
Malam ini Lay Calandra terbangun dari mimpinya yang aneh lagi dengan perasaan tak nyaman. Dalam mimpinya, Dukun Lena kembali datang untuk memberikan peringatan tentang bahaya yang mengancam. Lay terus memikirkan pesan itu dan pikirannya dalam pikirannya.
"Cepat pergi dari rumah ini Lay!"
"Nyawamu akan terancam jika Kamu justru bertahan di rumah dinas ini."
Begitulah kira-kira perkataan dukun Lena, yang memberinya peringatan untuk segera meninggalkan rumah dinas Andreas di desa ini. Tapi Lay justru berpikir lain, karena jika dia pergi dari rumah ini, maka Birdella akan lebih leluasa menguasai Andreas yang masih menjadi suaminya.
Dia tahu ada sesuatu yang harus dilakukan untuk melindungi dirinya sendiri dan Felisia, namun dia merasa terjebak dalam dilema. Di satu sisi, dia merasa bertanggung jawab untuk selalu bersama dengan Felisia, terutama karena dia sudah berjanji pada anaknya itu, bahwa dia akan selalu ada di samping Felisia apapun yang terjadi.
Di sisi lain, pesan-pesan yang disampaikan oleh dukun Lena membuatnya khawatir tentang keamanan mereka berdua, dan dia merasa perlu melakukan sesuatu untuk melindungi dirinya dan Felisia.
Lay Calandra terus berpikir dan mempertimbangkan pilihan-pilihan yang bisa dia lakukan. Dia tahu bahwa dia tidak bisa menunda-nunda untuk mengambil tindakan, karena bahaya bisa datang kapan saja. Tapi apa dan seperti apa bahaya itu Lay belum tahu, bahkan berpikir bahwa itu hanyalah pikiran jeleknya saja.
Akhirnya Lay memutuskan untuk berbicara dengan Felisia tentang keinginannya untuk pindah dari rumah ini.
"Mungkin jika Aku bicara dengan Felisia secara terbuka, dia akan mengerti. Tapi bagaimana pendapat anak kecil seperti dia?"
Lay kembali bimbang dan bingung, bagaimana cara dia harus menyampaikan rencana tersebut pada sang anak. Dan jika sampai Andreas tahu, tidak mungkin suaminya itu akan membiarkannya membawa pergi Felisia.
Tapi Lay juga tidak mungkin mengabaikan begitu saja, dengan semua pesan-pesan peringatan yang disampaikan oleh dukun Lena melalui mimpinya.
"Baiklah. Aku akan mencoba memberi tahu Felisia. Semoga saja dia akan mengerti."
Akhirnya Lay Calandra menjelaskan situasi yang dia rasakan dalam mimpinya itu kepada Felisia, dengan sangat jelas dan jujur. Dia berbicara tentang mimpi yang dia alami, dan peringatan Dukun Lena. Dia juga menekankan bahwa dia masih ingin tetap berada di samping Felisia dan memberinya dukungan, tetapi mereka harus mengambil tindakan untuk melindungi diri mereka sendiri.
"Tapi Ma, bagaimana dengan Papa?" tanya Felisia bingung.
Felisia merasa takut dan cemas, jika harus meninggalkan papanya sendirian di rumah ini. Apalagi dengan berbagai macam penjelasan Lay soal kesulitan-kesulitan yang akan mereka hadapi, seandainya tidak pergi dari rumah ini.
"Papa bertugas di rumah sakit Sayang. Tidak mungkin papa meninggalkan pasiennya begitu saja, jadi kita beri tahu saja melalui pesan atau catatan kecil di meja."
Lay Calandra tidak mungkin berbicara terus terang pada Felisia tentang keadaan papanya yang sudah berselingkuh dengan mamanya sendiri. Apalagi Felisia juga belum tahu jika Birdella adalah mama kandungnya.
Tapi Lay tidak sadar masalah yang akan datang ketika Andreas mengetahui tentang rencananya nanti. Semua kekhawatiran Lay Calandra juga tidak ada bukti yang kuat, sehingga tidak mungkin dia membawa felicia pergi dari rumah ini. Andreas akan marah besar, merasa terluka karena Lay akan merebut anaknya dari disisinya. Meskipun pada dasarnya Andreas tahu betul jika Lay Calandra sedang ada pada situasi cemas dan cemburu karena andreas seakan-akan lebih memilih Birdella dibandingkan dengannya.
'Hahhh, tidak peduli dengan Andreas. Dia sudah sangat egois dengan mencampakkan Aku setiap malam dan pergi ke rumah perempuan jahanam itu!'
Lay memaki-maki sendiri dalam hati, karena tidak mungkin dia berkata sebenarnya di depan Felisia saat ini. Dia masih berharap supaya anaknya ini bisa tumbuh lebih baik bersama dengannya, dibandingkan harus bersama dengan orang tuanya.
Lay Calandra merasa sedih bahwa dia harus menangani masalah seperti ini sendiri, tetapi dia tetap berusaha untuk mengatasi situasi dengan apa yang sudah dia pikirkan.
"Kamu harus segera memutuskan, mau mengikuti kata hatimu atau kebahagiaanmu."
Dukun Lena kembali memberikan pilihan yang sama-sama sulit untuk Lay putuskan.
*****
Dua hari berlalu, dan Lay bisa berhasil melewati masa-masa sulit itu bersama-sama dengan Felisia. Lay Calandra belajar bahwa kadang-kadang dalam hidup, kita harus mengambil risiko dan tindakan yang sulit untuk melindungi diri kita sendiri dan orang-orang yang kita sayangi. Dia juga belajar bahwa kepercayaan dan komunikasi adalah kunci untuk mengatasi konflik dan kesulitan dalam hubungan.
Lay Calandra dan Felisia menjadi semakin dekat, tanpa memperdulikan keberadaan dan kegiatan Andreas di luar rumah. Lay sendiri tidak pernah memberikan penjelasan kepada Felisia, tentang apa yang dilakukan papanya di luar rumah. Jadi selama ini anak tersebut hanya tahu, bahwa papanya bekerja dan bekerja saja di rumah sakit.
"Ma, Mama..."
"Mama bangun Ma!"
Felisia membangunkan Lay yang sedang mengigau, seakan-akan Lay sedang berbincang dengan seseorang.
Ternyata Lay memang sedang bermimpi sedang bertemu dengan dukun Lena.
Dukun Lena datang memberitahu pada Lay, jika saat ini Andreas bahkan tidak berangkat bekerja beberapa hari, menemani Birdella jalan-jalan keluar kota. Tapi Lay tidak percaya dengan perkataan dukun Lena, meskipun dulu perkataan dukun tersebut ada benarnya.
Dia tidak mau percaya begitu saja, jika tidak ada buktinya. Begitulah selama ini Lay bersikap seperti biasanya, tidak akan mudah terhasut jika dia tidak bisa melihatnya sendiri.
Felisia awalnya merasa takut dan bingung ketika Lay Calandra memaparkan situasi yang dia hadapi, dan itu juga hanya mimpi. Anak tersebut tentu saja bingung, apalagi ini terkait dengan Papanya, karena dia sangat dekat dengan papanya, Andreas, yang tidak mungkin menyakiti hatinya.
Tapi Lay Calandra dengan sabar dan lembut menjelaskan bahwa meskipun dia mencintai Andreas, papanya Felisia. Jadi dia juga tidak mungkin membuat cerita bohong tentang sesuatu yang tidak beres dengan perilaku papanya selama ini.
"Kenapa Mama diam saja?"
"Seharusnya Mama bicara tidak suka dengan Papa Ma," terang Felisia yang bingung dengan keadaan kedua orang tuanya.
"Ya. Seharusnya Mama tahu itu Sayang. Tapi papa selalu menghindari mama."
"Apa Kamu ingin tahu bagaimana keadaan papa dan Mama jika malam hari? Kamu bisa tahu jika tengah malam nanti Sayang."
Lay bukannya bermaksud mempengaruhi sang anak, tapi dia ingin memberikan bukti sendiri pada Felisia, supaya suatu hari nanti jika ada kejadian yang tidak mengenakkan dengan pernikahannya dengan Andreas, tidak akan ada yang menyalahkan dirinya dengan mudahnya.
"Bantu Mama Sayang," pinta Lay pada Felisia, yang akhirnya mengangguk setuju.
Hemmm... kira-kira apa reaksi Andreas dan Birdella jika ketahuan anaknya sendiri ya???