dilarang melihat video tersebut karena memang itu bukan video lucu seperti boboboy atau ipin-upin. Jadi, setelah ini sebaiknya Elza tidak melihat video seperti itu lagi. Sampai di sini paham?" Fina memberikan edukasi kepada putranya itu mengenai kejadian yang sudah dialami putranya.


"Memangnya kenapa, Ma? Kenapa anak-anak tidak boleh melihat? Itu Putra dan yang lain masih anak-anak 'kan, Ma?" cecar Elza karena belum puas dengan penjelasan Fina.


"Apa yang sudah dilakukan oleh Putra adalah perbuatan tidak baik. Dia meminjam handphone Tante Rita dan lancang mencari apa yang tidak menjadi tujuannya. Elza tidak boleh seperti itu, Oke?" Fina menatap putranya dengan lekat.


"Kalau Elza masih mau menonton video seperti itu lagi, memangnya Elza mau jadi cepat dewasa? Punya kumis dan terlihat tua. Apa Elza mau dibully teman karena sudah punya kumis?" jelas Fina lagi.


"Aku gak mau, Ma! Aku mau jadi anak-anak saja! Orang dewasa terlalu ribet dan gak pernah bermain seperti aku!" jawab Elza dengan tegas.


Obrolan pun terus berlanjut sampai Elza benar-benar paham dengan penjelasan Fina dan Benny. Mereka tak henti memberikan pengertian tentang batasan untuk Elza.


"Setelah ini jika diajak bermain di rumahnya Putra atau yang lain, lebih baik jangan ikut. Kalau bisa temannya diajak main di sini saja, biar Mama bisa menemani kalian bermain. Lagi pula Elza punya banyak main 'kan di rumah?" tutur Fina sambil mengusap lengan Elza dengan gerakan lembut.


...🌹To Be Continued 🌹...


...Yuk lah emak-emak sayang, jan lupa cek tontonan anak-anaknya, jan sampai macam Putra ya🀣...


...🌷🌷🌷🌷🌷...