
Suasana damai di danau membuat Lay merasakan kebahagiaan dan ketenangan jiwa, tidak lagi banyak memikirkan permasalahannya di dunia manusia bersama dengan Andreas.
Dia mulai berpikir bahwa, dia kemungkinan besar memang tidak cocok untuk berada di dunia manusia apalagi berjodoh dengan suaminya tersebut.
Lay Calandra telah hidup sepanjang hidupnya dengan merasa tidak nyaman di dalam pernikahannya sendiri bersama dengan Andreas, meskipun di awal-awal setia begitu mencintai suaminya itu. Tapi sejak kejadian pagi itu, di mana dia mengetahui perselingkuhan Andreas dengan Birdella, dia selalu merasa seperti ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Lay tidak pernah merasa dia benar-benar cocok dengan manusia biasa lainnya. Namun, dia tidak tahu apa yang salah dalam dirinya sendiri.
Tapi sejak dia bertemu dengan Armaro Baruto, seorang pria yang tampaknya berbeda dari manusia biasa lainnya, karena pada awalnya hanya berupa sosok hitam, dengan aura yang aneh, tapi justru yang membuat Lay merasa tertarik pada dirinya.
Apalagi Armaro selalu bisa datang tepat waktu di mana Lay membutuhkan dirinya.
Sejak saat itu, Lay dan Armaro berbicara selama beberapa saat, dan Lay akhirnya merasa seperti dia menemukan seseorang yang bisa memahami dirinya lebih baik dari siapa pun yang pernah dikenalnya sebelumnya, Lay merasa benar-benar membutuhkan sosok hitam tersebut.
Sekarang Armaro sudah mengungkapkan bahwa dia adalah sejenis vampir monster, dan bahwa dia bisa menjadi sangat lembut dan penuh kasih sayang. Tapi juga bisa menjadi sangat jahat untuk melindungi orang-orang yang dikasihi.
Hal ini membuat Lay merasa lebih nyaman berada di sampingnya. Lay mulai memahami dirinya dengan lebih baik, Armaro membantunya memahami bahwa dia adalah belahan jiwanya. Armaro menjelaskan bahwa sebagai vampir, dia memiliki kemampuan untuk merasakan energi spiritual dalam diri manusia. Armaro merasakan bahwa Lay memiliki energi yang sangat kuat, dan bahwa dia adalah belahan jiwanya.
Awalnya Lay memang sangat terkejut ketika mendengar ini. Dia tidak pernah menduga bahwa dirinya adalah belahan jiwa seorang vampir monster. Namun, di dalam hatinya, Lay merasa seperti semua akhirnya berada di tempat yang benar. Dia merasa seperti telah menemukan potongan yang hilang dari dirinya selama hidupnya.
Armaro membantunya memahami lebih banyak tentang dirinya dan belahan jiwanya. Dia menjelaskan bahwa sebagai belahan jiwa, mereka terhubung dengan cara yang sangat khusus. Mereka bisa merasakan satu sama lain bahkan ketika mereka tidak bersama. Armaro juga menjelaskan bahwa sebagai vampir, dia akan hidup selamanya, dan Lay akan ikut serta dalam petualangan yang tak terbayangkan.
Lay tidak tahu bagaimana menanggapi semuanya. Dia tidak yakin apakah dia siap untuk menjadi bagian dari dunia vampir. Namun, Armaro memberinya waktu untuk memikirkan semuanya.
"Kamu Aku berikan kesempatan sekali lagi untuk berfikir. Tapi Kamu juga harus memikirkan kebahagiaanmu, yang nyatanya tidak bisa Kamu miliki di dunia manusia."
Selama beberapa saat kemudian, Lay terus berbicara dengan Armaro tentang hidup sebagai vampir. Dia belajar tentang kekuatan dan kelemahan mereka, serta tentang bagaimana mereka hidup di dunia manusia. Lay merasa seperti dia mulai memahami semuanya dengan lebih baik.
Lay akhirnya membuat keputusan. Dia akan menerima kenyataan bahwa dia adalah belahan jiwa seorang vampir monster, dan dia akan memulai hidup barunya bersama Armaro di tengah-tengah hutan ini.
Armaro sangat senang mendengar kabar itu. Dia tahu bahwa hidup vampir tidak mudah, dan dia senang memiliki seseorang yang bisa dia percayai dan sayangi di sisinya.
Lay dan Armaro mulai menjelajahi dunia vampir bersama-sama. Mereka mengalami hal-hal yang baru, yang bisa mereka melakukan bersama.
Saat ini, Lay sedang berbaring di sofa kamarnya. Armaro yang baru saja masuk berdiri di dekatnya. Dia menunduk dan memeluk Lay dengan lembut, dan Lay merasa hangat dan aman di dalam pelukannya.
"Armaro, Aku masih terkejut dengan semua ini. Aku tidak pernah berpikir bahwa Aku adalah belahan jiwamu, dengan berakhir hidup di tengah-tengah hutan yang katanya tidak boleh dimasuki oleh manusia."
Armaro Baruto hanya tersenyum saja, mendengar pengakuan dari wanitanya. Dia tidak merasa terkejut sama sekali, karena ini memang kenyataannya.
"Aku tahu, Sayang. Tapi kini kita telah menemukan satu sama lain, dan kita tidak akan pernah terpisahkan lagi." Terang Armaro, dengan mengurai pelukannya.
"Aku merasa sangat bahagia berada di sisimu. Aku merasa seperti menemukan rumahku, jiwaku yang selama ini hilang." Lay mengakui perasaannya sendiri, yang kemarin-kemarin masih diragukan.
Dengan wajah yang terlihat sangat bahagia, Armaro berkata, "Kamu adalah rumahku, Lay. Kamu adalah segalanya bagiku, yang wajib Aku lindungi dan pertahankan."
Lay tersenyum dan mencium Armaro dengan lembut. Dia merasa seperti dia benar-benar dicintai, dan itu membuatnya merasa lebih baik dari sebelumnya.
Armaro menyambut ciuman Lay dengan hangat, membuat keduanya hanyut dalam suasana yang syahdu.
"Aku tidak pernah berpikir, jika Aku akan jatuh cinta dengan monster vampir seperti Kamu." Lay menyatakan perasaannya yang masih merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi padanya saat ini.
"Aku juga tidak pernah berpikir akan jatuh cinta dengan manusia seperti Kamu, Lay. Tapi sekarang Aku tahu bahwa kita telah bersama, dan nyatanya Kamu memang diciptakan untukku. Dan ini adalah jalan berliku yang harus kita lalui sejak dulu, agar bisa kembali bersama-sama."
Keduanya kembali berciuman, sebagai bentuk pernyataan rasa yang ada di dalam hati.
"Tapi Aku takut dengan semua yang akan terjadi, Armaro. Aku takut dengan hidup yang panjang dan tidak bisa mati. Apakah ini memang kenyataan?" tanya Lay ragu dengan umurnya yang sebagai manusia biasa.
"Hahaha... jangan takut, Sayang. Aku akan selalu menjaga dan melindungi Kamu. Dan kita akan melewati semuanya bersama-sama Samapi akhir hayat."
Lay menatap Armaro dengan penuh cinta dan kemudian menciumnya lagi. Dia merasa seperti dia telah menemukan seseorang yang bisa mengisi energi dalam hatinya.
Dengan penuh keyakinan, Lay mengucapkan isi hatinya yang sedang dia rasakan saat ini. "Aku mencintaimu, Armaro Baruto."
"Aku juga mencintaimu, Lay Calandra. Selamanya."
Dengan demikian, keduanya telah sama-sama menyatakan perasaan hatinya. Kini mereka berdua kembali berciuman dalam waktu yang panjang, seakan-akan sedang melampiaskan rasa yang begitu membuncah.
Kini ciuman itu semakin menuntut ke arah yang lebih, membuat Lay Calandra melenguh dan mend3s4h. Tapi hal itu justru membuat Armaro semakin bersemangat untuk bisa membuat Lay terpuaskan.
Di luar danau, cuaca di tengah-tengah hutan cerah. Sinar matahari masuk melalui celah telah daun-daun pepohonan yang rimbun dan tumbuh subur. Angin juga bergerak tenang, memberikan hawa yang segar dan damai untuk seluruh penghuni hutan.