
Kedai seblak ternama di kawasan Surabaya barat cukup ramai di waktu makan siang. Banyak pengunjung yang datang ke tempat ini untuk mencicipi masakan khas dari Sunda itu. Mulai dari anak sekolah hingga para buruh pabrik telah memenuhi tempat yang sangat luas ini. Fina sudah beberapa kali mencoba menu masakan di sini bersama Dewi. Tempat yang nyaman dan asri di tengah-tengah kota, berhasil menambah nilai plus untuk tempat recommended ini.
"Kang Aris mana? Kok belum datang?" tanya Elza karena sosok yang ditunggu pengasuhnya itu tak kunjung datang.
"Mungkin masih di jalan, Sayang," jawab Fina dengan senyum yang sangat manis, "El sudah lapar kah? Mau dipesankan baso aci dulu?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari Elza.
"Mau! Aku mau baso aci ditambah enoki, seperti biasanya," ujar Bocah kecil itu dengan antusias. Dia kembali sibuk dengan gadget untuk melanjutkan game yang sedang berlangsung.
Fina mengurungkan niatnya saat ingin memberikan menu pesanan Elza yang baru saja dia tulis, ketika melihat Aris sudah berdiri di sisi meja persegi itu.
"Assalamualaikum," ucap Aris dengan diiringi senyum yang manis. Dia menatap Elza dan Fina bergantian.
"Waalaikumsalam, silahkan duduk dulu, Kang," ucap Fina dengan gugup.
"Hai Kang Aris," sapa Elza setelah Aris duduk di bangku yang berhadapan dengan Fina.
"Halo anak ganteng." Aris mengembangkan senyum tipis.
"Kang, silahkan pilih menunya dulu, sekalian mau saya pesankan sama punyanya Elza." Fina memberikan buku menu yang ada di sana kepada Aris.
"Sebaiknya kamu saja yang pesan karena aku tidak seberapa paham dengan ragam dari seblak ini. Apapun yang kamu pesan, aku pasti suka," ucap Aris dengan senyum yang sangat manis hingga membuat Fina menjadi salah tingkah.
Tatapan mata pemuda tampan itu tak lepas dari sosok yang sedang membaca buku menu itu. Ada debaran hati yang tak mampu diartikan olehnya. Satu hal yang pasti, dia ingin menikmati waktu yang sedang dia jalani saat ini, karena kesempatan ini mungkin saja tidak bisa datang untuk yang kedua kali. Fina terlalu sulit untuk diajak bertemu dan Aris sudah mencoba beberapa kali.
Hingga beberapa puluh menit kemudian, satu porsi baso aci dengan tambahan jamur enoki, dua porsi seblak seafood dengan topping baso sapi telah tersedia di meja persegi itu. Tiga gelas es jeruk menemani mereka di tengah panasnya cuaca saat ini. Elza beberapa kali memperhatikan gerak-gerik Aris seperti yang sudah diperintahkan ayahnya. Dia belum menghubungi Benny karena belum ada pembicaraan di antara Fina dan Aris.
"Monggo, Kang. Seblaknya minta dimakan itu, jangan dibiarkan saja. Kalau dingin nanti gak enak loh," ucap Fina sambil menatap Aris sekilas. Dia merasa tidak nyaman karena Aris terus menatapnya dengan senyum yang sangat manis.
"Iya, aku sampai lupa dengan seblaknya, karena di depanku ada bidadari cantik."
Rayuan receh yang baru saja diucapkan oleh Aris nyatanya semakin membuat Fina menjadi salah tingkah. Hidungnya kembang kempis serta rona merah terlihat jelas di pipi mulus itu. Fina tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi ini, karena Aris adalah pria pertama yang mampu membuatnya tersipu malu.
"Aku sepertinya harus menelfon papa sekarang. Kang Aris udah nyebut mbak Fina seperti bidadari!" batin Elza setelah mendengar kata-kata manis yang disampikan oleh Aris.
Bocah kecil itu meletakkan sendoknya dan dia menyentuh ponsel untuk menghubungi kontak Benny yang ada di sana. Sesekali dia menatap Fina untuk memastikan jika pengasuhnya itu tidak melihat atas apa yang dia lakukan. Tak lama panggilan pun tersambung meski kedua sejoli itu masih sibuk menikmati seblak masing-masing.
"El, ponselnya diletakkan dulu. Makanannya dihabiskan dan setelah itu bisa main game lagi. Mau Mbak suapin gak?" tanya Fina seraya menatap Elza.
"Aku bisa makan sendiri, Mbak," tolak bocah kecil itu.
"Kang Aris kan udah gede. Bisa makan sendiri kan," jawab Fina dengan diiringi senyum yang sangat manis.
Senyum manis dari keduanya menemani makan siang itu. Rasa pedas yang merupakan ciri khas makanan dari Sunda itu, sepertinya tidak terasa karena terpengaruh rasa manis dari sikap kedua sejoli itu. Hingga beberapa menit kemudian, ketiganya telah selesai menghabiskan makanan masing-masing.
"Fin, aku mau nanya sesuatu sama kamu," ucap Aris setelah membersihkan ujung bibirnya dengan tissu.
"Silahkan saja, Kang." Fina menatap Aris dengan lekat siapa tahu ini adalah pertanyaan penting mengenai Elza.
Aris tak segera mengucapkan pertanyaannya, dia masih merangkai kata-kata yang tepat untuk gadis cantik yang ada di hadapannya. "Apakah kamu sudah punya pacar? Atau mungkin punya pandangan kepada seorang pria?" tanya Aris tanpa melepaskan pandangan dari wajah Fina.
Fina terkesiap setelah mendengar pertanyaan itu. Tatapannya beralih ke arah lain karena tidak sanggup untuk melihat sorot mata penuh rasa dari pelatih Elza itu. "Saya tidak punya pacar, Kang. Saya pun tidak punya niat untuk pacaran." Fina menjawab pertanyaan itu dengan tegas setelah mengalihkan pandangannya lagi ke arah Aris.
"Kenapa begitu?" tanya pemuda itu lagi.
"Selain karena agama tidak memperbolehkan hubungan tersebut, saya pun tidak mau menjalani sebuah hubungan sia-sia yang bisa menguras pikiran, perasaan dan waktu saya. Banyak beban keluarga yang harus saya pikirkan, jadi untuk masalah pasangan, saya pasrah kepada Allah," jelas Fina seraya menatap Aris.
"Lalu bagaimana jika aku suka denganmu dan ingin mengenal kamu lebih jauh lagi?" tanya Aris tanpa melepaskan pandangannya dari Fina. Sepertinya pemuda yang menjadi atlet bela diri itu serius dengan ucapannya.
Tentu Fina terkejut dengan pengakuan dari Aris. Dia tidak pernah menyangka jika Aris memiliki perasaan itu untuknya. Fina menggerakkan bola matanya ke kiri dan ke kanan saat mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan itu.
"Mengenal saya bukan berarti harus pacaran kan, Kang? Kita bisa menjalin hubungan pertemanan dan kang Aris bisa bertanya apapun tentang saya. Saya hanya akan menjalin hubungan dengan seorang pria dalam ikatan pernikahan. Jika memang Kang Aris menginginkan hubungan sebatas pacaran seperti anak-anak pada umumnya, mohon maaf saya tidak bisa," jelas Fina dengan tegas. Entah dari mana dia mendapatkan keberanian itu. Padahal tidak ada perencanaan sebelumnya.
"Baiklah, jika memang seperti itu yang kamu inginkan, saya setuju. Tolong tunggu aku, Fin. Aku akan menemui orang tuamu setelah aku wisuda pasca sarjana. Aku ingin menyelesaikan S2 ku dulu sebelum memutuskan untuk menikah. Aku hanya ingin kamu tahu, jika aku memiliki perasaan kepadamu." Sikap yang ditunjukkan Aris benar-benar seperti seorang pria sejati. Tanpa banyak janji-janji manis, dia mengatakan niat baiknya kepada Fina.
"Saya tidak bisa menjanjikan apapun kepada Kang Aris, karena urusan jodoh adalah takdir Sang Pencipta. Akan tetapi saya hanya ingin memberi tahu Kang Aris, jika saya pun tertarik dengan Kang Aris," jawab Fina dengan suara yang lirih. Dia tidak berani menatap wajah pemuda manis itu setelah mengungkapkan bagaimana isi hatinya.
Kedua sejoli itu seakan lupa jika ungkapan perasaan mereka didengarkan oleh Elza yang sibuk mengaduk baso aci di dalam mangkuk itu. Meskipun belum paham kemana arah dan tujuan pembicaraan kedua orang dewasa itu, Elza bisa menyimpulkan jika Fina akan menikah dengan Aris. Wajahnya mendadak murung karena takut kehilangan Fina dalam hidupnya.
"Benar kata papa, kalau mbak Fina mau diambil kang Aris. Mereka akan menikah," batin bocah kecil itu dengan tatapan mata yang terlihat kosong. Entah mengapa dia pun sepertinya tidak rela jika Fina dimiliki oleh Aris.
...πΉTo Be Continue πΉ...
...Aduh jadi kesemsem sama kang Aris yang gentle aku tuhπ€π€£...
...π·π·π·π·π·π·...