
Bab 6:Mengijinkan tinggal
“Di mana koper ku?” tanya kayla lagi.
“Koper apa?” tanya alex ikut bingung dengan pertanyaan kayla.
“Koper yang ku letakan ditaman, aku meletakkannya disamping kursi taman,” jelas kayla dengan wajah yang cemas.
“Itu urusan mu, aku tak tau menahu dengan koper mu, pergilah, jangan membuat ku pusing!”
“Hey! mau kemana, ambilkan koper itu untuk ku, kau yang menyeret ku datang kemari kau yang harus bertanggung jawab, aku tidak mungkin berada disini jika bukan karena mu, jadi bertanggung jawab lah dengan barang yang kau hilangkan!”
“Atas hak apa kau menyuruh ku seperti itu?”
“Ini bukan maslah hak atau bukan tapi ini kesalahan mu, karena kau!. koper ku hilang,” Kayla terus menarik- narik baju alex sembari merengek bagaikan anak kecil yang meminta uang jajan.
Alex memasang wajah kesal nya, entah kenapa hari ini dia terus berurusan dengan wanita, pertama ibu nya dan sekarang wanita ini.
Bagaimana pun alex memang salah dalam hal ini, menyeret seorang wanita ke pafilumnya tanpa menanyakan persoalannya terlebih dahulu, kemudian menyekap dan mengikat nya, dan sekarang membiarkan pulang tanpa unsur yang jelas sungguh kronologi yang sulit dimengerti.
“Pengawal carikan koper wanita ini yang tertinggal di taman,” perintah Alex pada bawahannya yang berjaga diluar ruangan.
“Baik tuan,” ucap para pengawal itu patuh dan kemudian bergegas pergi meninggalkan tuan bersama gadis asing itu di ruangannya.
Alex melirik kearah kayla yang berada disampingnya.
“Sudah kan, sekarang diam dan tunggu saja barang mu datang,” Alex pergi setelah mengatakan hal itu kepada kayla.
“Pria yang aneh.”
*****
Jam sudah menunjuk pukul 18:27.
Sudah terlalu lama kayla menunggu kopernya kembali, entah berapa lama lagi ia harus menunggu, hari sudah gelap, kayla sudah berada di ruangan itu sekitar jam 12 siang hingga menjelang malam, namun lelaki itu tidak mengembalikan kopernya hingga saat ini.
“Di mana bos mu,” tanya kayla yang sudah menghampiri pengawal yang berjaga di pintu.
“Sepertinya tuan berada diruang kerjanya,” jawab sang pengawal sambil menoleh kearah kayla.
“Bisa mengantar kan ku kesana?”
“Baiklah, mari ikut saya nona.”
Kayla berjalan mengikuti pengawal yang sedang menunjukan arah kepadanya, lorong demi lorong kayla lalui, dari ruangan-ruangan yang ia lalui, ia terus mengamati dekorasi yang belum pernah ia lihat sebelum nya.
Dari seni patung, pahatan kayu, bingkai lukisan terkenal, dan juga guci-guci antik yang menghiasi tiap ruangan membuat takjub siapa pun yang melihatnya.
‘Apakah lelaki itu seorang anak raja, aku sampai tak mengerti barang- barang yang berseni tinggi ini menghiasi rumah nya, ku pikir orang seperti dia hanya akan mengoleksi mayat-mayat hidup saja.’
“Disini ruangan nya nona,” jelas pengawal itu menunjukkan pintu yang tertutup di depannya.
“Terimakasih, kau sangat membantu.”
“Saya permisi nona,” lelaki itu kemudian pergi meninggal kayla seorang diri di pintu itu.
Tok....
Tok....
Tok...
"Masuklah,” jawab lelaki itu dari dalam ruangan setelah mendengar bunyi ketukan.
“Dimana koper ku?” Kayla langsung bertanya koper yang alex janjikan untuk mengembalikan koper itu kepadanya.
“Kau lagi,” Alex menatapnya dingin.
“Haaaaa,” dengusnya. “Apa pengawal ku belum memberikan koper mu dari tadi?” tanya alex lagi memastikan.
“Jika sudah, aku tidak mungkin mendatangi ruangan kerja mu untuk menanyakan perihal ini.”
Alex mengacuhkan perkataan kayla, ia malah menatap ponselnya dan kemudian mengubungi seseorang lewat ponselnya.
Kayla mengepal tangannya kuat, bagaimana tidak, seseorang sedang berbicara dengannya, walau tak melihat lawan bicaranya dengan baik setidaknya dengarkan apa yang ia katakana hingga usai, ia malah mengabaikan pembicaraan dan malah melirik sebuah ponsel, bukan kah cukup mengesalkan.
“Halo bos.”
“Dimana koper itu?”
“Maaf bos sebelumnya, tapi kami tidak menemukan koper apapun di taman ini, sepertinya seseorang sudah mengambilnya,” jelas sang pengawal Alex melirik kayla.
“Koper mu hilang,” jawab alex dengan santainya.
“APA! kenapa bisa hilang, carikan sampai dapat, itu koper milik ku, dan ada barang peninggalan kedua orang tua ku di sana,” teriak kayla tak terima.
“Mengapa kau berani sekali berteriak kepada ku! Haa! Apa kau tak takut pada ku!”
“Ini semua salah mu, kalau bukan karena mu siapa lagi.”
Alex melangkah menghadap kayla yang kini hanya tersisa jarak satu jengkal dari tubuh mereka.
“Aku tak pernah kasar sebelumnya dengan wanita, tapi jika kau menginginkan cara kasar,” Alex memeluk pinggang kayla kasar.
“Aku takan ragu melakukannya.”
“Lepaskan aku,” Kayla mengguncang tubuhnya keras, namun tatapan alex yang begitu dingin membuat kayla sempat terdiam sesaat Alex mendorong kayla kearah pintu.
“Pergi dari sini, aku tak ingin melihat wajah mu.”
“Aku tak bisa pulang taNpa koper itu.”
“Kau bilang barang mendiang kedua orang tua mu berada didalam koper itu, lalu apakah sekarang kau tinggal sendirian? orang tua mu sudah meninggal, setidaknya kau memilki keluarga lain dari orang tuamu,” tanya Alex membelakangi tubuh kayla.
“Aku tinggal bersama bibi ku, tapi sudah tidak lagi.”
“Apa kau kabur?”
“Tidak, itu bukan urusan mu, aku hanya membutuhkan koper itu, lalu aku akan pergi dari sini setelah mendapatkannya. Dan lagi, semua barang-barang ku ada disitu, dompet dan pakaianku semua ada disitu, jika aku pergi tanpa barang bawaan ku, bagaimana aku bisa bertahan hidup,” jelas kayla menunduk malu.
Alex menatap kayla dari ujung rambut hingga kakinya, baju yang lusuh dengan rambut yang diikat, menggambarkan sesosok gadis dewasa yang sangat tak terurus
Alex terdiam sejenak.
‘Ini sungguh merepotkan, wanita yang entah dari mana membuat otak ku sangat kacau hari ini, ya aku tau, bagaimana pun, semua terjadi karena kecerobohan ku.’
“Apa kau tak punya rumah?” tanya Alex mencoba menatap mata kayla.
“Tidak, aku baru ingin mencari kosan untuk tinggal.”
“Kau sungguh membuat ku pusing, baiklah, kau boleh tinggal disini selama pengawal ku mencari koper mu, aku tidak menerima mu sebagai tamu yang di layani oleh bawahan ku, tetapi ku biarkan kau bekerja di sini hingga urusan mu selesai, jangan khawatir aku akan membayar mu walau bekerja atas perintahku.”
“Sungguh, apa itu boleh, saya tidak masalah jika tinggal disini sebagai pelayan, asalkan saya memiliki tempat tinggal sementara, terimakasih tuan sudah mau mengaji saya juga,” Kayla tersenyum saat mendengar jawaban alex.
“Ya, jika koper mu sudah kembali, akan ku biarkan kau pergi, bagaimana pun koper mu hilang karena ketidak kesengajaan ku.”
Alex berjalan melewati kayla dan keluar dari ruangan kerjanya saat setelah kayla mengucapkan terimakasih.
“Antar kan gadis itu ke kamarnya, ia akan bekerja sebagai pengasuh di rumah ini,” perintah Alex pada bawahannya yang berjaga di sisi pintu.
“Baik tuan.”