Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
Spesial Bab Sembilan


Spesial Bab Sembilan


Jari jemari lentik Anggi bermain-main pada jejeran kancing kemeja Arjuna. Semua tangis marah dan takutnya sudah sepenuhnya mereda, tetapi ia tak mau beranjak dari tempat tidur, malah berlama-lama bergelung di pelukan penuh rasa aman sang suami.


"Jujur, aku sangat takut Mas berpaling dariku setelah begitu banyak hal kita lewati bersama sampai detik ini. Dulu, di awal-awal pernikahan mungkin aku enggak akan begitu peduli. Tapi sekarang berbeda situasi. Rasanya membuatku gila walaupun baru hanya membayangkan. Sebenarnya aku benci ngomong gini karena pasti bikin Mas besar kepala!"


Decak sebal mengiringi pengakuan Anggi. Memilih mengungkapkan isi hati daripada berakhir gundah sendiri, walaupun lidahnya mendadak kebas setelah mengucapkannya secara gamblang pada si pria jahat yang telah membuatnya jatuh cinta sedalam-dalamnya.


Senyum bahagia Juna terukir lebar, puas juga gembira. Hatinya berbunga-bunga, debar cintanya semakin tumbuh subur selepas kesalahanpahaman terurai bersama pengakuan berderai. Meraih dagu Anggi, Juna mendongakkan sang istri yang sedang asyik memainkan kancing kemejanya. Mengecup lembut bibir merah yang mencerocos.


"Dan aku akan menjadi pihak yang lebih gila kalau itu sampai terjadi. Berpaling darimu sama saja dengan bunuh diri. Kamu yang membuatku mampu menerima kenyataan dan menyadarkanku untuk berdamai dengan luka beracunku. Bodoh namanya kalau aku memilih meracuni diriku lagi sekarang." Juna berkata dengan nada serius yang seketika membuat tatapan Anggi melembut syahdu.


"Jangan pernah meminum racun yang sama lagi, aku akan menghukum Mas kalau itu terjadi, kukasih baygon sekalian!" peringat Anggi galak sembari menatap Juna lekat-lekat yang dibalas tawa kecil dari pria yang memeluknya.


"Sudah ada madu manis penawar yang tersaji melimpah di hadapanku. Jadi sama sekali enggak ada alasan melirik racun masa lalu. Tapi, kenapa kancingnya cuma dimainin? Kalau mau dibuka ya buka saja, aku enggak keberatan." Juna menggoda istrinya yang baru menjinak dari mode mengamuknya. Mengecup kening Anggi memuja.


"Ya, maksudnya biar kamu enak raba-rabanya. Lebih enak kalau enggak terhalang kain kan? Kamu enak aku juga enak. Atau, mau dienakin juga?" kekehnya. Tangan Juna yang semula berada di pinggang belakang Anggi, merayap turun pada bongkahan bulat padat dan menarik lembut tubuh sang istri supaya makin merapat padanya dengan tetap menjaga posisi supaya tidak menekan perut yang menonjol.


Anggi melayangkan tatapan sebal pada Juna yang sedang menunduk padanya sembari menyengir geli.


"Ish, tiap nempel pasti ujung-ujungnya omes. Akutu pingin pelukan gini ingin menikmati cudle time, bukan mau goyangin ranjang terus," gerutu Anggi, mencubit pipi Juna kencang membuat suami tampannya itu tertawa renyah.


"Mau bagaimana lagi, dekat-dekat kamu pinginnya menyiram terus. Apalagi saat hamil begini kamu makin seksi. Tapi kali ini aku sedang berusaha mengerem keinginan itu, daripada anak kedua kita berdemo lagi padaku seperti sewaktu aku mengunjunginya terlalu bersemangat selepas makan siang ketika kamu berkunjung ke kantor minggu lalu. Kamu ingat kan, apa yang terjadi setelahnya?"


Mengingat kejadian siang itu Anggi terkikik-kikik geli. Selepas Juna terlalu berkobar mengayuh surga dunia di ruangan pribadinya di kantor Royal Textile, Juna disiksa mual hebat yang lebih parahnya tidak bisa mereda hanya dengan aroma bra saja, baru membaik setelah ditambahkan menghirup aroma panty g-string sang istri, dihukum si janin yang sepertinya marah dilanda banjir bandang dahsyat.


"Dasar mesum akut!"