Love Monster

Love Monster
Kesalahan


Hutan yang sebelumnya penuh dengan keganasan dan kebiadaban, kini terlihat damai dan tenang. Namun, aroma yang tersisa di udara masih mengingatkan pada tragedi yang baru saja terjadi. Dalam pikiran, bayangan-bayangan kejahatan masih menghantui, dan rasa tidak aman dan takut masih berada di hatinya Lay.


Namun, jika ada yang mengamati lebih dekat, sebenarnya akan disadari bahwa tindakan alam semesta telah bekerja dengan sempurna untuk memperbaiki keadaan yang ada. Burung-burung pemakan bangkai dengan cekatan menghilangkan bangkai-bangkai yang berserakan di tanah. Dengan upaya mereka, bau busuk yang semula sangat kuat telah berkurang hingga hampir tidak terasa lagi. Kehadiran burung-burung ini memberikan harapan bagi kelangsungan hidup lingkungan hutan, meskipun terjadi kejadian yang mengerikan seperti ini.


Di tengah-tengah hutan terdapat sebuah danau, yang sebelumnya menjadi saksi bisu dari tindakan keji Armaro saat memberikan hukuman pada para pria brengsek tadi. Kini, danau itu terlihat sangat tenang dan damai, seakan tidak terjadi apa-apa.


Airnya yang jernih dan berwarna hijau muda membuatnya terlihat sangat menawan. Namun, jika menyelam lebih dalam ke dalam danau, mungkin saja baru di sadari bahwa terdapat banyak makhluk hidup yang berada di dalamnya. Terumbu karang dan tumbuhan air tumbuh dengan subur di dalam danau, memberikan tempat tinggal bagi banyak jenis ikan dan hewan air lainnya.


Namun, tidak semua makhluk hidup di danau itu aman dan tidak berbahaya. Terdapat beberapa jenis hewan yang dapat membahayakan manusia jika tidak diwaspadai. Oleh karena itu, penting bagi siapa saja untuk memahami ekosistem di dalam danau dan menjaga keseimbangan alam agar kehidupan di dalamnya tetap terjaga. Tapi tentu saja itu tidak berlaku untuk Lay, yang saat ini sedang berada di dalam ruangan sebuah kamar, yang sebenarnya ada di bawah dasar danau.


Sebenarnya banyak pelajaran yang dapat diambil dari keadaan di hutan dan danau tersebut. Salah satunya adalah betapa pentingnya menjaga keseimbangan alam untuk kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya di planet ini. Kejadian yang terjadi di hutan tadi menunjukkan betapa cepatnya keadaan dapat berubah menjadi buruk jika tidak dijaga dengan baik.


"Kamu akan aman di sini Honey. Tidak ada yang akan berani menyakitimu," ujar Armaro, menemani Lay yang masih tertidur pulas.


Tadi, di saat Armaro membawa lain masuk ke dalam danau, semua luka-luka yang ada di tubuhnya Lay tiba-tiba menghilang. Armaro juga menciumi seluruh tubuhnya Lay, untuk menghilangkan jejak tangan-tangan para lelaki yang tadi sempat menyentuh kekasihnya itu.


"Eghhh..."


Lay mulai sadar dari pingsannya. Dia merasakan tubuhnya tidak lagi ngilu dan dan lengket seperti keadaannya yang tadi, saat dia tidak sadarkan diri akibat ulah para lelaki b3j4t yang mengejarnya.


"Sayang. Kamu akan tetap aman di sini. Kamu beristirahatlah, Aku akan menjagamu." Armaro berita memberikan ketenangan padanya.


"Aku... Aku di mana?" tanya Lay, dengan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar.


"Apa Kamu lupa? ini kamarmu Sayang. Kamar yang Kamu tinggalkan kemarin."


Lay mengerutkan keningnya, kemudian tiba-tiba menangis karena ingat dengan kejadian di rumah. Dia ingat bagaimana keadaan yang sebenarnya terjadi pada Andreas, Birdella dan Felisia. Ini sungguh menyakiti dan mengecewakan hatinya.


Cup


"Tenanglah. Kamu akan baik-baik saja bersamaku."


Armaro memeluk tubuh Lay, menciuminya dengan lembut. Memberikan ketenangan dan kenyamanan pada Lay Calandra, belahan jiwanya selama ini.


*****


Andreas merasakan kebingungan yang sangat besar. Kepanikan yang melanda dalam rumah dinasnya tidak kunjung hilang, setelah mengetahui bahwa istrinya, Birdella, mengalami pendarahan dan keguguran setelah tiba di rumah sakit. Andreas merasa seakan-akan dunianya berhenti berputar. Dia tidak tahu harus berbuat apa, bagaimana dia harus bertindak.


Dia merasa hampa dan kesepian tanpa kehadiran istri dan bayi mereka yang telah meninggal, karena saat ini Birdella sedang berada di kamar khusus setelah melakukan kuret.


Andreas merasa seperti dalam kegelapan, di mana tak ada cahaya yang meneranginya. Segala harapan yang dia bangun untuk keluarga kecilnya terlihat runtuh dan hancur. Andreas merasa terluka secara emosional, sehingga tidak bisa menahan tangisnya ketika teringat bayi yang dinantikan bersama.


Andreas merasa kehilangan segalanya, kehilangan kebahagiaan, kehilangan cinta dan kehilangan impian.


Andreas merasa seperti ada lubang besar dalam hatinya, dia merasa kebingungan dan bingung harus berbuat apa. Dia merasa sulit untuk menerima kenyataan bahwa mereka telah kehilangan bayi yang mereka tunggu-tunggu bersama-sama.


Andreas terus berusaha mempertahankan kekuatan dirinya, mencoba untuk meredakan kecemasan dan ketakutan di hatinya. Tetapi itu sangat sulit untuk dilakukan di tengah situasi yang rumit seperti ini. Andreas terus berusaha untuk mencari tahu apa yang terjadi dan apa yang bisa ia lakukan untuk membantu Birdella.


"Aku harus bicara dengan ayah. Jika tidak, dia akan bertanya tentang Lay dan Birdella. Aku tidak akan bisa menjawabnya nanti."


Akhirnya Andreas berencana untuk menghubungi Adhya, ayahnya yang tinggal di kota. Karena selama ini Adhya cukup dekat dengan Lay.


Tut Tut Tut


..."Halo, ada apa Dre?" ...


..."Pa, Andreas minta maaf. Bisakah Papa datang ke rumah sakit tempat Andreas bertugas?" ...


..."Ada apa? apa Lay atau Felisia sakit? Papa akan ke sana sekarang juga!" ...


..."Bukan Pa, tapi..." ...


..."Sudah-sudah! Papa mau bersiap-siap dulu, jadi tunggu Papa!" ...


Klik


Andreas membuang nafas panjang, saat mendengar keputusan papanya, tanpa mau mendengar penjelasan yang terlebih dahulu.


Hari sudah pagi, saat Adhya tiba di rumah sakit tempat Andreas dinas. Dia langsung mencari keberadaan andreas di bagian informasi, agar lebih cepat menemukan keberadaan anak dan cucunya.


"Andreas, apa yang terjadi?"


Andreas sendiri cukup terkejut melihat kedatangan ayahnya yang cepat tiba di rumah sakit ini. Tapi dia harus menceritakan kejadian yang sebenarnya, agar ayahnya tidak salah paham.


"Andreas, ini semua salahmu. Kamu yang memilih Birdella dan sekarang Kamu mengalami masalah ini." Adhya justru menyalahkan anaknya.


"Maaf Yah. Aku sudah berbicara tentang ini dan Lay memilih untuk tetap pergi, meski itu berarti harus menerima perpisahan."


"Tapi tetap saja, jika Kamu tidak memilih Birdella, mungkin situasinya akan berbeda. Kamu harus bertanggung jawab atas semua ini sendiri. Untuk sementara, Felisia biar sama Ayah saja!"


Adhya mengambil keputusan tanpa meminta persetujuan pada Andreas. Dia tidak suka jika Andreas menjadi seorang yang pengecut.


"Andreas tahu itu, Ayah. Aku sangat menyesal atas apa yang telah terjadi pada keluarga kami. Tetapi sekarang yang paling penting adalah fokus pada kesehatan Birdella."


"Yaa, tentu saja. Tapi ingatlah untuk selalu bertanggung jawab atas tindakanmu, baik yang terjadi di masa lalu maupun yang terjadi sekarang." Adhya menasehati anaknya.


"Terima kasih, Yah. Aku tahu bahwa Aku harus bertanggung jawab atas tindakanku," sahut Andreas, meskipun hatinya tetap saja merasa kalut.