
"Aaaahhh!" jerit Tari dan Siska ketika golok Pak Hasan jatuh tepat di belakang mereka. Entah akan jadi apa andai golok itu benar-benar mendarat di kepala.
"Ini gawat Ri, nggak tahu sampai kapan kita bisa bertahan. Tenaganya kuat banget, sedangkan kita semakin lemah," ucap Siska tanpa berhenti berlari.
"Kita berpencar saja Sis, biar dia terkecoh. Dengan begitu ada peluang untuk lolos. Salah satu dari kita harus berhasil keluar dan mencari pertolongan," ujar Tari, juga sambil berlari.
"Iya. Kamu benar." Siska mengangguk paham.
Asrama yang mereka tempati, letaknya di luar kawasan universitas. Asrama itu dibangun di tengah-tengah perumahan warga.
Jalan terbaik untuk mencari bantuan memang mendatangi warga sekitar. Karena jika mengandalkan penghuni asrama, kemungkinan besar hasilnya sia-sia dan nyawa mereka yang menjadi taruhan. Pasalnya, penghuni asrama sudah terbiasa diganggu suara-suara aneh di tengah malam.
Kali ini pun, mungkin mereka kira jeritan Tari dan Siska hanyalah suara mahluk tak kasatmata. Buktinya, tak ada seorang pun yang terjaga. Padahal, Tari dan Siska tidak hanya sekali dua kali melakukannya. Mulai dari rooftop, hingga kini tiba di lantai lima.
"Aku ke sini, kamu ke sana," kata Tari sambil menunjuk tangga yang menuju lantai empat.
Dia menyuruh Siska pergi ke sana, sementara dirinya berlari di lantai lima, menyusuri koridor yang sangat lengang.
"Tolong! Tolong!"
Selama berlari, Tari terus berteriak meminta tolong. Harapannya, ada salah satu penghuni kamar yang sadar bahwa itu suara orang, bukan mahkluk-mahkluk gaib. Tapi, harapan hanya tinggal harapan. Bukannya mendapat pertolongan, malah Pak Hasan yang dalam waktu singkat sudah ada di belakangnya.
"Kembalikan baju itu," geram Pak Hasan.
Rupanya, dia lebih memilih mengejar Tari. Karena gadis sedang membawa barang penting, yaitu baju milik Arum.
Tari mengabaikan ucapan Pak Hasan. Dia terus berlari sambil mendekap erat baju Arum. Tapi, beberapa detik kemudian Pak Hasil berhasil menarik tangannya. Tari jatuh tersungkur karena Pak Hasan menyentaknya dengan kuat.
"Aahhh," rintih Tari.
Belum sempat Tari bangkit, Pak Hasan sudah menindihnya dari atas. Dengan penuh amarah pria paruh baya itu mengayunkan goloknya.
Tari histeris dan langsung berguling ke samping, menghindari ujung golok yang kini beradu dengan lantai.
"Lepas!" teriak Tari sambil berusaha menendang kaki Pak Hasan. Tapi, gagal. Pak Hasan menindih kakinya dengan kuat hingga dia tak bisa bergerak bebas.
"Matilah kamu!"
Pak Hasan kembali mengayunkan goloknya, dan kali ini Tari kurang beruntung. Lengannya tergores hingga mengeluarkan darah. Meski lukanya tidak parah, tapi cukup sakit dan perih. Apalagi untuk tubuhnya yang sudah lelah.
Tak ingin berakhir fatal, Tari berusaha lari dari kungkungan Pak Hasan. Tari menyerang pria itu dengan melayangkan tinju di wajahnya.
Pak Hasan terhuyung sesaat, dan Tari memanfaatkan detik itu untuk bangkit. Tapi, lagi-lagi kurang beruntung. Pak Hasan berhasil menarik bajunya dan Tari kembali jatuh telentang di lantai.
Karena merasa dipermainkan, Pak Hasan tidak bisa sabar lagi. Dengan tangan kasarnya dia mencekik leher Tari hingga gadis itu terbatuk-batuk, hampir tak bisa bernafas.
Lantas, tangan yang sebelahnya mengangkat golok dan mengarahkannya ke wajah Tari.
Tari membelalak melihat bahaya tampak nyata di hadapannya. Dengan sekuat tenaga dia menangkis tangan Pak Hasan, hingga golok itu terpental jauh dari tempat mereka. Tari menarik nafas panjang, setidaknya benda tajam itu tak akan melukai lagi.
Ketika Pak Hasan menoleh dan menatap goloknya, Tari mendaratkan kepalan di dada Pak Hasan. Namun, dengan sigap Pak Hasan menangkap tangannya.
Kini, gerakan Tari sudah terkunci. Kedua tangannya dicengkeram Pak Hasan dan kakinya masih ditindih oleh pria itu. Hal baiknya, Pak Hasan melepaskan cekikan.
"Sebaiknya kamu tidak bertingkah. Jadi, aku tidak perlu menyakitimu seperti ini," ucap Pak Hasan dengan senyum penuh kemenangan.
Tari menatap tajam, tekadnya masih berkobar untuk kabur dari cengkeraman pria itu. Meski kini nafasnya semakin tersengal dan tubuh semakin kehilangan tenaga, tapi dia pantang menyerah.
Tari sedikit lega. Berkat gigitannya, Pak Hasan melepaskan cengkeraman dan sibuk memegangi tangannya sendiri. Tari memanfaatkan kesempatan itu untuk memukul kepala Pak Hasan dengan membabi buta. Alhasil, pria paruh baya itu terjerembab dan tidak lagi menindihnya.
"Lari," batin Tari dengan jantung yang berdetak cepat. Seumur hidup, baru sekarang dia berjuang antara hidup dan mati. Dan itu sangat menakutkan.
Setelah berhasil bangkit, Tari kembali berlari. Tapi, gerakannya semakin lambat karena tenaganya semakin terkuras, bahkan nyaris habis.
Kali ini, Tari berlari menuju ujung tangga. Dia akan turun ke lantai bawah dan keluar asrama.
Pada saat yang sama, Siska juga berlari dalam ketakutannya. Karena Pak Hasan hanya mengejar Tari, maka dia berhasil lolos tanpa banyak kendala. Kini, dia hampir tiba di lantai satu.
Namun, karena rasa lelah dan takut yang amat besar, Siska jatuh dan kepalanya terbentur pembatas tangga. Beruntung posisinya sudah ada di bawah, jadi tidak sampai terguling dan terluka parah.
"Ahh, aduh," desis Siska. Dia memegangi pelipisnya yang memar. Rasanya ngilu dan perih.
"Aargghhh!" Siska kesulitan bangkit. Tubuhnya sangat lemah, seakan-akan tidak ada lagi sisa tenaga.
"Tari dalam bahaya, aku nggak boleh nyerah. Harus kuat, harus," gumam Siska dengan nafas yang terengah-engah.
Lalu, dengan sebelah tangan yang berpegangan pada pembatas tangga, Siska bangkit dengan tertatih. Pandangannya sedikit kabur, tapi dia terus berusaha berdiri tegak
"Sedikit lagi," batin Siska.
Langkahnya terseok-seok menyusuri lantai satu. Rasanya koridor jauh lebih panjang dari biasanya. Tenaga semakin menipis, tetapi halaman asrama masih jauh di sana.
"Nggak boleh jatuh, harus kuat," batin Siska sambil bersandar di pilar penyangga.
Dia berhenti sejenak untuk mengatur nafas yang hampir kandas. Setelah kondisinya membaik, Siska mengusap peluh dan kembali meneruskan langkah.
Namun, sekelebat bayangan hitam tiba-tiba melintas di hadapannya. Siska kaget dan langsung terpental. Tubuhnya limbung dan kemudian tersungkur di lantai.
"Ahhh," rintih Siska.
Haaaaaaaaa!
Haaaaaaaaa!
Dalam keadaan lemah Siska menatap awas. Dia mendengar suara-suara menyeramkan seolah-olah mengelilingi kepala dan tubuhnya.
"Nggak boleh takut. Jangan biarkan dia mengecoh dan membuatku lupa dengan tujuan utama," batin Siska.
Setelah berhasil mengumpulkan keberanian, Siska berusaha bangkit dan mengabaikan suara-suara itu. Tapi ketika dia masih terduduk, tatapannya terpaku pada kaki besar dan hitam yang berada tepat di depannya.
Siska mendongak perlahan. Alangkah terkejutnya dia ketika melihat wajah hitam dan menyeramkan. Sosok itu menatap ke arahnya dengan mata merah menyala.
"Arggghhhh!" Siska menjerit dan spontan bangkit. Lalu lari tunggang langgang meninggalkan sosok tersebut. Berkali-kali dia terjatuh, tapi sakitnya tak dirasa. Yang ada di pikirannya hanyalah pergi dan pergi.
Beberapa saat kemudian, Siska tiba di halaman asrama. Tenaganya semakin habis kali ini. Dia berjalan gontai menuju gerbang, sesekali menoleh dan memastikan bahwa makhluk itu tak lagi mengejar.
"Akhirnya berhasil. Tunggu sebentar Ri, aku akan datang membawa pertolongan," gumam Siska sambil meraih pintu gerbang.
Akan tetapi, mata Siska membelalak seketika. Gerbang tersebut digembok dan entah di mana kuncinya. Siska berusaha membuka, tapi tetap tidak bisa.
"Kenapa masih ada rintangan?" sesal Siska di tengah keputusasaan.