
"Jiah!!" seru Keenan saat melihat berita tentang Flo yang diberikan Tessa padanya. "Ternyata kak Flo memang tidak sepolos itu, 'kan?"
"Setidaknya mereka memiliki ikatan, Bos," komentar Tessa.
"Kau menyindirku, ya?" Keenan jadi jengah karena selama ini dia selalu menjalin hubungan tanpa ikatan.
"Kalau merasa berarti iya," jawab Tessa yang jengah karena selalu menemani Keenan saat berkencan dengan wanita yang berganti-ganti. "Dan menurut Kevin, tuan Mattew sudah membatalkan rencana pernikahan!"
"Kau dekat dengan Kevin, ya?" tanya Keenan penuh selidik.
"Pekerjaan saya mengharuskan dekat dengan semua orang," sahut Tessa yang seorang sekretaris perfeksionis.
"Jangan sampai lengah, kita tidak tahu Mattew benar-benar melepas kak Flo atau tidak, orang pendiam kadang menghanyutkan," ucap Keenan memberi peringatan. "Apa daddy sudah tahu?"
"Sepertinya tuan Grey sudah mengetahuinya," jawab Tessa.
"Aku ingin pulang cepat malam ini, aku ingin melihat kakak iparku itu seperti apa," ucap Keenan yang penasaran dengan Axe.
Sementara Axe sendiri saat ini tengah sibuk mencumbu Flo di ruang kantornya. Setelah kepergian Mattew, Axe terus posesif terhadap istrinya.
"Hentikan!" Flo berteriak karena Axe berusaha membuka bajunya. "Jangan di sini, okay!"
"Aku ingin memastikan kalau kau hanya milikku, darling," ucap Axe yang tetap tidak mau melepas Flo.
"Kita harus mengambil barang-barangmu, mulai malam ini, kau harus tinggal di mansion," sahut Flo berusaha mengingatkan.
Axe segera sadar jika dia harus mempersiapkan mental menghadapi Grey malam ini.
"Semua akan baik-baik saja," tambah Flo.
"Apa skandal itu akan berpengaruh buruk padamu, darling?" tanya Axe memastikan, padahal dia sendiri yang membuat rencana dan sekarang justru Axe khawatir jika skandal itu akan berdampak buruk terhadap bisnis Flo.
"Aku juga tidak tahu, kita lihat saja besok. Pasti pembatalan pernikahanku akan segera tersebar dan bersiaplah dicap sebagai perebut calon istri orang," jawab Flo yang membuat Axe menggaruk kepalanya.
"Setelah keluar dari dunia mafia, aku justru mendapat gelar seperti itu," keluh Axe tak habis pikir tentang jalan hidupnya yang tak terduga. Dan semua itu hanya karena satu wanita.
Saat sampai apartemen, Flo membantu Axe mengemasi barang-barang lelaki itu. Flo memilah-milah baju Axe yang kotor dan bersih.
"Yang kotor bisa langsung masuk ke laundry mansion dan yang bersih kita masukkan ke koper. Dan barang-barangmu yang lain sebenarnya kita bisa membelinya ulang!" gumam Flo yang melakukan perannya sebagai istri.
Axe mengulum senyumnya, dia terus menatap Flo yang sibuk menyusun semua keperluannya.
"Aku pasti akan sukses dan menjemputmu dari mansion orang tuamu, darling. Kita akan membangun rumah sendiri untuk kita tinggali berdua dan bersama anak-anak kita nanti," ucap Axe kemudian.
"Wow! Kau ternyata sudah memikirkan sejauh itu, Mr. Mafia. Aku pikir, kau tidak mau punya anak!" sahut Flo yang tidak menyangka jika Axe akan berpikir demikian.
"Sebenarnya memang itu terlalu cepat untukku tapi..." Axe kembali mencium istrinya. "Dengan anak, aku akan benar-benar yakin kau adalah milikku!"
"Aku memang milikmu!" Flo membalas ciuman suaminya.
Mereka berciuman begitu dalam dan penuh gairah sampai Axe membimbing Flo untuk berdiri, Axe merapatkan tubuh Flo ke dinding.
"Kita akan membuat anak sebentar!" Axe menaikkan rok yang Flo kenakan kemudian dia membuka celananya.
Axe mengangkat tubuh Flo dan berkata. "Sekarang kunci kedua kakimu di pinggangku, darling!"