
Istri Arjuna bab 66b
Tangisan Anggi pecah seketika, tersedu-sedu, berbalut amarah juga pilu. Sementara Ayu yang memucat, mundur hingga terduduk di kursi besi panjang yang terdapat di lorong sepi itu.
“Mbak merenggut ibu dariku. Kembalikan ibuku seperti sebelumnya, kembalikan padaku! Ibu sudah mulai membaik, tapi Mbak menghancurkan semua upayaku! Kembalikan ibuku!” teriak Anggi menuntut dalam tangisnya. Ayu tidak menjawab. Bungkam sembari meremat jari jemarinya resah.
Juna mengeratkan rangkulan. Mengecup puncak kepala Anggi dalam-dalam. Mengusap punggung istrinya yang bergetar hebat. Sangat paham dengan perasaan Anggi sekarang. Perjuangan Anggi demi ibunya memanglah bukan isapan jempol belaka. Dari semenjak bekerja, semua penghasilannya difokuskan untuk pengobatan ibunya, bahkan rela menggadaikan rasa sakitnya sendiri ketika dibawa ke dalam pernikahan bak neraka oleh dirinya dan kesemuanya itu dikorbankan demi ibu yang dikasihi.
Segala hal yang terjadi memanglah tak lepas dari suratan takdir, tetapi tentu saja manusia tak boleh putus dalam hal berusaha. Juna ingin mengatakan itu supaya suasana sekarang bisa sedikit lebih tenang, cemas Anggi tertekan dan malah berakhir buruk pada kandungannya.
“Anggita, Sayang. Kendalikan emosimu. Kasihan bayi kita di dalam sana, dia pasti terkejut,” bisik Juna lembut. Ingin mengatakan bahwa semua ini tak lepas dari suratan takdir, tetapi mengurungkannya lantaran merasa situasinya tidak tepat. Istrinya sedang diserbu kekecewaan yang disebabkan oleh saudara kandungnya. Yang diperlukan Anggi sekarang adalah penghiburan menenangkan, bukan cecaran nasehat.
Lutut Anggi melemah. Menenggelamkan wajah basahnya di dada Juna. Meremat kuat kemeja suaminya mencari kekuatan di sana. Dengan sigap, Juna menopang dan membawa Anggi ke dalam rangkulan aman. Memilih tak berkomentar lebih dulu. menenangkan Anggi sekarang lebih utama. Terlebih lagi permasalah pelik semacam ini takkan selesai dibahas hanya dalam hitungan jam.
Ini adalah pertama kalinya Anggi kalap dan meluapkan kemarahan gamblang pada kakaknya. Biasanya Anggi memilih diam saat Ayu berulah atau menegur baik-baik. Menelan emosinya bulat-bulat karena tidak ingin membuat ibunya sedih menyaksikan anak-anaknya tak akur.
Sejak Ayu bergaul dengan teman-teman dari kalangan sosialita kira-kira tiga tahun lalu, kakaknya yang memang sejak dulu memiliki sifat keras jika menginginkan sesuatu, bertambah parah dan menjadi-jadi.
Ayu nekat menceburkan diri dalam pergaulan itu demi ambisi mencari laki-laki kalangan atas yang bisa dijadikannya tambang uang tanpa harus bekerja. Ingin memilih jalan pintas hidup senang yang membungkus teman-teman sepergaulannya tanpa harus bersusah payah yang malah berakhir terjerumus dalam lingkaran setan yang awalnya terlihat laksana surga
Ayu tergerus arus yang seharusnya tidak dimasukinya. Tak mengindahkan nasehat ibunya yang tidak bosan mengingatkan, abai kan kasih sayang nyata dan memilih kesenangan semu yang berakhir membelenggunya dalam nista.
Nasib akhir dari si sampan sudah pasti bisa ditebak. Sampan kayu yang hanya mumpuni mengarungi sungai itu pasti akan tergerus arus. Hanyut tak mampu melawan ombak, retak, kemudian hancur berkeping-keping diterjang gelombang dan badai, lalu terlanjur tenggelam tanpa mampu menepi.
Juna membawa Anggi pergi dari sana. meninggalkan Ayu yang termenung menunduk dalam tanpa kata. Juna membawa Anggi ke taman rumah sakit. Duduk di salah satu kursi taman tanpa melepaskan pelukan.
“Aku ingin ibuku lebih lama denganku, Mas. Aku harus bagaimana? Tolong, bantu aku, Mas, bantu aku. Aku ingin ibu juga memelukku saat cucunya lahir nanti.” Anggi menengadah. Menatap Juna penuh harap dengan bola mata basahnya seperti anak balita yang kehilangan ibunya di keramaian.
Hati Juna terasa ngilu tak terperi. Istrinya begitu rapuh. Andai ada yang masih bisa diupayakannya, tentu saja Juna akan melakukan segalanya, bahkan memang telah melakukan segalanya. Entah di saat sebelum dia menyadari Anggi berarti terlebih lagi sekarang.
“Anggitaku yang kuat. Tegarlah, Sayang. Kita sudah mengupayakan semua yang kita bisa, segalanya, dan kamu juga tahu itu, hmm?” Juna berujar lembut. Membelai rambut Anggi sebelum meneruskan kalimatnya. “Walaupun arti diriku untukmu tentu tak sepadan dengan berartinya ibu, tapi masih ada aku yang akan selalu memelukmu hingga akhir hayatku. Aku yang akan menggantikan pelukan itu jika ibu tak lagi di sisi kita, kendati aku tahu itu pasti rasanya takkan pernah sama.”
Juna mengusap air mata yang semakin deras mengalir di wajah wanita tegar yang tengah mengandung buah hatinya itu.
“Yang harus kita lakukan sekarang adalah jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada, bersama harapan yang terus kita langitkan,” hiburnya, menatap dengan sorot mata hangat menyalurkan ketenangan.
“Mas,” cicit Anggi serak. Memasrahkan diri kembali ke dalam pelukan suaminya. Juna mengeratkan rangkulan penuh sayang. Membiarkan Anggi memuaskan tangisnya ditemani sejuknya semilir angin malam.
Bersambung.