
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi, tapi Tari dan Siska masih belum siuman. Pak Hamid sedikit khawatir melihat hal itu, takut terjadi apa-apa dengan anak didiknya.
"Berikan pelayanan yang terbaik untuk mereka, saya yang menanggung biayanya," ucap Pak Hamid kepada dokter yang menangani Tari dan Siska.
"Pasti Pak. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan mereka," jawab dokter.
"Terima kasih."
Usai berbincang singkat dengan dokter, Pak Hamid beranjak dan pergi meninggalkan rumah sakit. Lalu melaju cepat menuju asrama. Kebetulan hari ini hari Sabtu, jadi anak-anak libur dan tetap berada di asrama.
Setelah tiba di sana, Pak Hamid menyuruh semua penghuni asrama untuk berkumpul di lantai satu. Tak membutuhkan waktu lama, mereka mengikuti arahan Pak Hamid.
"Selamat pagi anak-anak!"
"Pagi Pak!" jawab mereka serentak.
"Saya mengumpulkan kalian di sini karena ada pengumuman yang sangat penting." Pak Hamid menjeda kalimatnya sambil menatap para mahasiswa secara bergantian.
Mereka yang ditatap menampilkan ekspresi yang berbeda-beda, ada yang bergidik ngeri karena ingat semalam, tapi ada juga yang kebingungan karena ketinggalan cerita.
"Selaku pihak yang bertanggung jawab atas keamanan kalian, saya akan mengosongkan asrama ini untuk direnovasi ulang. Jadi, untuk sementara waktu kalian akan dipulangkan dan menerima bimbingan secara daring. Mungkin, di antara kalian ada yang keberatan dengan keputusan ini. Tapi percayalah, semua ini saya lakukan demi kebaikan kalian. Saya ingin memberikan tempat yang aman dan nyaman," sambung Pak Hamid dengan panjang lebar.
Terdengar bisik-bisik di antara para mahasiswa. Tapi, Pak Hamid tak acuh. Dia tetap pada keputusan awal agar anak didiknya bisa menempa ilmu tanpa kendala.
"Saya kira pengumuman ini sudah jelas. Jadi, setelah ini kalian silakan berkemas. Renovasi akan dimulai dalam waktu dekat," ujar Pak Hasan.
"Baik Pak."
Beberapa saat kemudian, para mahasiswa bubar dan kembali ke kamar masing-masing.
Sementara itu, Pak Hamid langsung pergi dan menghubungi kontraktor yang akan dipercaya merenovasi asrama.
Sampai lewat tengah hari, Pak Hamid baru menyelesaikan urusannya. Bukan hal mudah membujuk kontraktor mau memulai proyek dalam waktu dekat. Tapi untungnya Pak Hamid berhasil, meski harus membayar dengan harga yang sedikit mahal.
"Akhirnya ... semoga setelah direnovasi tidak ada lagi masalah seperti ini," batin Pak Hamid ketika sudah duduk di depan kemudi.
Kali ini, tujuannya adalah kantor polisi. Pak Hamid akan meminta maaf secara tulus kepada Pak Hasan dan Bu Rima. Terlepas dari siapa yang salah, mereka sangat kehilangan anaknya. Sedikit-banyak Pak Hamid memahami perasaan mereka.
Setelah cukup lama melaju di jalan raya, mobil yang dikendarai Pak Hamid berhenti di halaman kantor polisi. Dia bergegas turun dan masuk ke sana.
Setelah mengutarakan niatnya kepada petugas, Pak Hamid diarahkan ke ruangan khusus. Setelah menunggu sebentar, Pak Hasan dan Bu Rima dibawa ke hadapannya.
"Pak Hasan, Bu Rima!" sapa Pak Hamid.
"Untuk apa kamu ke sini? Ingin menertawakan kami, iya?" jawab Pak Hasan dengan intonasi tinggi.
"Saya ingin meminta maaf kepada Pak Hasan dan Bu Rima terkait kejadian waktu itu. Saya tidak bisa memberikan keadilan karena___"
"Karena anakku yang salah? Begitu kan yang mau kamu katakan?" pungkas Pak Hasan dengan cepat. "Pergilah, aku tidak butuh kata maafmu."
Pak Hamid menatap lekat Pak Hasan. Meski mulutnya terus bicara keras, tapi sorot matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam.
Ketika mengalihkan pandangan pada Bu Rima, hati Pak Hamid semakin trenyuh. Wanita paruh baya itu menunduk dan menangis sesenggukan. Rupanya, kisah kelam itu masih menyisakan luka hingga sekarang.
"Pergi! Aku muak melihatmu!" bentak Pak Hasan membuyarkan renungan Pak Hamid.
"Saya benar-benar minta maaf Pak, saya___"
"Dengan kata maaf, kamu pikir anakku akan hidup lagi?" potong Pak Hasan lagi-lagi dengan intonasi tinggi.
"Saya tahu Anda sangat kehilangan, tapi seharusnya Anda tidak melemparkan kesalahan pada orang lain sampai memelihara dendam. Apa yang terjadi pada anak Anda adalah kecelakaan. Saat itu asrama baru saja dibuka, hal wajar jika ada kesalahan-kesalahan kecil terkait pembangunannya. Sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk memperbaiki hal-hal tersebut." Pak Hamid diam sejenak dan menunggu reaksi Pak Hasan. Tapi, pria itu hanya berpaling tanpa mengucap sepatah kata.
"Saat itu, kamar masih banyak yang kosong. Kami sangat menyesalkan tindakan anak Bapak yang diam saja dan mengabaikan hal tersebut. Andai saja kesalahan itu segera diketahui pihak kami, pasti akan secepatnya diperbaiki, dan ... hal fatal itu tidak akan terjadi," sambung Pak Hamid dengan penuh sesal.
Pak Hasan masih diam, sedangkan Bu Rima semakin menangis.
"Saya memperkerjakan Anda dan Bu Rima, maksudnya agar Anda punya pekerjaan yang tetap. Saya tahu, anak Anda bekerja paruh waktu di kantin kampus untuk membantu kebutuhan sehari-hari, sementara Anda ... maaf, juga belum ada pekerjaan yang tetap. Itu sebabnya, pihak kampus sepakat memperkerjakan Anda dan Bu Rima sebagai penjaga asrama," terang Pak Hamid sambil menatap Pak Hasan yang masih enggan menghadap ke arahnya.
"Pergilah! Aku tidak butuh penjelasanmu," kata Pak Hasan. Meski tanpa menoleh dan tanpa nada ramah, tapi suaranya tidak setinggi tadi.
"Bukannya bermaksud mengungkit-ungkit niat baik yang tidak seberapa, tapi ... pihak kampus sudah memberikan hak lebih kepada Anda dan Bu Rima. Gaji penjaga asrama pada umumnya hanyalah separuh gaji kalian. Kami turut prihatin dengan apa yang menimpa anak Anda, itu sebabnya kami berani menggaji Anda dua kali lipat," ungkap Pak Hamid, yang kemudian membuat Bu Rima kaget dan langsung mendongak.
Bu Rima menatap Pak Hamid dengan lekat, seolah-olah mencari kebohongan dari raut wajahnya. Tapi, Bu Rima tidak menemukan itu, malah kejujuran yang terpancar jelas.
Bu Rima kembali menunduk. Selama ini, dia hanya kerja dan kerja. Dia tidak pernah mencari tahu berapa standar gaji penjaga asrama. Karena suaminya sudah setuju dan mengatakan bahwa itu adalah jalan untuk membalas dendam, maka Bu Rima tak memusingkan hal lain. Dia justru fokus dengan rencana jahatnya.
Kini setelah tahu kebenarannya, Bu Rima sedikit menyesal. Dia telah membenci orang-orang yang sebenarnya masih bersimpati padanya. Dia juga mengorbankan anak-anak yang tidak bersalah.
"Semoga anak-anak itu selamat," batin Bu Rima di antara kekacauan hatinya.
Di sisi lain, hati Pak Hasan juga melunak. Pikirannya menelisik kembali ke masa silam. Pihak kampus memang tidak sepenuhnya bersalah. Benar apa yang dikatakan Pak Hamid, andai anaknya tidak diam saja, pasti kesalahan itu segera diperbaiki dan tidak akan ada peristiwa tragis.
Pihak kampus memang kerap melakukan pemeriksaan, tapi lebih pada fasilitas umum. Sedangkan kamar-kamar yang berpenghuni, akan mereka periksa jika ada laporan. Mereka menghormati privasi mahasiswanya, jadi tidak sembarang keluar masuk ke sana.
Akan tetapi, Pak Hasan terlalu menyayangi anaknya. Itu sebabnya, dia melimpahkan kesalahan pada pihak lain dan menuntut keadilan yang kurang masuk akal.
"Kalau dipikir-pikir, aku jadi penjaga asrama juga karena kemauan pribadi, yang memang butuh pekerjaan agar keseharian tidak kekurangan. Mereka hanya memberikan penawaran dan tidak memaksa sedikit pun. Tapi ... aku belum rela anakku mati. Aku ingin dia hidup kembali," batin Pak Hasan.
Dia menggigit bibir guna menahan rasa sesak yang menghimpit dada. Dia terlalu menyayangi anaknya dan tidak rela kehilangan dia. Itu sebabnya dia menutup mata pada kebenaran dan lebih mengedepankan ego. Sampai akhirnya, dia terjebak dengan perasaannya sendiri. Sebuah rasa benci yang akhirnya menjadi dendam, yang kini mengantarnya pada rasa sesal.
"Pak Hasan, Bu Rima," panggil Pak Hamid karena mereka diam dalam waktu yang lama.
"Pergilah! Aku tidak mau lagi membahas hal itu," sahut Pak Hasan dengan suara yang tertahan.
"Kehadiran Bapak hanya menambah kesedihan kami. Memang lebih bagus jika cepat pergi dari hadapan kami," imbuh Bu Rima.
Pak Hamid beranjak sambil menatap Pak Hasan dan Bu Rima. Meski mereka berpaling, tapi Pak Hamid melihat jelas raut sendu dan sesal di kedua wajahnya.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi. Sekali lagi, saya atas nama kampus memohon maaf yang sebesar-besarnya." Pak Hamid berbalik dan melangkah pergi.
"Kuharap kalian benar-benar menyesal dan bisa mengikhlaskan apa yang telah terjadi. Jika kalian berhasil melakukannya, maka aku akan membantu meringankan hukuman kalian," sambungnya dalam hati.
Sepeninggalan Pak Hamid, Pak Hasan mulai meneteskan air mata. Ada banyak hal yang mengganggu hatinya saat ini.