
Bab 16
“Kau benar, aku harap kau bisa diam dan menyembunyikan apapun yang kau lihat hari ini, jangan biarkan orang lain selain mu tau, aku tau kau sudah melihat banyak ruangan didalam sana, dan tentunya kau juga sudah melihatnya bukan, kau memang penakut, tapi juga memiliki tingkat penasaran yang tinggi, jadi jangan bersikap seolah-olah kau tak tau apa apa.”
Kayla menunduk sesaat setelah alex mengatakan hal itu.
Kayla bingung harus memasang wajah seperti apa, ada rasa takut dihatinya, namun juga ada rasa ingin tahu yang tinggi, saat alex berpisah dengannya, kayla sempat melihat dan membaca beberapa berkas dan buku-buku yang terpajang di rak buku
Itu pun sebelum melihat kotak bersenjata itu, banyak berkas didalamnya hanya berisi kasus kejahatan dan juga pelaporan keuangan yang menurun di setiap tahunya, kayla memang tak mengerti isi sebagian dari dokumennya, namun ia paham beberapa dokumen kertas yang ia baca mampu ia simpulkan bahwa semua berkas-berkas itu memiliki pengaruh besar dengan rungan bawah tanah ini.
Terutama bau anyir yang terus menusuk hidungnya, aneh jika ruangan ini sangat dipenuhi aroma darah, padahal setetes darah pun tak terlihat dimana mu, kecuali senjata yang berada dikotak persegi itu, dan itu pun hanya seujung bilah pisaunya yang sudah mengering.
Dia memang menyadari banyak ruangan yang tertutup didalam sana, walau penasaran, kayla tetap takut untuk membukanya, apalagi melihat hal baru yang berada didalamnya. Saat menuruni tangga saja kakinya terus bergetar, bagaimana caranya ia harus melihat sesuatu yang lebih menyeramkan lagi dari pada ini.
Kayla mengembuskan nafasnya sesaat.
“Saya mengerti tuan, saya akan menjaga rahasia ini dengan baik. Dan jika boleh saya memberi saran. sebaiknya tuan memperbaiki terlebih dahulu saklar lampu dan lampu neon nya juga, karena terlalu lama, lampunya mungkin sudah rusak dan harus diganti, akan sangat sulit jika tuan hanya mengandalkan senter yang pencahayaannya tidak seberapa ini,” ucap kayla sembari menatap wajah alex yang masih mendengarkan penjelasannya.
“Baiklah, saya mengerti, terimakasih sudah membantu saya hari ini, saya cukup terbantu karena kau juga tidak terlalu merepotkan saat didalam sana, saya akan memanggil mu lagi jika ada sesuatu yang saya butuhkan jangan khawatir, saya tidak akan meminta mu masuk untuk ketiga kalinya. Kau boleh pergi,” jawab alex dengan nada yang sedikit melembutkan.
“Terimakasih tuan, saya permisi,” kayla menunduk kemudian pergi dari ruangan itu.
*****
Kayla kembali keruangan tom untuk mengambil una lagi, saat sampai di mulut pintu, kayla mengetuk pintu dan kemudian memutar kenop pintunya dan mask dengan bersegera, kayla melirik aktifitas yang sedang mereka lakukan, ia sempat tertawa kecil saat tau bahwa tom menjadi boneka bermain una
Lihat saja wajahnya sudah berubah gak biru dan kuning, una sedang merias wajah tom dengan mainan makeup nya, terlihat di wajah tom tak ada reaksi apa-apa selain wajah datar nya yang terus terpasang, kayla menyadari raut tak sukanya namun apa dayanya, tuan kecil nya ini sedang bermain bersama tidak mungkin ia akan menolak.
“Una ayo main sama kaka saja, biarkan paman tom untuk bekerja lagi,” ucap kayla masih berdiri di pintu yang terbuka.
“Eh kaka sudah kembali, una mainan nya sama kak kayla saja, paman tom una pergi dulu, nah ini cermin buat paman, paman terlihat cantik,” ucap una sembari menyodorkan cermin kecil untuk tom pegang.
“Terimakasih.”
Tom terlihat begitu lemas saat menerima cermin kecil dari tangan mungil una, tom tersenyum pahit, gairah hidupnya sudah tak tampak lagi diwajahnya, melihat semua hal yang terjadi pada tom membuat siapapun ingin tertawa, sayangnya hal itu tidak mungkin terjadi, bagaimana bisa tertawa didepan tom menghina nya saja sudah membuat kesalahan besar jika ingin berurusan dengan kematian.
Bagaimana pun juga, tom adalah asisten alex, dia juga mampu dikatakan tangan kanan kepercayaan alex, dari apa yang didengar, tom dan alex masih memiliki hubungan kekeluargaan, mereka adalah sepasang adik kaka sepupu dari sang ibu, itu sebabnya mereka sangat dekat.
Una bangun dari duduknya dan bergegas berlari menuju tempat kayla berdiri, dengan rasa bahagia yang ikut senang melihat una tersenyum, kayla menggendong bocah kecil itu dan bergegas keluar menghindari tatapan tom yang sudah menyadari tawa kecil yang melintas di wajah nya.
****
Tuk...
Tuk...
Seseorang mengetuk pintu dengan pelan namun terdengar oleh orang di dalamnya, saat mendengar alex mempersilakan masuk, kenop pintunya berputar dan menampakan seseorang yang berada disebelahnya
.
“Mohon maaf tuan, jika saya menggangu kesibukan tuan, saya ingin memberikan surat undangan ini pada tuan,” sambil menyodorkan secarik kertas yang masih terkemas rapi di amplop putihnya.
“Berikan,” jawabnya singkat.
Alex merobek amplop dengan pelan diujung kertasnya, kemudian mengambil isi bagian dalam dan membukanya, ia berdehem sesaat setelah membaca habis semua tulisan yang berada didalam sana, alex melihat pelayan itu lagi yang masih senantiasa berdiri disisi mejanya.
Alex melambaikan tangannya memberi isyrat untuk keluar dari ruangannya, pelayan itu menunduk dan pergi sembari menutup pintu nya lagi.
Alex menghempaskan secarik kertas itu dengan kasar di mejanya, raut wajahnya berubah menjadi kesal, tak lama kemudian tom masuk tampa mengetuk pintunya lagi, alex tak memperhatikan bahwa seseorang telah masuk ke ruangannya, ia menyadari bahwa asistennya lah yang masuk kedalam ruangan ini.
Alex sudah terbiasa jika tom tidak mengetuk terlebih dahulu pintunya sebelum ia memasuki ruangan, hal ini sudah biasa sejak ia masih kecil, tom sering mengunjungi rumahnya, jadi merek bersahabat sejak kecil, berhubung usianya juga tak jauh berbeda, itu membuat keduanya tampa lebih akram dan mengerti dalam segala hal.
“Mengapa wajah mu terlihat kesal, apa ada masalah baru lagi, kalo ada biarkan aku saja yang mengerjakan jika kau lelah,” tanya tam sembari duduk di kursi lainnya yang berada tak jauh dari meja.
“Lihat lah undangan ini,” alex melempar secarik kertas undangan pada tom yang berada di seberang meja, tom kemudian mengambil dan membacanya sejenak.
“Oh rupanya undangan pelelangan, ada apa? Ini bukan kali pertama kau mendapatkan undangan seperti ini, mengapa wajahmu sekesal itu?, ayolah, kita hanya datang dan membeli barang yang dilelangkan, dan kemudian menjualnya kembali pada orang-orang kaya seperti biasa yang kita lakukan,” jawab tom dengan santainya
Acara pelelangan adalah suatu acara yang sering diadakan oleh orang-orang penting dan pengusaha kaya raya, biasanya pelelangan ini diadakan secara besar-besaran namun tersembunyi dari kalangan masyarakat, berhubung pelelangan ini menjual barang-barang langka dan sangat tidak manusiawi, itu menjadi poin utama para penjual lelangan agar berjaga-jaga dalam menjual barangnya.
“Kau saja yang pergi, aku malas berurusan dengan gadis itu lagi, dia membuatku sangat pusing, lihat betapa dia membuang uang ku begitu banyak saat di pelelangan, dia membeli patung aneh , perhiasan, bahkan hewan yang tak jelas sekalipun ia membelinya dengan harga yang tinggi, benar-benar membuatku muak!” umpat alex menghembus kesal.