
Keadaan Birdella di rumah sakit jiwa menjadi semakin parah. Dia enggan meminum obat yang diberikan oleh dokter atau perawat karena terus dihantui tekanan dan trauma atas perbuatannya terhadap Lay.
Birdella merasa bersalah karena telah berselingkuh dengan suami Lay, Andreas. Hal ini dipicu oleh ambisinya sendiri, untuk mendapatkan Andreas. Padahal pada waktu dulu, Andreas adalah suami yang sudah dia tinggalkan demi mengejar ilmu yang tidak ada gunanya.
Tapi semua itu tidak lepas dari pengaruh dukun Lena, yang membuat Birdella semakin tidak tenang.
Birdella dan Andreas awalnya adalah rekan kerja di sebuah rumah sakit semasa masih kuliah dulu. Akhirnya mereka memutuskan untuk menikah, karena Andreas mendesak Birdella. Dan pada saat kondisi Birdella sudah mengandung, mau tidak mau harus menyetujui keinginan Andreas. Karena selama mereka berhubungan Andreas lah yang memang mengejar dirinya.
Namun, semuanya berubah ketika Birdella nekad kabur dari rumah, demi mengejar ilmu kedokteran yang akhirnya titik berguna, karena ternyata dia menyimpan rasa bersalah dan cinta yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya pada Andreas.
Sayangnya pada saat dia kembali, Andreas sudah menikah lagi. Hal ini membuat Birdella nekad lagi, dan mulai berselingkuh dengan mantan suaminya, yang sudah menjadi suaminya Lay.
Lay yang merasa sangat terluka dan menganggap Birdella sebagai perusak rumah tangganya, merasa sangat sedih karena Birdella melakukan tindakan yang sangat tidak pantas.
Lay akhirnya memutuskan untuk menjauhkan dirinya sendiri dari keluarga, dan pada saat Birdella berpikir semuanya baik-baik saja, justru memperburuk keadaan hidupnya. Bahkan merusak kondisi mental Birdella sendiri, pasca keguguran. Akhirnya dia merasa sangat bersalah dan tidak bisa melupakan dan memaafkan tindakannya sendiri.
"Maafkan aku, Lay! Aku tahu aku membuat kesalahan besar dan tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Aku sangat ingin bertemu denganmu."
"Lay! aku berharap kamu bisa memaafkan aku!" Birdella berteriak-teriak memanggil Lay, yang tidak mungkin hadir di ruangannya.
Birdella berada di dalam ruangan yang sunyi, hanya suara teriakannya yang memenuhi ruangan itu. Dia terus berteriak tidak jelas dan berbicara kepada Lay dan Andreas, seakan-akan mereka berdua ada di depannya.
Dia terus menerus meminta maaf atas perbuatannya yang sangat tidak pantas. Matanya merah dan bengkak karena menangis selama berjam-jam. Wajahnya memperlihatkan rasa bersalah dan penyesalan yang mendalam.
"Huhuhu... maafkan aku Lay. Huhuhu..."
Dia kemudian berbalik arah, seakan-akan berhadapan dengan Andreas, yang tampak terpaku dan terdiam di sudut ruangan.
"Maafkan aku, Andreas. Aku tahu aku telah menghancurkan segalanya dan tidak bisa mengembalikannya lagi. Aku tidak bisa hidup tanpamu dan aku harap kamu bisa memaafkan aku," ucap Birdella dengan nada yang penuh penyesalan dalam keadaan masih menangis.
Namun, Lay dan Andreas tidak ada di dalam ruangan itu. Mereka tidak bisa mendengar permintaan maaf Birdella. Hanya ada beberapa perawat dan dokter yang berusaha menenangkan Birdella dan memberikan obat-obatan yang dibutuhkan.
Birdella masih terus menangis dan berteriak tidak jelas, tidak bisa menerima kenyataan bahwa perbuatannya telah merusak hubungan Lay dengan Andreas.
Dia tidak tahu jika semua yang dia lakukan, membuatnya terjebak di dalam rumah sakit jiwa. Dia perlu menerima bantuan medis dan dukungan dari orang-orang yang ada di sekitarnya untuk memulihkan keadaannya yang semakin parah.
*****
Andreas duduk di kursi yang disediakan di ruang tunggu rumah sakit jiwa. Dia merasa sedih dan cemas dengan kondisi Birdella yang semakin memburuk setiap harinya.
Hari ini dia datang ke rumah sakit jiwa, atas permintaan dari pihak rumah sakit sendiri. Mereka, dokter yang menangani Birdella, ingin membicarakan kondisi pasien dengan Andreas sebagai penanggung jawab.
Tiba-tiba, seorang dokter datang dan memanggilnya untuk masuk ke ruangannya.
"Dokter Andreas!"
"Oh ya, dokter."
"Dokter, bagaimana kabar Birdella?" tanya Andreas setelah duduk dan mengucapkan terima kasih.
"Dia semakin buruk, dokter Andreas. Maaf, saya ingin berbicara denganmu tentang keadaannya," kata dokter dengan nada serius.
Andreas mengangguk dan menunggu dokter untuk melanjutkan kalimatnya, yang ingin memberikan penjelasan tentang keadaan dan kondisinya Birdella.
"Kami sudah mencoba berbagai macam pengobatan untuk Birdella, tapi dia tidak pernah mau meminum obat dan selalu berteriak-teriak tidak jelas. Setelah beberapa kali evaluasi, kami harus mengatakan bahwa dia sudah tidak punya harapan untuk sembuh," jelas dokter dengan sedih.
Andreas merasa bersalah dan sedih mendengar kabar tersebut. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika harus kehilangan Birdella. Wanita yang sangat dia cintai.
"Apakah ada yang bisa saya lakukan untuk membantu?" tanya Andreas dengan nada sedih.
"Sekarang yang bisa kamu lakukan hanya memberikan dukungan emosional pada Birdella. Kami akan melakukan yang terbaik untuk merawatnya, tapi dia akan membutuhkan bantuanmu untuk bisa sembuh," jawab dokter.
Andreas mengangguk dan berjanji akan memberikan dukungan sebanyak mungkin pada Birdella. Dia tidak bisa mengabaikan wanitanya itu, yang saat ini sedang berjuang melawan masalah kesehatan mentalnya.
"Apa saya bisa menjenguknya?"
"Tentu saja. Mari saya antar," jawab dokter dengan tersenyum senang.
Dokter berharap agar bisa membuat Birdella lebih tenang, dan mau meminum obatnya.
Sekarang Andreas dan dokter tadi meninggalkan ruangan, berjalan menuju ke ruang rawatnya Birdella. Dengan perasaan sedih dan bingung, Andreas mengikuti kemana jalannya dokter tersebut. Dia tidak tahu apa yang bisa dilakukan untuk membantu Birdella, tapi dia yakin bahwa dia akan berada di sampingnya selama masa sulit tersebut. Dia berharap Birdella bisa merasa lebih baik dan sembuh dari kondisinya yang semakin memburuk.
"Lay! hahaha..."
"Aku minta maaf Lay. Tapi aku tidak salah, hahaha..."
Dari luar ruangan Birdella, Andreas sudah bisa mendengar teriakan-teriakan yang diucapkan oleh Birdella.
Mendengar suara Birdella yang keras tapi terdengar menyayat hati, membuat Andreas benar-benar terpuruk. Dia juga ikut menyesali semua perbuatannya yang dulu, yang menyakiti istrinya. Padahal Lay adalah seorang istri yang baik, yang menyayangi anaknya. Dan anaknya itu adalah anaknya Birdella juga.
"Maafkan aku juga Lay," ucap Andreas dengan pelan. Dia juga merasa bersalah.
"Sekarang kamu di mana, Lay? kenapa kamu menghilang seperti ditelan bumi? ke mana aku harus mencarimu, Lay?"
Sebelum Andreas masuk ke dalam ruangan Lay, dia melihat ke arah dokter yang mendampingi dirinya. "Apakah aman, jika saya masuk ke dalam?" tanya Andreas khawatir.
"Aman, karena Birdella kami ikat. Maaf jika kami tidak memberitahu atas tindakan ini. Tapi mengingat keselamatan dirinya, maka kami terpaksa meningkatnya."
"Jika tidak dalam keadaan terikat, Birdella akan menyakiti dirinya sendiri."
Mendengar jawaban dan penjelasan yang diberikan oleh dokter, Andreas benar-benar merasa tidak tenang. Ada rasa yang campur aduk di dalam hatinya, perasaan yang tidak bisa dia ungkapkan.
"Hhh..."