
Setelah cukup lama berdiam diri, Tari tak mendengar lagi suara langkah kaki. Tapi, sesaat kemudian dia dikejutkan dengan penampakan menyeramkan dari balik jendela. Ada sosok putih yang melayang di luar sana.
Tari tersentak dan langsung menunduk. Tapi, belum sempat dia menenangkan diri, tiba-tiba tubuhnya terhuyung ke depan. Saat menoleh, ternyata daun pintu yang mendorongnya.
"Aaahhh!" Tari memekik saking kagetnya. Bagaimana tidak, pintu tiba-tiba membuka dengan sendirinya, padahal sejak tadi seperti terkunci.
Sambil mengatur deru nafas yang tak menentu, Tari cepat-cepat keluar dari kamarnya.
Namun, setibanya di depan kamar Tari berhenti sejenak. Matanya menangkap sosok pria paruh baya sedang berjalan menaiki tangga. Pria itu membawa nampan, tapi tidak jelas apa isinya.
Karena terlalu takut, Tari tak memedulikan keberadaan pria tersebut. Saat ini yang paling penting hanyalah kabur dari kamar 201 dan kembali ke kamar Siska.
"Siska! Buka pintunya Siska! Siska!" teriak Tari ketika tiba di depan kamar Siska.
"Siska! Cepat buka pintunya Siska!" Tari terus berteriak, sampai tak sadar jika pria paruh baya itu mengawasinya dari kejauhan.
Tak lama kemudian, pintu dibuka dari dalam. Tampak di sana Siska sedang berdiri dengan wajah kusutnya. Dia mengernyit heran melihat Tari yang sangat panik.
"Aku takut banget Siska," ucap Tari ketika sudah masuk ke kamar.
"Kamu dari mana?" tanya Siska sambil menutup kembali pintu kamarnya.
Tari tidak langsung menyahut, malah berjalan menuju ranjang dan duduk di sana. Dia menutup wajahnya dengan telapak tangan sambil menenangkan perasaan yang tak karuan. Tapi bukannya tenang, dia justru kacau dan kembali menangis.
Melihat hal itu, Siska lekas menyusul dan duduk di sebelah Tari. Siska merangkulnya dengan erat sambil menenangkannya. Dia katakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Kamu dari mana? Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba seperti ini?" tanya Siska setelah Tari berhenti menangis.
"Aku tadi terbangun di kamar sebelah," bisik Tari.
"Maksudmu? Kamu pindah ke sana?" tanya Siska.
"Enggak." Tari menggeleng. "Aku nggak kemana-mana, tapi tadi tiba-tiba terbangun di sana. Bahkan ... semua barang-barangku juga ada di kamar itu. Letaknya sama persis seperti tadi siang, sebelum kita pindahkan ke sini," sambungnya.
"Hah!" teriak Siska. Lalu, dia melihat ke setiap sudut ruangan. Barang-barang Tari memang tidak ada di kamarnya.
Siska syok berat. Apa yang dialami Tari sungguh di luar kewajaran. Kini dia semakin yakin bahwa asrama itu memang menyimpan banyak misteri.
"Aku takut banget Sis," bisik Tari.
Siska hanya mengangguk. Meski merasakan hal yang sama, tapi Siska memilih diam agar tidak menambah ketakutannya Tari.
"Asrama ini benar-benar angker Sis. Apa yang kualami nggak masuk akal," ucap Tari masih dengan suara lirih, seakan takut ada pihak lain yang turut mendengar.
"Iya, aku___"
Siska gagal melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba ada hembusan angin dingin yang membuat bulu kuduk meremang. Lalu, Tari dan Siska saling pandang sambil mengusap tengkuk masing-masing. Jauh di dalam benak keduanya, rasa takut meningkat drastis.
Beberapa saat kemudian, hawa dingin itu menghilang, tapi rasanya suasana malah semakin mencekam. Tari dan Siska hanya bisa diam. Tidak ada yang berani bicara, cukup mata dan pendengaran yang dipergunakan lebih tajam. Sampai-sampai mereka bisa mendengarkan detak jantungnya sendiri.
Terlalu besar rasa takut yang melanda, sehingga mereka tidak merasakan kantuk sedikit pun. Tari dan Siska terus terjaga dalam kewaspadaan. Bukan hanya satu atau dua jam, tapi sampai matahari mulai terbit di ufuk timur.