Langkah Kaki Tengah Malam

Langkah Kaki Tengah Malam
Bab 28 - Kembali Seperti Semula


Satu minggu setelah keluar dari rumah sakit, Doni benar-benar membuktikan ucapannya, meski waktu itu kesannya hanya bercanda.


Dia kembali ke kampung Arum dan mengajaknya makan malam di pinggir pantai. Walau tidak ada lilin-lilin kecil dan setangkai mawar putih khas dinner romantis, tapi makan malam mereka cukup manis.


Ada bulan purnama yang menggantung indah, juga deburan ombak yang mengalun merdu. Semua berpadu dengan hangat genggaman Doni yang sedari tadi enggan lepas dari tangan Arum.


"Arum, aku ... ada sesuatu yang pengin aku omongin," kata Doni.


"Apa?" tanya Arum seraya membalas tatapan Doni.


Doni tersenyum, lalu merogoh sesuatu dari dalam saku celana, ternyata kotak beludru warna merah. Kemudian, dia membukanya dan menyodorkannya ke arah Arum.


"Maukah kamu menikah denganku?" kata Doni.


Arum terperangah. Dia tak menyangka Doni akan seserius ini.


"Ini, ini___" Arum memandangi cincin permata yang berkilauan di dalam sana.


"Aku ingin melamar kamu. Nggak ditolak, kan?" Doni menatap Arum dengan lebih lekat.


"Aku tahu kita masih kuliah. Tapi, aku benar-benar sayang sama kamu. Aku nggak ngajak buru-buru, hanya ingin membuktikan keseriusanku," sambung Doni.


Sambil tersenyum lebar, Arum mengambil cincin yang disodorkan padanya. Lalu meletakkannya di genggaman Doni.


"Pakaikan ya," ucapnya sedikit manja.


"Kamu menerima lamaranku?" Mata Doni berbinar.


"Aku nggak ada alasan buat nolak," jawab Arum masih dengan senyumannya.


Doni turut tersenyum. Lalu diraihnya tangan Arum dengan mesra. Kemudian, dia sematkan cincin itu di jari manis Arum.


"Aku selalu mencintaimu. Terima kasih sudah menyambut baik perasaanku," ucap Doni sambil mencium tangan Arum.


"Aku yang lebih berterima kasih. Punya kamu, itu sebuah anugerah yang bener-bener indah" jawab Arum.


Sesaat kemudian, Doni memeluk Arum dengan erat sembari membelai lembut puncak kepalanya. Dalam batinnya, Doni sangat bersyukur masih bisa memeluk Arum dalam keadaan sehat. Setelah kemarin sempat ketakutan karena sang kekasih koma hingga beberapa hari.


Saat itulah, Doni berjanji pada dirinya sendiri. Dia akan membuktikan keseriusannya jika Arum berhasil melewati masa kritis. Dia sangat takut kehilangan kala itu.


Detik ini, apa yang dia janjikan sudah ditepati. Cincin permata yang dia beli, sudah melingkar indah di jari manis Arum.


"Semoga hari-hari kita terus damai ya. Jangan sampai ada kejadian kayak kemarin," ucap Arum beberapa saat kemudian.


"Asrama udah direnovasi, Pak Hasan juga udah dipenjara. Pasti damailah," jawab Doni dengan sungguh-sungguh. Meski aslinya belum yakin, tapi dia pura-pura yakin demi menenangkan Arum.


"Mudah-mudahan aja bener begitu." Arum mengangguk sambil tersenyum.


***


Dua bulan kemudian.


Asrama sudah selesai direnovasi dan para mahasiswa dipersilakan kembali ke sana. Satu per satu dari mereka datang dan menempati kamar masing-masing.


Kali ini, suasananya berbeda. Tidak ada hawa seram dan ngeri seperti dulu, malah sangat nyaman dan membuat siapa pun betah untuk tinggal. Memang, para penghuni yang tak kasatmata sudah pindah jauh. Tidak bersarang lagi di sana.


Pada hari pertama, mereka syukuran dan makan bersama. Bukan hanya penghuni asrama yang hadir, melainkan para dosen dan juga beberapa mahasiswa yang tidak tinggal di asrama. Gelak tawa dan perbincangan terdengar riuh mewarnai jalannya acara.


Tak terkecuali Doni, dia juga ikut hadir dalam acara itu. Bersama Arum, Tari, Siska, dan juga beberapa kawan laki-laki yang lain. Mereka bercanda sambil menikmati hidangan yang telah disediakan.


"Banyak jomblo Don, punya hati dikit dong," goda Tari.


"Iya nih, mentang-mentang udah selangkah menuju halal." Siska turut menimpali.


Arum tertawa mendengar ocehan kedua temannya. Tapi, dia pura-pura abai dan menerima suapan Doni. Tak sampai di situ saja, Arum juga menyendok makanannya dan menyuapkannya ke mulut Doni.


"Astaga Arum!" teriak Tari. "Sengaja banget dia Sis," sambungnya sambil beralih menatap Siska.


"Aku nggak lihat kok. Dari tadi aku nunduk doang," sahut Siska yang lantas membuat mereka tertawa lepas.


"Nih, mumpung banyak jomblo yang ngumpul. Kalian deketin deh, terus ajak kenalan. Mana tahu cocok, bisa triple date kita," ucap Arum tanpa rasa bersalah.


"Nggak deh, makasih. Kita berdua mau fokus kuliah. Iya kan Sis?" ujar Tari sambil menyuap makanannya.


"Kamu aja kali Ri, aku ... mau coba nyari kok."


Jawaban Siska sukses membuat Tari terkejut, sampai-sampai dia tersedak makanannya sendiri.


"Nggak setia kawan kamu," gerutu Tari.


Siska tertawa, "Capek tahu diginiin mulu sama mereka. Jadi, sekali-kali boleh lah melepas status jomblo."


"Betul. Aku dukung kamu Sis," sela Arum.


"Aku juga dukung." Doni turut menyahut.


"Terserah deh terserah. Apa kata kalian, yang penting aku mau makan." Tari bangkit dan berjalan menuju meja. Dia mengambil beberapa dessert yang banyak tersaji di sana.


"Jangan banyak-banyak Ri. Kalau berat badan nambah, entar makin lama masa jomblonya," canda Arum, lagi-lagi dengan tawa keras.


Tari menoleh sambil melotot, seolah-olah marah sungguhan.


"Hati-hati, doa jelek balik ke diri sendiri. Bukan barang aja loh yang bisa diretur," ucapnya sarkas.


"Sialan kamu Ri!" sahut Arum.


Tari tak lagi menanggapi. Tapi, dia tersenyum tulus meski membelakangi teman-temannya. Demi apa dia bisa merasakan canda tawa tanpa beban. Sebuah hal yang tak berani diharapkan ketika dia berjuang dalam hidup dan mati.


"Aku bahagia semuanya bisa kembali normal. Semoga seterusnya bisa seperti ini, nggak ada hal buruk lagi sampai kami semua wisuda," batin Tari.


***


Sejak hari itu, para mahasiswa menempa pendidikan dengan damai. Tidak ada gangguan dari makhluk-mahkluk gaib seperti sebelumnya. Mereka bisa fokus dengan pelajaran tanpa memikirkan hal-hal lain.


Sementara itu, Pak Hasan dan Bu Rima masih mendekam di penjara bersama rasa penyesalannya. Dalam jeruji besi yang dingin dan sepi, mereka kerap berandai-andai tentang masa lalu. Tentang dendam yang tidak pada tempatnya, juga tentang persekutuan dengan iblis yang sama sekali tidak ada manfaat.


Akan tetapi, semua sudah telanjur, nasi sudah menjadi bubur. Sebesar apa pun rasa penyesalan, waktu tidak bisa diputar. Mereka harus mempertanggung jawabkan perbuatan yang telah mereka lakukan. Terima atau tidak terima, mereka harus tetap menjalani sanksi sebagaimana mestinya.


Namun, ada satu hal yang membuat mereka sedikit lega, yakni keselamatan Arum, Tari, dan Siska. Setidaknya, mereka tidak membuat orang tua di luar sana merasakan kehilangan seperti mereka dahulu. Andai hal itu terjadi, tak terbayang lagi sebesar apa rasa sesal mereka.


Kini, dalam bui yang sunyi mereka kerap merenung. Memikirkan dosa demi dosa yang mereka tanam sejak anaknya tiada.


"Mengharap dia kembali adalah hal mustahil, jadi lebih baik mengikhlaskan dan mendoakan, semoga dia tenang dan mendapat tempat yang indah di sisi-Nya. Aku di sini juga akan memperbaiki sikap. Andai nanti diberi sempat untuk bebas, aku akan banyak menebar kebaikan. Hitung-hitung untuk menebus dosa-dosa yang telah kulakukan," batin Bu Rima saat ini.


...TAMAT...