Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
Spesial Bab Lima


Spesial Bab Lima


Pintu kamar didorong perlahan. Juna melangkah masuk hati-hati, tak ingin mengagetkan.


Benar saja, di ranjang besar mereka, Anggi sedang berbaring miring membelakangi arah pintu. Isakan kecil pun terdengar, dengan gerakan tangan menyusut sudut mata, membuat rasa kaget Juna memuncak.


Membuka jas dan menaruhnya di meja rias, dengan cepat Juna memutar menghampiri, duduk di tepi ranjang. Wajah cantik istrinya sembap, terisak dengan raut kesal.


"Hei, ada apa hmm? Kenapa pulang duluan? Tadi aku kaget, pas aku kembali, di ruanganku sudah enggak ada kamu. Bukankah kita sudah sepakat pulang bareng? Tadi katanya mau mampir ke kafe?" Juna bertanya lembut, membelai rambut Anggi, tetapi ditepiskan oleh si wanita hamil yang sedang marah itu.


"Gak usah pegang-pegang!" ketusnya sengit. Mengubah posisi berbaringnya, membelakangi Juna.


Memanglah efek hormon kehamilan membuat ibu hamil menjadi lebih sensitif. Mudah marah, mudah overthinking, juga mudah menangis.


Juna semakin dibuat bingung oleh reaksi istrinya yang mendadak berubah galak seperti ayam beranak, padahal tadi siang mereka berbincang mesra.


Juna yang sekarang, lebih mudah memaklumi jika itu berkaitan dengan Anggi, lembut hati dan tak gampang terprovokasi. Akan tetapi, pemakluman tersebut hanya berlaku untuk anak dan istrinya saja, sedangkan untuk yang lainnya tidak ada pengecualian dari arogansinya.


Naik ke tempat tidur. Juna ikut bergabung berbaring miring. Menyusupkan lengan memeluk istri cantiknya. Meskipun Anggi menyikutnya kencang sebagai aksi penolakan.


"Jangan cium-cium!" kesal Anggi berang. Bersusah payah bangun. Turun dari tempat tidur tak sabaran dibantu Juna yang meringis ngeri dengan gerakan sembarangan wanitanya yang sedang mengandung benihnya itu. "Jangan dekat-dekat aku!"


"Oke, oke. Aku janji enggak dekat-dekat. Tapi, sebenarnya ada apa kamu mendadak marah padaku, Sayang?" Juna mencoba bernegosiasi dengan Anggi yang sedang dalam mode galak. Dia tak tak tahu di mana letak kesalahannya, sehingga membuat istrinya lembutnya berubah mode menjadi singa garang.


"Mas pikir saja sendiri. Mas jahat!" serunya sembari berlinang air mata.


Kalimat sakti para wanita yang ingin dimengerti pasangannya, tetapi tidak mau menjelaskan. Menganggap para suaminya adalah sejenis cenayang. Dengan embel-embel klasik lelaki tidak peka. Padahal jika ditelaah secara saksama, bagaimana si pria bisa tahu duduk perkaranya jika tidak dijelaskan.


Anggi berderap keluar kamar tak memedulikan Juna yang memanggilnya. Mood swing di kehamilannya kali ini terbilang ekstrem. Sering tiba-tiba naik sangat gembira di saat merasa senang, dan di menit kemudian bisa langsung menukik terjun bebas dilanda kesedihan teramat sangat padahal hanya disebabkan hal kecil yang mengusik hatinya, tak ubahnya bocah. Terlebih lagi kali ini penyebabnya adalah perkara bak membuka luka lama, melibatkan VN Fashion sebagai penyebab utama, sehingga kesedihannya berkali-kali lipat imbasnya.


"Sayang, maaf kalau aku bikin kamu marah. Tapi tolong jelaskan apa salahku. Tolonglah." Juna memelas.


"Aku gak mau ngomong sama Mas!" Anggi mendorong pintu kamar lain yang nantinya akan dijadikan kamar anak keduanya. Membanting pintunya kencang nyaris menghantam hidung mancung suaminya andai Juna tidak cepat memundurkan wajah.


Juna bermaksud menyusul masuk, tetapi ternyata Anggi menguncinya dari dalam, membuat si pria yang akan segera memiliki dua buah hati itu kelabakan juga kebingungan.


Bersambung.