Langkah Kaki Tengah Malam

Langkah Kaki Tengah Malam
Bab 21 - Coba Melawan


Tangan hitam yang mencengkeram Tari dan Siska adalah tangan iblis. Kekuatannya tergantung pada perasaan mangsa. Semakin mangsa ketakutan, maka tenaganya semakin kuat. Begitu pun sebaliknya. Kekuatan iblis akan melemah jika mangsa punya rasa berani.


Sama seperti saat ia menahan kursi dan mengunci pintu ruangan. Kekuatannya melemah ketika Tari dan Siska berhasil menepis rasa takutnya.


Sayangnya, saat ini Tari dan Siska kehilangan nyali. Tangan menyeramkan yang terlihat nyata di depan mata, bahkan mencengkeram bagian tubuhnya, membuat Tari dam Siska tak bisa berpikir jernih. Mereka hanya menangis di antara jeratan rasa takut.


"Ahhhh," rintih Siska. Dia kesakitan saat tangan iblis semakin mencengkeramnya.


Di sampingnya, Tari juga merasakan sakit dan perih. Kuku-kuku iblis rasanya menancap di kulitnya. Tapi, Tari tidak merintih. Dia berusaha tenang dan menjernihkan pikiran, agar rasa takut kembali hilang seperti sebelumnya.


"Tenang Sis. Pelan-pelan ... kita pasti bisa," ucap Tari sambil meraih tangan Siska, lalu menggenggamnya dengan erat.


"Aku takut banget Ri." Suara Siska semakin tertahan.


"Tarik nafas, buang nafas. Kita pasti bisa Sis," kata Tari.


Berkat genggaman hangat dari tangan Tari, Siska mulai bisa menenangkan diri. Lalu menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Dia lakukan berulang kali dan akhirnya rasa takut perlahan berkurang.


"Setelah tenang, kita pasti bisa menemukan cara untuk lepas," bisik Tari yang kemudian ditanggapi anggukan oleh Siska.


Namun, di luar dugaan cengkeraman tangan iblis mengendur dengan sendirinya. Tari dan Siska saling pandang. Dan kini, mereka mulai menyadari satu hal. Kekuatan iblis tersebut ada pada rasa takut.


Setelah memahami hal itu, Tari dan Siska lebih keras lagi dalam menepis rasa takutnya. Lalu memupuk keberanian dengan pikiran-pikiran positif.


Selain itu, Tari dan Siska terus mengeratkan genggaman. Karena dari sana, perasaan hangat bisa menjalar sampai ke jiwa, sehingga semangat kembali bangkit seperti sedia kala.


Setelah cukup lama melakukan hal itu, cengkeraman iblis benar-benar terlepas. Kaki mereka kembali ringan dan bisa digerakkan.


"Sis!" Tari menatap Siska.


"Iya." Siska mengangguk sambil tersenyum.


Detik berikutnya, Tari dan Siska langsung berlari. Mereka memanfaatkan kesempatan dengan sebaik mungkin sebelum iblis kembali menyerang.


"Jangan terkecoh dengan apa pun. Selama mereka tidak menyerang seperti tadi, kita abaikan saja. Anggap tidak ada apa-apa," ucap Tari.


"Kamu benar. Kita harus fokus dengan tujuan utama kita. Jangan sampai Pak Hasan yang menang, nanti akan lebih banyak lagi korban selanjutnya," sahut Siska.


Tari dan Siska berlari lebih cepat dan segera meninggalkan rooftop. Mereka sudah tidak sabar untuk tiba di lantai bawah dan melaporkan tindakan Pak Hasan kepada pihak kampus.


Namun, langkah mereka terhenti saat berada di tengah-tengah tangga. Pasalnya, di ujung tangga yang bawah ada Pak Hasan yang sedang berdiri sambil membawa sesajen. Pria tersebut baru saja keliling asrama dan kini sedang menuju rooftop.


Mata Pak Hasan membelalak saat menyadari tawanannya lolos. Dengan murka, dia mengeluarkan golook dan berlari ke arah Siska dan Tari.


"Kalian tidak boleh kabur!" bentak Pak Hasan.


Tari dan Siska panik. Mereka tidak bisa menerobos ke lantai bawah. Jalan satu-satunya untuk menghindar adalah berlari menaiki tangga dan kembali ke rooftop.


"Berhenti kalian!" teriak Pak Hasan. Saat itu dia sudah berada di ujung tangga, menatap nyalang ke arah Tari dan Siska yang berlari menjauh.


"Kita harus melawan, jangan sampai tertangkap lagi," ujar Tari.


"Iya."


Tari dan Siska menatap ke sekeliling, mencari benda yang bisa digunakan untuk melumpuhkan Pak Hasan. Namun, tidak ada apa pun di sana.


"Menyerah atau golook ini akan menebas leher kalian!" teriak Pak Hasan sambil mengayunkan goloknya.


Tari dan Siska semakin panik. Mereka belum ada cara untuk melawan, sedangkan ruang untuk berlari semakin habis. Mereka tersudut hingga ke depan pintu ruangan, sebuah tempat yang tidak mungkin didatangi lagi.


"Cepat menyerah dan kembalikan baju itu!" teriak Pak Hasan dengan tatapan tajam.


"Tidak! Kami tidak akan menyerah, apalagi mengembalikan benda ini! Cukup sampai di sini Arum menderita, tidak akan berlanjut di lain hari," sahut Tari dengan berani, meski sebenarnya sangat panik.


"Kurang ajar! Beraninya kamu mengatakan hal selancang itu!" bentak Pak Hasan.


Karena amarah semakin membuncah, tanpa pikir panjang Pak Hasan melemparkan goloknya ke arah Tari. Beruntung gadis itu berhasil menghindar, jadi tidak sampai terluka.


Tapi, hal itu membuat Pak Hasan semakin murka. Dengan gerak cepat dia menerjang Tari.


Mendapat serangan yang tiba-tiba, Tari tidak sempat melawan. Kaki Pak Hasan berhasil menendang pinggangnya dan tubuhnya hilang keseimbangan. Baru saja Tari hendak menghindar, Pak Hasan kembali melayangkan serangan.


Pak Hasan menginjak kaki Tari dan mendorong tubuhnya dengan keras. Tari tak bisa mengelak, dia limbung dan tersungkur di lantai.


Pak Hasan memanfaatkan kesempatan itu. Dia mengambil goloknya dan siap menebas tubuh Tari. Namun, niatnya digagalkan oleh Siska.


"Lepaskan dia!" teriak Siska.


Dengan berani Siska menendang tangan Pak Hasan hingga golooknya terpental. Lalu, Siska menarik kasar baju Pak Hasan agar menjauh dari tubuh Tari.


Akan tetapi, tenaga Siska terlalu lemah untuk melawan Pak Hasan. Dengan sekali hentak, tangan Siska terlepas dan tubuhnya terdorong mundur.


Pak Hasan menyeringai. Dia menginjak kaki Siska dan siap melumpuhkannya. Tapi tiba-tiba, kakinya ditendang dari belakang. Pak Hasan sempat terhuyung, tapi tidak sampai jatuh. Tenaganya cukup kuat untuk menahan serangan Tari.


"Lari Sis!" kata Tari dengan lantang.


Siska mengerti. Mumpung Pak Hasan lengah, dia langsung bangkit. Kemudian berlari menuju ujung tangga.


Pada saat yang sama, Tari menendang kaki Pak Hasan dengan brutal. Sampai akhirnya pria itu jatuh tersungkur.


Tari memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur. Dia bersiap lari dan menyusul Siska.


Namun, baru dua langkah kakinya berpindah, Pak Hasan sudah menarik betisnya.


"Aaahhh!" Tari terjatuh karena tarikan itu sangat kuat.


"Kamu tidak akan kulepaskan!" geram Pak Hasan dengan posisi tengkurap. Kakinya masih ngilu dan dia belum bisa bangkit.


Mendengar teriakan Tari, Siska langsung menoleh. Lalu berbalik dan menarik tangan Tari. Dia membantu temannya terlepas dari pria paruh baya itu.


Dalam beberapa saat, ketiganya saling berjuang keras. Pak Hasan semakin erat menarik kaki Tari, sedangkan Tari terus menendang-nendang agar Pak Hasan melepaskannya.


"Argghhh!" geram Pak Hasan ketika cekalannya terlepas. Mata tajamnya menatap benci ke arah Tari yang beranjak pergi.


"Hah, hah!"


Tari dan Siska terengah-engah. Tenaga mereka hampir habis karena pergulatan barusan. Tapi, mereka tetap lari. Tidak ada kata istirahat untuk detik ini.


"Sebesar apa pun usaha kalian, tidak akan menang melawanku!"


Tari dan Siska menoleh, ternyata Pak Hasan sudah berjalan sambil membawa golook. Dan posisinya cukup dekat dengan mereka.


Tari dan Siska langsung lari menuruni tangga. Namun, karena kondisi yang sudah lelah, gerakan mereka tidak secepat harapan. Sementara itu, Pak Hasan juga berlari mengejar. Tenaganya masih kuat dan bisa melesat cepat.


"Berhenti! Jika tidak, maka golook ini akan mendarat di kepala kalian!" ancam Pak Hasan.