
Istri Arjuna Bab 59b
“Aku rindu Maharaniku yang dulu.” Barata berkata lirih. Menenggelamkan wajah di lekuk leher istrinya bersamaan dengan lingkaran kedua lengan yang kian menguat.
Suaranya parau sendu. Barata memejam, menghidu aroma alami wanita didekapannya yang semakin hari terasa berbeda, nyaris tak dikenalinya lagi. Seolah ada aroma lain yang menyelinap keluar dari ruang tersembunyi jauh di lubuk sanubari istrinya itu.
Sejak dulu, Maharani memang memiliki sifat keras kepala tak ubahnya Juna. Istrinya itu juga terkadang masih terjebak sindrom tuan putri dan semakin berkurang porsinya setelah mereka menikah.
Di balik semua itu, Maharani memiliki sisi manis yang telah membuat Barata jatuh cinta. Maharani menyukai anak kecil. Kerap menyisihkan uang saku yang diberikan orang tuanya ketika masih berstatus mahasiswi untuk berdonasi ke panti-panti asuhan, bahkan tak segan membantu anak-anak korban bencana ketika pihak kampus ikut berpartisipasi.
Maharani muda sering berlelah-lelah terjun sendiri mengevakuasi dan menghibur anak-anak yang kehilangan orang tuanya. Ikut membantu mempersiapkan konsumsi di tengah keterbatasan alat, bahkan tanpa risih ikut menemani anak-anak makan dengan menu seadanya beralaskan daun pisang atau kertas nasi. Duduk di terpal kotor bernoda tanah di mana-mana. Begitu mengayomi di saat berbaur dengan anak kecil dan sindrom tuan putrinya akan hilang begitu saja ketika Maharani berinteraksi dikelilingi anak-anak
Mungkin, bagi kebanyakan orang itu hal lumrah, terkesan biasa saja. Akan tetapi status Maharani sebagai satu-satunya anak perempuan dari pasangan pengusaha kaya raya, di mata Barata hal itu merupakan hal luar biasa. Membuatnya terkagum-kagum, menumbuhkan benih-benih cinta dan tak disangka rasanya berbalas.
Maharani tak memandang sebelah mata padanya yang notabene berasal dari keluarga sederhana. Menghargai tulus rasanya dan juga mengapresiasi setiap prestasi yang diraih Barata sebagai salah satu mahasiswa dengan IPK tertinggi di kampus kala itu.
Namun, sejak dua tahun lalu tepatnya sejak banyak mengikuti terapi kandungan. Maharaninya yang manis, manja sekaligus penuh kepedulian ketika bersama anak-anak, perlahan-lahan mulai berubah.
Maharani sedikit demi sedikit menghindari berinteraksi dengan anak-anak yang dulu amat disukainya. Sindrom tuan putrinya menyeruak, sifat keras kepalanya menjadi, disertai emosi yang sering tak terkendali. Juga kerap cemburu buta jika Barata terlihat dekat maupun berinteraksi dengan wanita mana pun, padahal kebanyakan Barata berinteraksi hanya untuk keperluan pekerjaan saja, tidak lebih.
Semakin parah setelah Juna menikah saat mendapati suaminya untuk sejenak kagum pada adik iparnya di acara pernikahan. Padahal hanya kagum sekilas dalam batas wajar, bukan kurang ajar. Puncaknya adalah ketika Anggi dinyatakan hamil. Semua keluarga menyambut penuh sukacita, terlebih lagi sang nenek.
Semua orang di sekelilingnya terus menerus membahas kehamilan adik iparnya itu. Dirinya merasa tersingkir, semakin tertekan, karena hal yang sangat diinginkannya kini dimiliki oleh sosok yang pernah membuatnya tersulut cemburu, oleh karena itu emosinya semakin tak terkendali.
Barata mengendurkan pelukan. Menghela napas panjang dan menatap istrinya yang memasang raut datar dengan kening berkerut. Disentuhnya kening Maharani yang terlipat dan mengusapnya lembut.
“Kendurkan keningmu. Saat dahi ini rileks, kamu semakin terlihat cantik,” ucap Barata lembut, mengulas senyum getir di sudut bibirnya.
“Hari ini kamu aneh, Mas!” ketus Maharani yang masih membalas tatapannya dengan sorot datar saja.
Barata mengangsurkan telapaknya. Mengelus lembut pipi kemudian membelai rambut pendek istrinya yang dulu biasanya selalu panjang indah terurai.
“Aku aneh mungkin karena aku rindu Maharaniku. Maharaniku yang berjaket merah, sedang makan dengan daun pisang sebagai piringnya. Duduk bersama anak-anak beralaskan terpal bernoda tanah di mana-mana.” Suara Barata tercekat. Menatap prihatin pada istrinya yang kini hampir tak dikenalinya.
Maharani memalingkan muka sembari meremas ujung dress yang dipakainya. Tampak menelan ludah terlihat dari lehernya yang bergerak resah. Barata menyentuh dagu wanita yang masih berada dalam dekapan sebelah lengannya itu. Menelisik dengan sorot lembut, bukan menghakimi.
Barata ingin istrinya itu sukarela mengungkap tabir yang membuat Maharaninya yang dulu seakan hampir lenyap di telan Bumi, tetapi jika dipaksa keras sudah pasti nihil, takkan membuahkan hasil.
Barata mengecup kening Maharani yang masih berkerut. Kali ini, istrinya itu perlahan melemaskan seluruh tubuhnya yang tadi menegang penuh antisipasi. Memejam saat Barata beralih turun mengecup hidung dan mencium bibirnya.
Biasanya Maharani akan menolak dimesrai di sembarang waktu. Selalu terjadwal sesuai dengan jadwal yang dibuatnya dalam upaya menginginkan keturunan. Tak ubahnya seumpama meminum obat. Tidak ada lagi momen memadu kasih penuh cinta. Yang ada hanya kegiatan melebur demi mengejar pembuahan.
Merasa istrinya membuka diri yang merupakan hal yang amat langka di dua tahun terkahir ini, Barata tak menyiakan kesempatan, menggendong Maharani naik ke peraduan. Ingin meleburkan diri dan menghujani cinta, bukan dianggap sebagai penebar benih semata. Berharap dengan kelembutan dalam penyatuan penuh sayang, mampu membuka gerbang untuk bisa bicara dari hati ke hati.
Bersambung.