Pengasuh Adikku Jodohku

Pengasuh Adikku Jodohku
Bab 10


Bab 10


“Ayo kita masuk dan makan didalam,” pinta alex sembari mengendong una masuk kedalam ruangan.


Saat masuk kedalam rumah, alex memangil para pelayan yang bekerja dirumahnya untuk segera menyiapkan makan siang, para pelayan yang mendengar perintah dari tuan nya bersegera ke dapur untuk menyiapkan makanan di meja makan.


Una yang saat itu digendong alex. Di dudukan di kursi, sambil menunggu makanan siap, una meminta untuk dipanggilkan kayla agar menyuapi nya makan.


“Kaka akan menyuapi mu makan, jadi tak perlu memanggil kayla untuk menyuapi una makan,” ucap Alex sedikit menolak permintaan kayla.


“Tidak, aku ingin ka kayla yang menyuapi una makan,” pinta una lagi mencoba merengek.


“Baiklah, kaka akan memangil nya, tunggu sebentar ya....”


Alex berjalan menyusuri tangga dan pergi menuju ruang kerjanya, saat sebelum bermain bersama una, alex memintanya untuk membersihkan rung kerjanya, melihat kayla tidak memiliki pekerjaan selain menjaga una.


Dia sengaja untuk membuat kayla sibuk selagi alex bersama una.


Saat sampai di pintu, ia sempat terdiam sesaat. ruangan kerja nya terlihat rapi, semua buku yang berada dimeja, sudah tertata rapi di rak buku. Namun penempatan kursi dan mejanya sudah diubah oleh kayla.


Awalnya meja dan kursi ia letakan sejajar dan menghadap kearah pintu, dengan membelakangi jendela, tapi sekarang yang ia lihat, kursi dan juga mejanya ia ubah menjadi mengarah ke samping agar bisa terlihat jendelanya.


“Apa yang kau lakukan dengan ruang kerja ku!!” teriak alex pada kayla yang sedang terduduk dilantai sembari membelakanginya.


“Ah tuan sudah datang, apa waku bermainnya sudah selesai, saya baru saja selesai membersihkan rungan tuan, tapi ada yan...”


“Ku bilang apa yang kau lakukan dengan ruangan kerjaku!, kau mengubah kursi dan mejanya, aku tidak menyuruh mu untuk mengubah desain ruang kerja ku tapi aku menyuruh mu untuk membersihkan tempat kerja ku, apa kau tuli!” potong alex dengan memarahi kayla degan nada yang mengancam.


Kayla terdiam, dia tidak berniat untuk mengubah ruangan kerja alex sesuka hatinya, namun ia ingin menunjukan sesuatu hal yang menurutnya belum diketahui oleh alex.


Kayla menunduk dan kemudian berdiri dengan pelannya, hati nya sangat sakit saat mendengar alex membentak nya, kayla memang sudah terbiasa mendengar amarah seperti ini sebelumnya, hanya saja kali ini terasa berbeda.


Orang yang saat ini berdiri dan memarahinya bukan lah bibi atau pun diana, melainkan lelaki yang sudah memberikan tempat tinggal untuk nya.


“Saya minta maaf karena lancang, saya tidak bermaksud untuk mengubah apapun di ruangan kerja tuan, sekali lagi saya mohon maaf tuan, saya akan merapikannya kembali,” ucap kayla masih menunduk.


“Keluarlah dan suapi una makan, jika una bertanya aku tak datang, katakan saja jika aku sedang bekerja, sekarang turun dan temani dia, ini pertama dan terakhir kalinya untuk kau menyentuh barang-barang ku di ruangan kerja ini,” perintah alex dan di balas anggukan oleh kayla yang sudah berjalan keluar rungan.


“Haa” dengusnya dengan amarah yang masih menggebu-gebu.


Alex berjalan menuju meja kerja nya, dengan hati yang berat ia duduk di kursi yang masih belum diatur kembali.


“Ada apa dengan gadis itu, aku menyuruhnya bekerja, ku pikir dia gadis penurut yang akan berkata dengan baik, tapi sekarang malah mengubah rungan kerja ku menjadi berbeda seperti ini,” keluh alex lagi sambil melirik sekeliling ruangannya.


Alex sedikit sensitif mengenai rungan kerja ini, ini adalah ruang kerja papa nya semasa ia tinggal di rumah ini, sejak alex beranjak dewasa, papa alex meminta nya untuk tinggal terpisah bersama keluarga, alex mulai terbiasa dengan kesendirian di rumah kelahirannya tanpa mommy dan papanya.


Walau waktu sudah lama berlarut. Alex tetap tidak pernah mengubah gaya ruangan ini. Hampir semua penempatannya sama dengan ruang kerja ayahnya.


Namun entah mengapa hari ini menjadi hari yang terburuk bagi alex, ruangan yang dulu tak pernah ia ubah sekarang sudah berbeda letak dan juga tempatnya.


Ia sangat marah pada kayla, namun dititik terakhir ia mengingat bahwa, jika bukan karena nya, gadis itu tidak mungkin ada di rumah ini, dan lagi, ia baru dua hari sejak berada dirumahnya, waktu yang cukup singkat bagi seorang pelayan untuk mengetahui peraturan dirumahnya.


“Aku pusing sekali, sebaiknya ku birkan ia pergi dari pada tinggal bersama ku di rumah ini,” keluh alex menelungkup kan wajahnya dimeja.


Dilain sisi...


“Ina mau makan ya, kaka akan suapi una makan , ka alex sedang sibuk di ruangan kerja, jadi biar kaka yang temani una makan ya,” ucap kayla yang sudah duduk di sisi una.


“Apa kaka marah karena una mau kak kayla yang suap kan?” Tanya una dengan wajah menekuk.


“Tidak, bukan seperti itu, kaka alex tiba-tiba ada kerjaan mendesak, katanya kalo sudah selesai bekerja, ka alex akan menemani una bermain lagi,” ucap kayla mencoba berbohong.


“Benarkah, una bisa main lagi sama kaka, kalo begitu una akan menunggu pekerjaan kaka habis biar bisa man lagi.”


“Nah sebelum main, harus makan dulu, ayo buka mulutnya Aaaa...”


Una membuka mulut dan hap satu suapan sudah masuk mulutnya dengan lahap


Kayla memasang wajah bahagia melihat una memakan makanan dengan lahapnya, namun sayang, hati nya masih merasa sakit karena kemarahan alex yang sedari tadi terngiang ngiang dipikirannya.


Aku tidak bermaksud untuk membuat nya marah, hanya saja ada sesuatu di sana yang membuat ku penasaran untuk melihatnya, mungkin seharusnya. Aku tidak menyentuh apapun yang berada di ruangan itu.


10 menit berlalu, una sudah menyelesaikan makanya, sepertinya hari ini una sangat lapar, dua piring ia habiskan tampa menyisakan makanan.


Biasanya anak seusia una sangat malas dan jarang memakan sayur dan daging, tapi una tidak menyisakan makanan walau kayla memilih makanan yang bahkan ia tidak tau una akan memakan nya atau tidak, una tidak pemilih soal makanan, dia bahkan memakannya dengan lahap tanpa mengeluh atau memuntahkannya kembali.


“Una hebat sekali, makan nya sampai habis, nah Karena una sudah selesai makan, ayo kita berjalan dulu di taman belakang.”


“Hmmm, Kenapa harus berjalan di taman belakang?”


“Una harus menurunkan makanannya terlebih dahulu, setelah itu baru boleh tidur, una tidak boleh tidur sesudah makan, nanti perutnya buncit loh,” ucap kayla menjelaskan.


“Sungguh? Kalo begitu una akan jalan-jalan dulu baru tidur siang.”


“Nah pinter. Ayo kita ke taman belakang.”


“Ayo.”