Pengasuh Adikku Jodohku

Pengasuh Adikku Jodohku
Bab 8: Kutub utara


Bab 8: kutub utara


“Haaa sejak kapan aku jadi kasian pada seseorang,” alex menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.


*****


Alex sudah bersiap-siap untuk datang kekantor pagi ini, baju berkerah dan berjas sudah rapi ditubuhnya yang begitu tegap.


Para asisten nya, sibuk mengemasi dokumen- dokumen penting yang harus ia kerjakan saat sampai di kantor nanti, hal ini sudah biasa terlihat saat pagi telah tiba.


“Tuan dokumen telah saya siap kan,” ucap asisten Alex dari ruangan kerjanya.


“Bagus, ayo pergi,” Alex melangkah menuju lantai bawah, sebelum langkah nya benar-benar pergi, seorang pelayan lelaki berlari menghadang jalannya.


“Mohon maaf tuan,” tutur salah satu bawahan Alex yang sudah menunduk pada tuannya.


“Ada apa?” jawab alex singkat.


“Nyonya besar sedang menunggu tuan diruang tamu,” ucap pengawal itu memberitahu.


'Untuk apa pagi-pagi seperti ini mommy datang menemui ku, apa mommy ingin membawa Una pulang, padahal baru sehari disini'


“Saya akan kesana,” jawab Alex dengan singkat.


Tak butuh waktu lama, alex pergi menghampiri ibunya yang sudah terduduk di sofa.


Dengan langkah yang cepat ia menuruni tangga yang berada dilantai dua, wajah yang masam berubah lembut saat sorot matanya bertemu dengan sang ibu yang juga sedang melihatnya berjalan kearah yang ia tempati.


“Lagi mom,” sapa alex pada sang ibu.


“Pagi juga nak,” Ibu Alex menatap anak nya lekat-lekat dari rambut hingga kaki nya terlihat rapi dengan kemeja putih berjas hitam.


“Apa anak ku ingin pergi kekantor?”


“Ya,” jawab alex singkat.


“Sudah ibu katakan bukan, ibu tidak mengizinkan mu untuk bekerja seminggu ini, ayah mu sangat marah saat tau pekerjaan yang ayah mu tugaskan sangat berantakan, kau terlalu meremehkan orang-orang diluar sana nak, wajar saja jika tugas ini sangat sulit bagimu, karena kau masih cukup muda untuk menggantikan pekerjaan ayahmu.”


“Saya tidak akan mengulangi kesalahan saya, saya akan lebih berhati-hati dalam menjalankan tugas dari ayah, maka dari itu biarkan saya kembali bekerja,” pinta alex menatap wajah ibunya tegas.


“Sayang nya tidak semudah itu, ayah mu sudah mengambil alih perusahaan kantor mu, sepertinya akan sulit membujuk ayah mu yang sedang marah saat ini.”


“Aku tau,” alex memalingkan wajahnya kecewa.


“Sekarang pilihan ada ditangan mu nak, berjuanglah untuk mengambil hati ayahmu, dan berusaha lah untuk tidak melakukan kesalahan lagi,” jelas sang ibu sembari mengelus pipi alex lembut.


“Baik, saya mengerti.”


Alex dan sang ibu yang sedang berada dilantai satu tak menyadari seorang gadis sedang menguping pembicaraan mereka tampak nya semua pembicaraan itu sepenuh nya didengar oleh kayla seorang, walau maksudnya tak jelas. ia tetap memperhatikan keduanya dari arah lantai dua yang menuju kearah tangga.


“Ya aku tak mengerti tentang apa yang sedang mereka bicarakan, tapi seperti nya lelaki dingin itu sangat mendengarkan ibunya, ku pikir dia laki-laki ganas yang tak memiliki perasaan, tidak heran jika dia membiarkan aku tinggal di rumah ini, walau sebagai pelayannya,” Kayla memasang wajah malas.


Kayla merenung sesaat.


“Apa aku melupakan sesuatu, hemm tapi apa ya,” kayla terkejut.


“Astaga aku lupa membangunkan una” kayla bergegas berlari menuju kamar una berada, sesampai nya disana una sudah terbangun dengan boneka kelinci yang sedang ia peluk.


“Kaka kenapa?” tanya una melihat pintu kamarnya yang didorong dengan kasar.


“Ah maafkan kakak, pintu nya jadi terbentur keras.”


“Hem itu, kaka lupa menyampaikan pada una, mulai hari ini kaka akan bekerja sebagai pengasuh una untuk sementara waktu, jadi kaka akan sering bersama una untuk saat ini.”


“Sungguh, waaaahh senang nya, aku bisa bermain sama kaka lagi,” una berlari dan memeluk kayla yang saat itu masih berdiri di pintu.


“Iya kaka juga senang,” kayla membalas pelukan una lembut, walau tak berselang lama, kayla kembali melepaskan pelukan lembutnya.


“Nah sekarang kayla mandi dulu ya, setelah itu sarapan pagi, lalu kita akan main sepuasnya, mau?” ucap kayla dengan senyum cerahnya.


“Baiklah.”


10 menit berlalu...


Kayla sudah selesai memandikan una, pakaian tidurnya sudah diganti dengan pakaian yang lebih cantik dan rapi, sekarang keduanya berjalan menuju meja makan untuk sarapan pagi.


Kayla menggendong una dan mendudukinya di kursi, karena tubuh una yang masih kecil dan lebih pendek dari kursinya, kayla mengharuskan menggendong una saat ia duduk di kursi.


“Nah sekarang una sarapan dulu,” sembari menyodorkan sepiring roti berselai coklat


“Terimakasih kak,” ucap una lalu memakan roti dengan lahapnya.


Oia tadi ibu nya una datang, aku lupa, seharusnya aku memberitahunya terlebih dahulu, apa ibunya tidak ingin menemui una, una sangat manis dan imut, tidak mungkin seorang ibu tidak mengunjunginya hanya karena sibuk.


“Una tadi ad..”


“Apa jam segini masih dikatakan sarapan?” tanya alex yang sudah berada dibelakang nya.


“Astaga, bikin kaget saja,” keluh Kayla lagi-lagi dibikin kaget oleh keberadaan alex.


Alex tak berbicara dan menatap kayla tajam.


“Berhenti menatap ku seperti itu, aku tidak melakukan kesalahan apapun disini, dan berhentilah mengagetkan ku seperti itu, aku bisa struk jika seperti ini terus,” omel kayla tanpa berpikir siapa yang sedang ia marahi.


“Kau sedang memarahi ku, kau tau siapa aku bukan?” ucap alex lagi mencoba menantang omelan kayla.


“Ya aku tau siapa kau, sekarang duduk lah dan aku akan membuat kan sarapan untuk mu TUAN,” kayla menekan katanya diakhir.


“Aku tidak lapar.”


Disisinya dan kemudian mengoleskan selai dan langsung meletakkannya pada hadapan alex.


“Nah selamat makan,” ucap kayla dengan senyuman diakhir.


“Apa telinga mu tuli, sudah ku bilang aku tidak lapar,” Alex menatap kayla dengan tajam namun tatapan itu hanya membuat kayla membalas tatapannya saja, sepertinya sejak menguping percakapan antara ibu dan anak itu, kayla menjadi sedikit berani pada alex.


Dia berpikir bahwa alex tidak sepenuhnya kejam, namun tingkah nya hanya membuat alex kesal.


“Kaka jangan marah, kaka cantik sudah buatkan sarapan, ayo makan kan,” Una menarik pelan jas baju alex mencoba membujuk nya agar tidak marah lagi.


“Haaa...” Alex berdeham sesaat. “Pergilah,” perintah Alex pada kayla yang berdiri disisi meja.


“Baik tuan,” kayla menunduk dan pergi dari hadapan alex.


Si kutub utara galak banget, padahal tadi sama ibunya ngomong sopan tegas tapi pelan, sama aku kaya nada doo... semuanya, padahal tadi cuman mau ngetes sifat baiknya aja malah kaya gini.


“Hee mau kemana kau,” panggil alex lagi dari meja makan.


“Tadi disuruh pergi.”