Langkah Kaki Tengah Malam

Langkah Kaki Tengah Malam
Bab 6 - Kewarasan Yang Mulai Goyah


Dengan semua pikiran yang berkecamuk di dalam kepalanya, Tari mulai melangkahkan kaki menuju pintu kamar 201.


Dia putar perlahan ganggang pintu itu dan dibukanya lebar-lebar.


Semuanya nampak sama seperti saat dia meninggalkannya semalam. Bahkan laptopnya pun masih menyala, layarnya terlihat mati tapi berapa titik lampu terlihat hidup tanda jika laptop masih aktif.


Tari kemudian memutuskan untuk masuk tanpa menutup pintu, sengaja dia buka lebar pintu itu agar dapat melihat keadaan di luar, agar dia merasa tidak sendirian. Suara-suara berisik dari penghuni asrama yang lain cukup membuatnya merasa tenang.


Namun kemudian tatapannya tertuju ke arah ranjang. Seprai itu terlihat kusut, membuatnya mengerutkan dahi, pasalnya Tari sangat mengingat dengan jelas, jika sedikitpun dia belum merebahkan tubuhnya di atas sana.


Harusnya kasur itu tetap rapi, tidak seperti itu, seolah semalam ada yang menggunakannya untuk tidur.


Tari yang tak suka tempatnya berantakan pun langsung merapikan ranjang itu, dengan gerakan cepat dia menyapu kasurnya menggunakan tangan. Sampai tanpa sadar ada sehelai rambut panjang yang tersangkut di jemarinya.


"Aw," keluh Tari, dia angkat tangan kanannya dan melihat rambut itu telah melilitnya, rambut hitam yang nampak pudar, bahkan nyaris memutih.


Deg! jantung Tari bergemuruh, cepat-cepat dia melerai rambut itu dan membuangnya asal.


Rambut itu jelas bukan miliknya, lalu milik siapa?


"Astaga, ya Tuhan, tidak, aku mohon jangan begini," ucap Tari, dia terus menggelengkan kepalanya. Tak ingin pikirannya terlalu jauh menerka.


Dia terus coba tetap sadar, terus mencari alasan yang masuk akal atas semua kejadian ganjil yang dia alami.


Jam 7.30 Tari sudah berada di kampus. Jam 8 pagi ini dia memiliki janji temu dengan dosen pembimbingnya, Pak Basuki.


Tapi hingga jam 9 dosen itu tak kunjung datang ke gedung prodi (Program Studi). Sementara Tari terus menunggu di kursi tunggu yang tersedia disana.


Lama menunggu membuatnya teringat akan Arum, meski dia dan Arum satu jurusan, namun mereka berbeda kelas. Keduanya pun beda dosen pembimbing, jadi sangat jarang sekali bertemu saat berada di kampus.


Namun pagi itu dia melihat Doni, kekasihnya Arum. Lantas dengan segera dia bangkit dan menghampirinya.


"Doni!" panggil Tari, suaranya cukup tinggi.


"Tari."


"Don, dimana Arum?" tanya Tari langsung, kedua matanya terlihat lebih lebar seolah sangat menunggu jawaban dari Doni.


Dia tak bisa bertemu Arum di asrama, mungkin saja Doni tahu keberadaan sang sahabat.


"Loh, kamu belum tau? Arum kan pulang, dia sakit."


Tari tertegun.


Kini dia tak bisa berkata, jika kemarin dia bertemu dengan Arum di asrama.


"Ka-kamu kapan terakhir bertukar kabar dengan Arum?" tanya Tari lagi dengan gugup, kini kedua matanya terlihat tidak tenang, kewarasan nya mulai goyah.


"3 hari lalu, setelah itu nomornya tidak aktif."


Tari makin tertegun.


"Aku harus pergi Ri, ibu Suci sudah menunggu ku."


Tapi Tari seolah tak mendengar ucapan pamit dari Doni, dia masih tergugu atas semuanya.


Masih berdiri dengan gamang di sana meski Doni telah jauh meninggalkan dia.


"Lebih baik aku coba hubungi Arum sendiri," gumam Tari, satu tangannya mulai mengambil ponsel di dalam tas.


Tari sedikit menjauh dari gedung prodi, hingga berada di samping gedung itu. Dia pun coba menghubungi Arum hingga terdengar suara ponsel yang terhubung.


Tut ... Tut ... Tut ...


Lama namun belum juga mendapatkan jawaban.