Love Monster

Love Monster
Keadaan Yang Berbeda


Birdella mengalami penurunan kesehatan dan mental pasca keguguran, dan perasaan bersalah atas semua yang telah terjadi pada Lay. Dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Dan Andreas sendiri kewalahan menghadapi Birdella, sehingga membawanya ke rumah sakit jiwa untuk mendapatkan pertolongan.


Mungkin sama seperti ketika seseorang kehilangan bayi yang mereka cintai, terkadang memang sangat sulit bagi mereka untuk memahami apa yang telah terjadi. Bagi sebagian orang, itu yang sangat menghancurkan, dan mengubah cara mereka melihat dunia.


Birdella mungkin adalah salah satu dari mereka yang mengalami perasaan tersebut, dengan perasaan bersalahnya karena apa yang terjadi pada bayinya, dan hilangnya Lay.


"Yah. Aku merasa khawatir dengan kondisi Birdella. Dia mengalami penurunan kesehatan dan mental setelah keguguran, dan aku merasa sangat kewalahan untuk merawat serta menanganinya." Andreas mengeluh pada ayahnya, Adhya.


"Oh, kamu gak sanggup? Itu memang situasi yang sulit. Tapi, apa yang bisa aku lakukan? semua itu adalah salahmu juga."


Andreas menghela nafas panjang saat mendengar jawaban yang diberikan oleh ayahnya. Dia ingin mendapatkan dukungan tapi pada kenyataannya justru tidak menanggapi dengan baik


"Aku berpikir untuk membawa Birdella ke rumah sakit jiwa. Aku merasa bahwa dia membutuhkan bantuan medis untuk memulihkan kesehatan mentalnya. Apakah itu menurut Ayah akan lebih baik?" tanya Andreas meminta pendapat ayahnya.


Adya tidak bisa memberikan masukan apa-apa. "Baiklah, jika kamu menganggap itu adalah hal yang terbaik untuknya, kamu harus segera melakukannya. Tapi, aku hanya ingin fokus merawat cucu ku saja, Felisia." ujar Adhya mulai tidak suka dengan pembicaraan mereka kali ini.


"Maaf, aku mengerti, Yah. Terima kasih atas pengertiannya, dan telah menjaga Felisia."


Bagaimanapun juga, Felisia adalah cucunya Adhya, meskipun anaknya Andreas dengan Birdella. Bukan dengan Lay Calandra. Tapi Adhya tidak mempermasalahkan hal tersebut.


"Semoga semuanya berjalan lancar dan Birdella juga segera pulih." Adhya mengucapkan harapannya.


Birdella sedang mengalami penurunan kesehatan dan mental setelah mengalami keguguran. Setelah kejadian tersebut, ia merasa sangat bersalah dan tidak dapat membenarkan dirinya sendiri atas kegagalannya menjaga calon bayinya.


Dia merasa bahwa dirinya tidak berguna, karena telah gagal melindungi bayi mereka yang belum lahir dan ini membuatnya merasa sangat sedih dan tertekan.


Birdella merasa sangat terpuruk oleh kegagalan yang dialaminya dan perasaan bersalah yang sangat mendalam. Ia mengalami kesulitan dalam menerima keadaan dan merasa bahwa ia salah dalam segala hal. Dia terus-terusan memunculkan kejadian tersebut dan mengutuk dirinya sendiri atas apa yang terjadi.


Perasaan bersalah yang terus menerus dirasakan oleh Birdella membuatnya mengalami gangguan kesehatan mental dan kesehatan fisiknya mulai menurun. Ia tidak lagi ceria seperti biasanya, dan mulai menarik diri dari pergaulan. Birdella juga mengalami kesulitan tidur dan makan karena pikirannya selalu dipenuhi dengan perasaan bersalah dan penyesalan.


Dalam situasi inilah, Andreas, berusaha membantu Birdella dalam pemulihannya. Andreas selalu mencoba mendengarkan keluhan dan curahan hati Birdella serta memberikan dukungan moral dan emosional yang dibutuhkan olehnya. Namun, Andreas menyadari bahwa ia tidak dapat menangani masalah kesehatan mental Birdella sendirian, dan akhirnya membawa Birdella ke rumah sakit jiwa untuk mendapatkan bantuan medis.


Kegagalan dan perasaan bersalah yang dialami Birdella adalah pengalaman yang sangat berat dan sulit dihadapi. Apalagi dia juga merasa tertekan dengan pikirannya yang merasa bersalah atas hancurnya pernikahan Andreas dengan Lay. Padahal Felisia sangat menyayangi mama sambungnya itu.


"Kamu harus bisa sembuh sayang. Setelah semuanya selesai, dan kamu sehat, kita sama-sama mencari Lay lagi kemudian meminta maaf."


Andreas meninggalkan Birdella di rumah sakit jiwa, sedangkan dia sendiri harus kembali menuju ke rumah sakit tempatnya bertugas.


***


Cup


"Emhhh... Oh, halo Sayang. Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu pagi ini?" Lay balik bertanya, sambil tersenyum senang melihat Armaro yang begitu romantis.


Cup


"Emhhh... eghhh..."


"Tentu aku baik-baik saja, terima kasih mau bersamaku di sini."


Armaro melepaskan ciumannya, kemudian mengucapkan terima kasih atas persediaan Lay yang mau hidup bersama dengannya di tengah hutan larangan ini.


"Aku ingin bertanya padamu tentang sesuatu. Apakah kamu percaya pada cinta pada pandangan pertama?" tanya Armaro dengan antuasis. Dia juga duduk lebih dekat bersama dengan Lay di pinggir tempat tidur.


Lay memang sudah tidak berbaring lagi. Kini dia duduk dengan kedua tangannya yang digenggam oleh Armaro, yang memberinya pertanyaan tentang cinta.


"Hmm, sebenarnya aku tidak terlalu yakin. Tapi, mengapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu Sayang?"


Dengan gemas Armaro mencubit hidung Lay, kemudian menjawab pertanyaan wanitanya. "Karena aku selalu merasa seperti itu, pada saat melihatmu. Aku merasa tertarik padamu setiap saat, bukan hanya pada pandangan pertama kalinya kita bertemu. Aku sudah merasakan rasa ini, bahwa kamu adalah cintaku, belahan jiwaku yang selama ini aku cari dan nantikan."


Wajah Lay bersemu merah karena tersipu malu-malu. Meskipun sebenarnya Armaro selalu mengatakan kata-kata yang manis dan romantis, tapi tiap kali dia juga merasakan kebahagiaan dengan malu-malu juga.


"Aku.. aku tidak pernah berpikir, jika aku bisa membuat vampir seperti kamu jatuh cinta padaku. Apakah ini suatu kejahatan?" ledek Lay menyindir.


"Hahaha... Ya ya ya, kamu merasa berbeda. Kamu jahat sekali, karena membuatku tidak bisa jauh dan terjerat akan cintamu."


"Aku tahu, jika seharusnya aku menjaga jarak karena keadaanku. Tapi kamu adalah satu-satunya manusia yang aku inginkan, dan aku mau hidup bersama denganmu. Dan aku tidak bisa menolak perasaan ini."


Senyuman mengembang sempurna di wajah Lay, membuat Armaro semakin gemas. Dia kembali menciumi seluruh wajah Lay, mulai dari pucuk kepala, kening, kedua pipi, hidung, baru kemudian bibirnya Lay yang mendapatkan urutan terakhir, tapi dalam jangka waktu yang sangat lama.


"Aku mengerti Sayang. Tapi kita harus memikirkan masalah ini, karena Aku ini manusia yang bisa mati. Sedangkan kamu adalah makhluk yang abadi."


Apa yang selama ini dipikirkan oleh Lay, akhirnya dia sampaikan juga, setelah tautan bibir mereka terurai. Hal ini memang menjadi beban pikiran Lay, karena dia bisa menua dan mati. Sedangkan seorang vampir akan hidup abadi selamanya.


"Apakah kamu mau hidup selamanya bersama denganku?" tanya Armaro dengan tatapan memohon.


Lay mengigit bibirnya sendiri, karena tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan mudah. Dia tidak bisa memutuskan apa yang akan dia lakukan, apakah benar-benar mau hidup bersama dengan kawanan vampir, atau kembali ke dunia manusia yang memang untuk dirinya.


"Kamu bisa menjadi manusia meskipun berada di sini Hon," ujar Armaro memberitahu pada Lay.


Mendengar perkataan Armaro Baruto, merupakan raja vampir di hutan ini, tentu saja membuat Lay mengerutkan keningnya. Dia berpikir bagaimana cara yang dimaksud Armaro, sehingga mengatakan semua itu dengan yakin.