Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 70a


Istri Arjuna Bab 70a


Marina sekeluarga bertolak ke Jakarta setelah mendapat kabar duka dari Arjuna. Tak menunda kala mendengar sang besan telah menutup mata.


Kediaman Ningrum dipenuhi orang-orang yang datang di sore hari nan hangat berpadu gerimis lembut. Berhadapan dengan tamu yang terus berdatangan, Anggi tergugu di pelukan Juna, terisak tersedu. Mengigit bibirnya kuat-kuat, menahan diri untuk tidak meraung saat banyak pelayat yang memenuhi rumah.


Ya, Ningrum telah berpulang, setelah tak henti mengkhawatirkan anak-anaknya bahkan di detik-detik terakhir. Ningrum menutup mata dalam kondisi damai dan tersenyum. Seolah tertidur pulas, hanya saja tidurnya kali ini takkan terbangun lagi.


Kira-kira dua jam lalu ketika sedang merapikan kue yang dibeli Pak Oman ke dalam nampan, Anggi termenung menggali ingatan tentang orang yang bernama Ibu Rumini, sebab sejak tadi nama itu terasa mengganjal, menganggu pikirannya. Sementara Juna sedang menghubungi dokter dan berbicara dengan perawat di teras depan.


Setelah ingatannya bekerja dengan baik, Anggi terkesiap hingga menjatuhkan nampan yang dipegangnya. Sekujur tubuhnya gemetar lemas. Dengan kedua kakinya yang goyah, ia berjalan terseok-seok menuju kamar ibunya kala teringat bahwa Bu Rumini yang dibicarakan ibunya tadi sudah meninggal dunia satu bulan lalu.


Dan saat Anggi memeriksa kondisi ibunya yang tertidur, ia tidak merasakan debaran jantung ibunya saat telapaknya mendarat di sana, bahkan Anggi menempelkan telinganya ke dada ibunya.


Juna yang sedang berada di teras, menghambur ke kamar begitu terdengar raungan kencang istrinya. Dokter yang baru tiba ikut masuk bersama perawat, memeriksa secara saksama dan menyatakan Ningrum sudah pergi.


Tangis Anggi pecah. Meski semua usaha telah diupayakannya, ia tetap merasa kurang berusaha demi ibunya, orang yang paling diperjuangkan dan disayanginya. Kata-kata penghiburan terus Juna bisikkan ke telinga istrinya, meski matanya juga berkaca-kaca, ikut berduka sedalam-dalamnya, merasa kehilangan. Terlebih sang istri yang terus berurai air mata.


"Mas, di mana Mbak Ayu?" tanya Anggi lirih pada suaminya, terbungkus isak tangis dalam rangkulan kokoh yang tak melepaskan dirinya dari dekapan.


Orang-orang yang jauh dari Bali pun sudah tiba, tetapi Ayu sebagai anak tertua masih tak kelihatan batang hidungnya.


"Akan kuminta Pandu untuk mencari dan membawa Mbak Ayu pulang secepatnya," jawab Juna setengah berbisik yang kemudian langsung mengubungi Pandu.


Langit jingga begitu cerah, hujan ringan turun membelai tanah. Mengantar kepergian ibunda seakan angkasa ikut tersenyum karena Ningrum sudah tak merasakan lagi sakit di raga, tetapi juga berselimut hujan seolah ikut menangis akan kepergiannya.


Para pelayat yang mengantar mulai pulang satu persatu. Sedangkan Ayu, sampai ibunya dipeluk bumi pun masih tak terlihat keberadaannya.


"Sayang, ayo kita pulang. Angin malam kurang baik untuk kondisimu yang sedang hamil. Yang sekarang ibu butuhkan adalah do'a. Kamu sudah melakukan yang terbaik untuk ibu, ibu pasti sedih melihatmu terus menangis." Juna membujuk Anggi pulang saat langit berangsur gelap. Anggi masih betah duduk di hadapan gundukan tanah yang dipenuhi taburan bunga.


"Ibu sudah enggak sakit lagi kan, Mas?" tanyanya parau dan lemah. wajahnya sudah sepenuhnya sembap.


"Tentu, bahkan ibu tersenyum cantik saat menutup mata." Juna mengusap-usap punggung istrinya lembut.


Setelah beberapa saat memeluk pusara, Anggi akhirnya bersedia diajak pulang. Juna menggandeng Anggi, memapah jalan karena istrinya itu terus melirik ke belakang.


Semua mobil melaju pulang beriringan. Juna duduk di kursi penumpang tanpa melepaskan rangkulannya pada Anggi. Sangat cemas istrinya merapuh karena pasti masih dalam kondisi syok, meski Anggi sudah berangsur tenang, tak.


Ponsel Juna berdering dihubungi Pandu. Juna terkesiap saat mendengar kabar yang disampaikan asistennya itu. Memilih bungkam dulu untuk sekarang, khawatir Anggi makin terguncang.


Pak, Mbak Ayu ada di kantor polisi, ikut terciduk saat bermain judi.


Bersambung.