Kultivator Jenius Penentang Langit

Kultivator Jenius Penentang Langit
Bab 47: Seorang Gadis dengan Mental Baja


Zhishu menyeringai lebar, matanya menyiratkan sebuah rencana licik, "penglihatan super, aktif!"


[Penglihatan super diaktifkan]


Zhishu memusatkan fokusnya pada dua orang lelaki yang saat ini sedang berada di sudut jalan yang sepi, salah seorang dari mereka yang jelas merupakan pembunuh bayaran tengah berjongkok di sebuah dahan pohon, sedangkan yang satunya berdiri di tanah dengan perawakan layaknya seorang pemabuk berat.


"Ternyata kultivasi mereka masih bisa terdeteksi.Ini pasti karena skill penglihatan superku yang sudah bertambah, maka dari itu aku bisa mendeteksi kultivasi mereka yang berada 10 level diatas ku," batin Zhishu kala melihat tingkat kultivasi kedua lelaki itu.


"Pembunuh bayaran itu ternyata cukup kuat juga, dia berada di ranah Alam Jenderal level 8 dan laki-laki tua itu saat ini berada di ranah Lord Jenderal level 2.Dari pembicaraan yang ku dengar tadi, sepertinya mereka adalah anak buah dari seseorang.Tapi siapa ya?"


Zhishu mencuri-curi pandang ke arah sudut jalan tempat sebelum nya dia melihat dua lelaki yang saat ini menjadi target utamanya.


Namun laki-laki pemabuk itu sudah tidak ada lagi di tempatnya, tersisa sang pembunuh bayaran yang masih tetap setia berada di dahan pohon itu.Zhishu beberapa saat melirik ke arah pembunuh bayaran itu.Dengan penglihatan super, tak ada satupun yang menghalangi penglihatan Zhishu.


Di detik itu juga, pupil mata Zhishu menyusut, matanya melebar seketika kala tatapannya terfokus pada satu titik yang merupakan objek dari keterkejutan nya.


Tubuhnya mematung dengan pandangan yang masih terfokus ke sebuah dahan pohon yang sebelumnya menjadi tempat landasan sang pembunuh bayaran yang kini sudah pergi entah kemana.


"Dapat!" batin Zhishu singkat.


Plak!


"Ah!" teriak Zhishu refleks, "Penglihatan super non-aktif!"


[Penglihatan super di non-aktifkan]


"Kau ini mengapa melamun lagi? Sudah ku bilang, hilangkan kebiasaan burukmu itu!"


"Aku juga sudah bilang--"


Wu Huan menyumpal mulut Zhishu dengan sebuah bakpao berukuran cukup besar yang seketika memenuhi ruang di mulut Zhishu.


"Tidak usah banyak omong.Salah ya, salah, jangan banyak beralasan.Sekarang, daripada kau melamun, makanlah beberapa bakpao ini, mungkin bisa mengganjal perutmu yang tidak makan selama beberapa bulan itu."


Zhishu mengunyah bakpao besar itu dalam mulutnya dengan bersusah payah, pipinya membesar dikarenakan menampung bakpao itu, saat ini ia terlihat seperti anak kecil dengan pipi yang gemuk.


"Wu Huan siala*n! Sulit sekali memakan bakpao dalam ukuran besar ini sekaligus! Aaaa! Aku mau memuntahkannya, tapi tidak mungkin melakukan hal menjijikkan itu.Bersabarlah Zhishu, mungkin lain kali kita bisa membalas selir menyebalkan itu!" batin Zhishu kesal.


***


Setelah melewati perjalanan yang cukup lama, akhirnya Zhishu dan Wu Huan sampai di penginapan Taiyang.Zhishu turun lebih dulu begitu sampai di depan penginapan, disusul dengan Wu Huan dan juga Wu Jungwo, sedang Wu Ge sudah lebih dulu kembali ke kediaman keluarga Wu.


"Ha? Mengapa kau ikut turun? Emm.. paman juga? Aih... Kalian tidak perlu repot mengantarkan ku.Kakak Wu, kau hanya perlu memberikan uangnya padaku, aku bisa memesan kamar sendiri," ujar Zhishu dengan salah satu alis yang naik dengan cukup tinggi.


Wu Huan menatap malas ke arah Zhishu, dua jari tangannya mengarah ke arah dahi Zhishu dengan cepat tanpa bisa dihindari, "kau kira aku akan mengantarmu? Jangan terlalu percaya diri!"


"Hei, mengapa kau harus memukulku?!"


"Agar sikap terlalu percaya dirimu itu bisa berkurang. Ya, setidaknya kau harus sadar akan hal itu kan?"


Zhishu menggeram dengan kesal, ia terlihat seperti seorang singa yang siap menerkam musuh, telapak tangannya mengepal dengan keras, "sabar Zhishu...! Dia memang orang yang seperti itu, ini bukan kali pertama kau diperlakukan seperti ini, ingatlah nasihat kakaekmu! Lagipula dia masih lebih tua darimu, benar Zhishu.. kau harus menghormatinya."


"Sudahlah, anak-anak, tidak perlu meributkan hal kecil. Ini sudah malam, jangan mengganggu istirahat orang lain," tutur Wu Jungwo dengan bijaksana.


"Huh, redam emosimu Zhishu, Emosi bisa membawamu ke jurang bencana yang dalam.Tetap tenang dalam segala keadaan adalah hal yang paling penting..." ujar Zhishu sembari menarik napas dalam.


"Emosi bisa membawamu ke jurang bencana yang dalam.Tetap tenang dalam segala keadaan adalah hal yang paling penting..." sambungnya dengan suara yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.


Setelah melewati proses penenangan diri, Zhishu melangkah dengan terburu-buru menyusul Wu Huan yang sudah berjalan lebih dulu, "kau itu sebenarnya siapa Zhishu?" tanya Wu Huan tiba-tiba.


"Aku? Manusia tentunya."


"Ah, sudahlah... Jika memang kau tidak mau memberitahunya, tidak masalah bagiku.Yang penting kau adalah jenius."


Wu Jungwo dengan senyum lembut dan halus memandang Zhishu dengan sirat penasaran, "kau memang tergolong orang yang sangat jenius, jauh diatas rata-rata.Dengan kemampuanmu yang bahkan berada diatas seluruh jenius Kekaisaran, pasti kau tidak berasal dari kalangan orang sembarangan.Belum lagi kata-kata yang kau keluarkan tadi, apa itu kau yang membuatnya sendiri?"


"Kata-kata yang mana, paman?"


"-Emosi bisa membawamu ke jurang bencana yang dalam.Tetap tenang dalam segala keadaan adalah hal yang paling penting-.Sungguh sebuah kutipan yang luar biasa, aku belum pernah mendengar nya, tapi aku yakin itu keluar dari seseorang yang bijak."


Zhishu memunculkan seutas senyum tipis kala mendengar penuturan dari Wu Jungwo, "benar, aku adalah penggemar dari orang itu.Dia sungguh sangat menginspirasi ku, jika bukan karena dia, aku pasti sudah memilih untuk bunuh diri sejak lama."


"Wah, apa orang itu benar-benar berjasa dalam hidupmu?" tanya Wu Huan penasaran.


"Sangat berjasa! Sungguh tidak bisa digambarkan dengan kata-kata!"


"Aku penasaran.. tapi sebentar ya.Kita jeda dulu pembicaraan ini, aku akan memesan tiga kamar untuk kita menginap malam ini," ucap Wu Huan dengan terburu-buru, seakan ia benar-benar antusias dan tidak ingin ketinggalan satu katapun dari cerita Zhishu.


"Hei, bukankah seharusnya 7 malam?"


Wu Huan dengan cepat melangkah ke arah Zhishu dan membisikkan sesuatu padanya, "uangku tidak cukup, besok aku akan mengambil sisanya di paviliunku.Kau sebaiknya diam, jangan berbicara dengan keras.Itu akan merusak reputasi ku."


"Ah, baiklah! Cepat sana pesan."


Wu Jungwo mendatangi Zhishu dan duduk disebuah sofa yang ada di samping gadis muda itu, "Oh iya, Zhishu. Mengapa anak kecil sepertimu berniat bunuh diri? Apa kehidupan sudah begitu jahat padamu?"


"Entahlah, seperti nya begitu," balas Zhishu singkat dengan wajahnya yang datar.


Wu Jungwo tertawa dengan cukup keras, "bagus-bagus! Benar-benar gadis dengan mental baja.Aku senang kau masih hidup sampai saat ini.Aku berterima kasih pada orang yang kau kagumi itu, karena dia, Kekaisaran Shenzen tidak kehilangan seorang jenius yang sangat berbakat!"


"Hmm.. mengingat kau bahkan hampir ingin bunuh diri, sepertinya kau sudah tahu lebih jauh mengenai tabiat buruk manusia.Aku yakin kau sudah terbiasa dengan hal-hal yang sungguh menakutkan bagimu.Itu sebabnya saat ini kau tidak pernah takut akan hal apapun, bahkan kau berani pada kepala keluarga Ji yang tadi menatap mu dengan penuh dendam."


Zhishu menarik napas dalam, sorot matanya meredup dengan cepat, "aku juga tidak tau hal ini dikatakan menakutkan atau tragis.Tidak dicintai oleh ibu sendiri. Hah! Bahkan seekor binatang paling buas pun sayang pada anaknya.Aku rasa bakat yang ku miliki ini dibayar dengan seluruh kasih sayang ibu yang seharusnya ku dapatkan dari kecil!"


"Oh Dewa! Sungguh tragisnya aku..."


...*******...


...Assalamualaikum! Mumpung masih lebaran, saya Moonie Melsa selaku author dari novel Kultivator Jenius Penentang Langit ini ingin mengucapkan:...


...Minal Aidzin Waalfaidzin, mohon maaf lahir dan batin. Segala kesalahan mohonlah kiranya dimaafkan, karena yang sempurna hanyalah milik Allah SWT....


...Semoga di tahun depan kita bisa bertemu lagi dengan bulan Ramadhan dan juga bisa kembali merayakan Hari Raya Idul Fitri dengan perasaan yang bahaga....


...Aamiin......