Menikah Saja Dengan Ku

Menikah Saja Dengan Ku
Chapter 42


" Siang " Sapa shacsya pada ART nya yang sedang bersantai dan bercengkrama, ketika mendengar suara shacsya langsung kompak berdiri.


" Ehh duduk aja nggak apa, santai aja si sama aku " Ucap shacsya lalu mengambil kursi di sisi yang kosong.


" Nyonya perlu sesuatu ? " tanya Bi Inah.


" Enggak, mau tanya aja biasanya mas Khev makan siang di kantor apa di rumah ? "


" Kantor nyonya "


" Oh oke, kalian mau makan siang apa ini ? Saya mau masak "


" Sarapan tadi pagi uenak sekali nyonya " Ucap pujo sambil mengacungkan dua jempol nya.


" Mang pujo bisa aja, bi inah bi sumi dan bi surti bantu saya masak yok. Tau kalau yang lain udah free trus mau masak bareng boleh lah ayo " Ajak shacsya pada ART yang lain yang sedari tadi hanya diam, mungkin masih cangung.


Khev sengaja memboyong semua ART yang ada di Mansion lamanya, karena selama ini Audi tidak cukup waktu untuk mengurus urusan rumah tangga jadi semua pakai ART tapi ternyata istrinya ini beda dia mau terjun langsung mengurusi urusan rumah.


" Wah boleh kita ikutan masak nyonya ? " Salah seorang ART yang masih cukup muda dengan senyuman manisnya itu memastikan kembali apa yang dia dengar.


" Iyalah ayo, eh kamu sepertinya masih sangat muda "


" Iya Nyonya saya lulus SMA langsung kerja disini "


" Ini ponakan saya nyonya " Ucap surti sembari menundukkan kepala.


" Kenapa nggak lanjut sekolah ? " tanya shacsya pada keponakan surti itu.


" Nggak ada biaya nyonya " Jawabnya lirih.


" Saya biayain kuliah mau ? " Gadis itu langsung menatap kearah surti.


" Gimana mau nggak ? " Ulang shacsya.


" Gimana ya nyonya, saya baru kerja disini sebulan " Ucap gadis itu.


" Nama kamu siapa ? "


" Atasya nyonya "


" Saya manggilnya tasya saja boleh ? " Gadis itu mengangguk " Nanti urusan mas Khev biar saya aja, kalau kamu mau. Mulai besok bantuin saya aja di butik, eh tapi kamu mau kuliah ambil jurusan apa ? "


" Apa ya nyonya ? "


" Ya sukanya apa ? " Shacsya sambil memotong sayuran dan bumbu.


" Apa nggak apa nyonya ? " Surti memastikan pilihan keponakannya menerima tawaran shacsya nggak akan berpengaruh dengan pekerjaan dia.


" Enggak ada ketentuan nyonya, namun kalau kita ada keperluan minta izin libur sama tuan pasti di kasih "


" Bi inah, mulai hari ini setiap dua Minggu sekali kasih mereka libur sehari ya terserah mereka mau kemana aja boleh "


" Baik nyonya "


Shacsya melihat wajah sumringah dari ART yang sedang berada di dapur bersama dia.


" Gimana tasya ? "


" Gimana bulek ? " Tasya memastikan kepada perempuan yang membawanya bekerja.


" Kalau kamu mau kuliah dan nyonya kasih izin bulek dukung nduk "


" Desainer saja boleh nggak nyonya ? "


" Boleh banget, besok biar team saya kesini buat bantuin kamu daftar kuliah ya "


Tasya menganggukkan kepalan dengan mantab nya " Terimakasih kasih nyonya "


Shacsya tersenyum lalu mengangguk, ada kebahagiaan tersendiri jika dia bisa bermanfaat untuk orang lain. Shacsya untuk biaya kuliah tasya dia tidak akan meminta pada suaminya melainkan dia akan mengambil dari uang keluarganya.


" Selamat yo nduk, kuliah yang tekun "


" Baik bulek "


Semua nya memberikan selamat pada Atasya karena mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan sekolahnya, mereka turut berbahagia.


Saat mereka asyik mengobrol dan memasak tiba-tiba " Neysha Malika " Suara Khev Bawika menggelegar memanggil sang istri karena dia sebenarnya sudah mencoba mencari ke kamar namun tidak ada.


" Nyonya, itu dicari tuan " Bi sumi berlari tergopoh-gopoh mendekati shacsya yang sedang mencuci buah.


" Oh iya makasi bi " Cucian buah milik shacsya diambil alih oleh sumi dan perempuan itu berjalan kearah ruang keluarga.


" Apaaan si mas " Guman shacsya ketika mendapati suaminya sedang menyandarkan kepalanya pada sofa dan memijat pangkal hidungnya.


" Saya mau makan siang di rumah "


" Oh baik, sebentar lagi selesai masaknya. Mau minum jus atau makan buah dulu sebelum makan ? "


" Jus strawberry ya "


" Oke " Shacsya kembali masuk ke dalam dapur untuk membuatkan jus strawberry.


Shacsya menemani suaminya makan di ruang makan, karena anak gadisnya sedang sekolah jadi hanya mereka berdua yang berada di ruang makan tanpa adanya obrolan.