
Kelima pria yang sedang mengeroyok Lay, sudah tidak ada lagi. Yang tersisa dari mereka hanya potongan-potongan baju yang sudah tidak utuh, beberapa tulang dengan darah yang masih merah basah. Menandakan jika kejadian belum lama, dan lima kepala yang masih utuh dengan mata mereka yang melotot sempurna.
Tidak bisa dibayangkan bagaimana dengan rasa ketakutan mereka, melihat sesosok tubuh hitam yang mirip monster dengan giginya yang sangat runcing dan tajam.
Mereka semua tidak ada yang bisa kabur, tapi dari berserakannya tulang-tulang dan baju mereka, peristiwa ini menyebar tidak hanya di dekat Lay. Mungkin mereka udah ada yang berusaha kabur, tapi tidak bisa melarikan diri dengan mudah karena Armaro Baruto tentu saja bisa cepat menangkap mereka.
"Honey..."
"Argh, seharusnya Kamu mendengarkan perkataan dukun Lena."
Armaro Baruto merasa miris dan nyeri di hatinya, melihat bagaimana keadaan belahan jiwanya yang memprihatinkan. Dia segera mendekap tubuh Lay, setelah menutupinya dengan mantel miliknya sendiri.
Lambat laun Lay sadar, dia merasakan sosok hitam yang memeluknya, tapi pada saat yang sama, dia tidak bisa merasakan tubuhnya sendiri. Sepertinya dia mengalami suatu kejadian yang aneh dan tidak biasa, dan hal itu membuatnya merasa takut. Namun, meski begitu, dia tidak merasa takut terhadap sosok hitam yang memeluknya, dia justru lebih mengeratkan pelukannya dan merasakan ketenangan di dalam hatinya.
Lay Calandra memang memiliki kisah yang unik dan penuh misteri. Dari kecil, dia sudah merasakan adanya kekuatan magis yang ada di dalam dirinya, namun sayangnya, dia tidak pernah memperdulikan kekuatan tersebut. Dia hidup layaknya anak-anak manusia pada umumnya, yang ada di sekitar rumahnya.
Sekarang Lay Calandra merasa takut dan bingung, namun pada saat yang sama, dia merasakan adanya kekuatan magis yang kuat yang mengalir melalui tubuhnya. Dia merasa seperti sedang terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Tapi kesadaran dirinya tidak menerima semua itu.
"Ti_dak. Aku... Aku sudah kotor."
Sesaat Lay menyadari, bahwa tubuhnya telah di jamah oleh tangan-tangan para pria yang mengejarnya tadi. Bibirnya juga sudah mereka jamah, jadi dia merasa jika sudah kotor dan tidak layak untuk Armaro atau siapapun itu.
"Tidak Sayang, Honey."
"Mereka semua brengsek! Aku sudah menyingkirkan mereka semua."
Armaro Baruto semakin erat memeluk tubuh Lay, dengan menciumi bibir dan wajahnya, seakan-akan sedang menghapus jejak para pria yang sudah menempel di kulit wajah Lay.
"Aku akan menghapus semua sejak mereka, dan hanya Aku yang akan Kamu ingat untuk selamanya, dengan semua yang akan Kamu rasakan nanti."
Armaro terus berbicara memberikan keyakinan kepada Lay, bahwa dia tidak akan membiarkan Lay merasa kotor.
"Maafkan Aku yang terlambat datang dalam situasi sulit yang Kamu hadapi."
"Sayang, Aku ingin Kamu tahu, bahwa Kamu sangat spesial dan berarti dalam hidupku. Kamulah yang membuat hidupku ada hingga sekarang ini."
Armaro menatap mata lain dengan lembut. Warnanya juga sudah tidak lagi merah seperti tadi, tapi sudah kembali hijau jernih.
"Terima kasih, itu terdengar sangat manis dari mulutmu. Hiks hiks hiks..." Lay kembali bisa terisak, setelah merasa benar-benar telah aman di dalam dekapan Armaro.
Lay masih terbaring di tanah yang sedikit basah, sedangkan Armaro mengangkat bagian tubuh atasnya untuk dia peluk.
"Aku akan selalu perlindunganmu. Aku ingin Kamu melupakan semua kenangan masa lalumu dan fokus pada kita. Aku ingin menjadi prioritasmu dan memberikan segala yang terbaik bagimu."
Dengan lembut, Armaro mencoba meyakinkan hati Lay. Supaya tidak mengambil keputusan yang bodoh seperti kemarin.
"Tapi bagaimana dengan semua kenangan dan pengalaman masa laluku? Aku tidak bisa melupakannya begitu saja. Hiks hiks hiks... ini sangat menjijikkan, memalukan."
Bug bug bug
Lay kembali berkata dengan memukuli tubuhnya sendiri, pada bagian-bagian yang tadi dirasa telah disentuh oleh para pria yang mengejarnya.
"Cukup Sayang. Itu semua berarti apa-apa untukku. Kita bisa membuat kenangan baru bersama-sama, dan Aku yakin bahwa kita dapat menciptakan sesuatu yang lebih baik daripada yang Kamu miliki sebelumnya. Kamu tidak perlu khawatir, Aku akan selalu ada di sampingmu dan mendukungmu."
Dengan sangat hati-hati, Armaro memberikan keyakinan, bahwa bagaimanapun keadaan Lay, dimatanya Lay tetap berarti untuk dirinya.
"Hiks hiks hiks... terima kasih, itu membuatku merasa lebih baik. Aku juga ingin memberikan segalanya untukmu dan menciptakan masa depan yang lebih baik bersama-sama. Tapi, apa aku masih ada kesempatan?"
"Hon, Aku senang mendengarnya. Kita bisa membuat segalanya menjadi mungkin bersama-sama. Kamu adalah orang yang spesial bagiku, jalan hidupku, nafasku setiap waktu. Jadi jangan pernah merasa rendah diri." tegas Armaro mengingatkan Lay.
Ramalan dukun Lena akhirnya membuat Lay semakin yakin, bahwa Armaro adalah sosok yang benar-benar ada dan untuknya.
Lay yakin bahwa dia dan Armaro adalah belahan jiwa yang sudah ditakdirkan untuk bersama-sama. Dia percaya bahwa semua rintangan dan ujian yang mereka hadapi hanyalah bagian dari perjalanan mereka untuk bersatu. Meskipun dia merasa takut dan bingung pada saat itu, dia yakin bahwa semua hal itu akan berakhir dengan bahagia bersama Armaro.
Dalam situasi yang sulit seperti ini, Lay menemukan kekuatan dan kepercayaan diri yang besar dari cinta yang dia rasakan terhadap Armaro. Dia merasa bahwa cinta mereka adalah alasan utama mengapa dia harus bertahan dan menghadapi semua rintangan yang ada. Meskipun dia merasa takut dan bingung pada awalnya, cinta yang dimilikinya memberikan kekuatan untuk melewati semua itu dan mengambil keputusan yang tepat.
Sekarang Armaro membopong tubuh Lay, seakan-akan dalam keadaan melayang, Armaro membawa Lay menuju ke danau hijau yang terlihat sangat jernih.
Lay seperti melihat hamparan permata zamrud yang menantinya, menunggunya untuk disentuh.
Masih dengan posisi membopong tubuh Lay, Armaro mulai menciumi bibir dan bagian-bagian tertentu dari tubuh Lay. Memberinya kehangatan yang akan selalu dinantikan oleh Lay.
Kini mereka sudah berada di dalam air danau, tapi Lay tidak merasakan rasa dinginnya air danau. Dia yakin jika ini adalah pengaruh dari Armaro, dan juga mantel yang melekat di tubuhnya. Dengan demikian, Lay semakin mempererat pelukannya dengan mengalungkan tangannya di leher Armaro.
Mereka berdua terbuai dengan cara yang berbeda, di dalam kehangatan air danau yang menyambut kedatangan mereka berdua.
Cuaca di dalam hutan seperti berubah secara tiba-tiba. Udara lebih hangat dari sebelumnya, dengan sinar matahari yang masuk melalui celah telah dedaunan yang rimbun.
Suara burung dan binatang-binatang lainnya, yang ada di dalam hutan ini, seakan-akan memberikan irama yang berbeda. Membuat Lay dan Armaro semakin khusyuk dalam kegiatan mereka di dalam danau.
Asyekkk... akhirnya Lay menentukan pilihannya, demi kebahagiaannya sendiri. Lalu bagaimana nasib Andreas, Birdella dan Felisia?