Langkah Kaki Tengah Malam

Langkah Kaki Tengah Malam
Bab 12 - Penjaga Asrama


Setelah melihat seberkas sinar matahari yang menerobos dari celah jendela, ketakutan Tari dan Siska mulai mengendur. Mereka berani turun dari ranjang dan bergantian pergi ke kamar mandi.


Usai membersihkan diri, tubuh dan pikiran mereka menjadi lebih segar. Perasaan pun turut tenang, tidak kacau seperti semalam.


Tari keluar dari kamar Siska dan dengan hati-hati masuk ke kamar 201. Dia mengambil barang-barangnya yang semalam pindah sendiri ke sana.


"Aku masih nggak habis pikir, kok bisa barang-barangmu balik ke sana. Padahal, jam sembilan itu masih tertata rapi di kamarku," bisik Siska usai membantu Tari memindahkan barang-barang.


"Entahlah." Tari menghembuskan nafas kasar. "Heranku, kenapa mereka menganggu? Padahal, aku tidak melakukan apa pun di sini. Sejak pertama kali datang loh, hal-hal di luar nalar sudah mengusikku. Kehadiran Arum contohnya," sambungnya.


"Banyak yang ngerasa kalau asrama ini emang angker. Tapi, nggak tahu mereka diganggu parah atau enggak. Setahuku, mereka cuma sering dengar ada suara langkah kaki pas tengah malam," ucap Siska sambil menatap Tari.


"Semalam, sebelum keluar dari kamar sebelah, aku juga dengar suara itu. Ahh, serem banget deh pokoknya. Nggak mau lagi aku mengalami hal kayak gitu." Tari bicara sambil menggeleng cepat, berusaha mengusir ingatan mengerikan yang terjadi semalam.


"Serem gimana?" Siska berpindah tempat dan duduk di dekat Tari. Dia ingin mendengar kejadian rinci yang dialami temannya.


"Pas aku bangun, itu tepat pukul 12.00 malam. Aku syok dan buru-buru mau keluar, tapi pintunya kekunci, sama sekali nggak bisa dibuka. Aku gedor-gedor sambil teriak kenceng, tapi nggak ada yang nyahut. Malah tiba-tiba lampu hidup mati sendiri, terus kayak ada suara tawa yang menyeramkan gitu. Aku sampai lemes, jantungku kayak mau copot Sis," terang Tari dengan panjang lebar.


Siska belum memberikan tanggapan. Dia hanya menelan ludah saat mendengarkan cerita Tari.


"Ketika lampu udah normal, aku coba lagi buka pintu sambil tetap teriak. Tapi, setelah itu aku malah mendengar suara langkah kaki yang serem banget. Aku langsung diam, nggak berani buka mulut lagi. Pas sedang takut-takutnya, aku melihat sosok putih terbang di luar jendela." Tari meneruskan ceritanya sambil bergidik.


"Astaga! Terus caramu keluar gimana?" tanya Siska.


"Setelah sosok putih itu hilang, pintu kebuka dengan sendirinya. Aku yang merapat di sana, langsung terdorong dan hampir jatuh," jawab Tari.


"Lalu?"


"Aku buru-buru keluar dan gedor kamar ini."


"Ya ampun, parah banget ini Ri. Benar-benar mengerikan," ucap Siska.


"Makanya semalam aku sampe nangis-nangis Sis. Takut kalau nggak bisa keluar dan ... nggak selamat."


"Abisnya serem banget," jawab Tari.


Setelah itu, keduanya berhenti bicara dan hanya bergelut dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya, Tari mengingat sepenggal kejadian yang belum diungkapkan.


"Oh ya, tadi malam pas keluar dari kamar, aku melihat ada laki-laki paruh baya sedang menaiki tangga sambil bawa nampan. Tapi, nggak jelas apa isi nampannya. Kira-kira ... dia orang beneran apa bukan, ya?" Tari kembali membuka perbincangan.


"Laki-laki paruh baya?" tanya Siska.


"Iya, rambutnya udah putih. Badannya besar dan tinggi, tapi jalannya agak bungkuk," jawab Tari.


"Ada luka nggak di wajah kirinya?"


Tari diam sejenak, berusaha mengingat-ingat wajah lelaki yang dilihat tadi malam.


"Iya ada, di atas mata gini." Tari memegang wajahnya sendiri. "Tapi, nggak jelas seberapa besar kecilnya. Aku semalam nggak terlalu memperhatikan. Udah keburu takut," lanjutnya.


"Lukanya panjang sampe ke kening," sahut Siska.


"Hah! Kamu tahu?" tanya Tari dan kemudian Siska mengangguk.


"Dia manusia? Bukan hantu?"


Siska tertawa renyah, "Iya. Dia itu Pak Hasan, penjaga asrama ini."


"Untunglah." Tari turut tersenyum sambil mengelus dada. Namun tak lama kemudian, dia kembali merasakan kejanggalan.


"Tapi, ngapain penjaga asrama keliaran malam-malam? Mana bawa nampan segala lagi. Apa mungkin ada penghuni asrama yang pesen makanan gitu? Tapi, masa iya makan tengah malem," ujar Tari. Dia mematahkan asumsinya sendiri sebelum Siska memberikan pendapat.


"Entahlah Ri. Aku ... juga nggak tahu," ucap Siska beberapa saat kemudian. Suaranya terdengar pelan, tapi penuh makna.


Tanpa bertanya lebih lanjut, Tari sudah yakin jika Siska juga merasakan kejanggalan seperti dirinya.