Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 63 a


Istri Arjuna bab 63a


Pagi-pagi sekali. Terdengar percakapan dari arah pagar depan. Anggi yang kebetulan turun ke bawah hendak menuju ke ruang makan untuk memeriksa menu sarapan, membelokkan langkah ke depan rumah. Ingin melihat siapa yang datang di suasana pagi akhir pekan. Salah satu satpam yang berjaga di pintu depan tergopoh-gopoh menghampiri begitu melihat Anggi muncul teras.


“Siapa yang datang?” tanya Anggi langsung.


“Ada orang yang meminta bertemu Ibu. Katanya ketua RT dari tempat tinggal Bu Ningrum. Tapi kami harus memastikannya dulu sebelum mempersilakannya masuk. Sebagai antisipasi dari hal-hal yang tidak diinginkan juga bagian dari tugas kami.”


“Ketua RT dari tempat ibu?” Anggi mengernyit. Buru-buru mengayunkan kaki mendekati pagar dan mempercepat langkah begitu mengenali siapa yang datang.


“Pak satpam buka saja pagarnya,” titah Anggi cepat.


“Pak RT, silakan masuk,”ucap Anggi sopan. Cukup terkejut kedatangan ketua rukun tetangga dari tempat tinggal ibunya.


“Tidak usah, Mbak Anggi. Saya tidak akan lama karena masih banyak hal yang harus diurus. Saya ke sini sebagai perwakilan, diminta Mbak Ayu untuk mengabari karena dia tak enak badan. Katanya Mbak Ayu Sudah mencoba menghubungi melalui telepon sejak semalam, tapi tidak diangkat dan sekarang ponsel Anda maupun suami tidak bisa dihubungi. Ingin mengabari bahwa Bu Ningrum pingsan di rumahnya malam tadi. Saya dan para warga yang melarikannya ke rumah sakit.”


“I-ibu pingsan?” Anggi terkesiap. Terkejut mendengar kabar ini. Setahunya minggu lalu kondisi ibunya cukup baik kendati memang tidak sembuh seutuhnya.


“Iya, Mbak. Saya sarankan Mbak segera datang ke rumah sakit. Dokter mengatakan kondisi ibu Ningrum memburuk, lebih buruk dari sebelumnya.”


Anggi merasa kepalanya berputar-putar seketika. Ia bahkan berpegangan pada besi pagar guna menopang tubuhnya yang tiba-tiba tak bertenaga. Lemas juga gemetar.


Juna menyusul ke halaman saat tidak mendapati sang istri di ruang makan. Dia beranjak ke depan saat mendengar suara-suara perbincangan dari arah depan rumah. Juna berhenti sejenak untuk mengamati dan seketika berlari cepat saat melihat Anggi limbung nyaris ambruk.


“Anggita, ada apa?” tanyanya cemas. Meraup Anggi dalam lingkaran lengan kokohnya. Bola matanya berlarian. Beradu pandang dengan manik Anggi yang kini basah menggenang.


“Aku ingin ke rumah sakit sekarang juga. Tolong bawa aku ke sana secepatnya,” pintanya panik sembari mencengkeram kemeja Juna, mencari kekuatan di sana.


Juna kebingungan. “Rumah sakit?”


Juna dibuat terkejut, lalu mengangguk cepat. Menyusut penuh sayang lelehan panas yang mulai menganak sungai di wajah Anggi. “Tenangkan diri, hmm. Kita berangkat sekarang.”


Tangis Anggi pecah sesampainya di depan ruang perawatan intensif. Di dalam sana, ibunya memejam dengan berbagai peralatan medis terpasang, tersambung ke tubuh ringkih wanita paruh baya itu. Entah belum siuman atau sedang tidur Anggi pun tak tahu.


Ia hanya bisa melihat melalui kaca tembus pandang saja. Tidak ada yang diperbolehkan masuk kecuali dokter dan perawat.


“Aku ingin masuk, Mas. Tolong, minta dokter untuk mengizinkanku masuk. Aku ingin bertemu ibu, aku ingin memeluk ibu,” pintanya tersedu penuh harap. Menggoyangkan lengan Juna memohon. Wajahnya sudah basah sepenuhnya. “Kenapa bisa jadi begini?”


“Sabar, Sayang. Bersabarlah sebentar. Aku akan berusaha. Untuk sekarang biarkan dokter bekerja.”


Ini merupakan kondisi terburuk yang pernah terjadi pada Ningrum. Juna berusaha menenangkan istrinya meski jujur saja hatinya juga resah. Sekilas tadi, dia sempat bertanya pada salah satu perawat yang keluar dari ruang ICU, dan perawat hanya menggeleng lemah disusul kalimat supaya banyak-banyak berdoa.


“Ibu pasti bangun lagi kan, Mas? Ibu sudah berjanji akan menemaniku saat melahirkan nanti. Ibu tidak akan ingkar janji kan, Mas?” tanyanya lirih pada Juna, sorot matanya memohon dikuatkan.


Juna menangkup lembut kedua sisi wajah Anggi. “Untuk sekarang yang harus kita lakukan adalah berdoa. Memanjatkan harapan terbaik. Kita berdoa bersama,” jawabnya sebisa mungkin memberi kekuatan walaupun dirinya juga tak yakin. Membawa Anggi yang punggungnya berguncang ke dalam pelukan. Mengusap lembut berusaha menenangkan.


Sementara itu di toilet rumah sakit. Ayu sedang bersimpuh tersiksa mual muntah hebat hingga wajahnya memucat seperti tidak dialiri darah.


Ayu gemetaran lalu menangis. Mulai ketakutan akan imbas dari perbuatannya yang membuat ibunya memburuk dalam sekejap.


Jujur, dia amat terkejut. Meski sering berulah, Ayu tak pernah menginginkan ibunya sampai drop seperti sekarang ini, walaupun dulu sempat membuat Ningrum menginap lebih lama di rumah sakit akibat ulahnya yang kesemuanya karena terlalu menghamba pada uang dan berakhir dengan dirinya dihantui ketakutan selama beberapa waktu.


Kehamilannya yang terjadi tanpa diduga meluluhkan kecongkakannya. Yang terburuk adalah, dia bahkan tidak tahu benih laki-laki atau suami orang yang mana yang berhasil tumbuh di rahimnya. Mengingat yang menebar saham bukan hanya satu orang. Ayu sempat terlupa akan kontrasepsinya lantaran terlena akan kesenangan laknat. Pergaulan bebasnya menyeretnya pada lubang nista.


Meratapi nasib diri. Ayu terduduk di lantai. Menangis dalam kekalutan.


Bersambung.