Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)

Istri Arjuna (Sebatas Pelampiasan)
BAB 53b


Istri Arjuna Bab 53b


"Kenapa mendadak?"


Juna sedang menerima telepon. Mengapit ponsel di antara telinga dan pundak sementara tangannya sibuk menyuapi Anggi sarapan pagi. "Bukannya Mbak Rani sedang kurang sehat?"


"Mas, biar aku makan sendiri." Anggi berbisik mengusulkan. Merasa tak enak hati melihat Juna kerepotan. Menerima panggilan sambil menyuapinya.


Juna menggoyangkan telunjuk sebagai penolakan terhadap usulan sang istri. Menggerakkan mulut tanpa suara membentuk kata 'no'.


"Jangan khawatir, Rani sudah lumayan membaik. Sepertinya hanya efek kelelahan saja. Aku juga minta maaf, Juna. Tadinya aku ingin membantu lebih lama lagi mengurus perusahaan sampai Anggi pulih, berniat kembali ke Bali setelah istrimu boleh pulang ke rumah. Tapi, Rani meminta pulang lebih cepat karena sudah memiliki jadwal temu penting dengan dokter di Bali sejak jauh-jauh hari. Jadwal pertemuan program kehamilan." Suara Barata terdengar menyahuti.


"Tak masalah, Bang. Minta saja Pak Oman atau salah satu sopir di kantor mengantar ke Bandara. Maaf, aku tak bisa mengantar. Terima kasih, sudah membantuku mengurus perusahaan. Kalau sudah sampai di Bali, kabari aku. Semoga programnya lancar dan berhasil."


Anggi beringsut menegakkan punggung ketika Juna menyinggung kata pulang dengan Barata. Menajamkan telinga mencuri dengar sampai panggilan berakhir.


"Jadi, Bang Bara dan Mbak Rani mau pulang hari ini?" tanya Anggi ingin tahu setelah Juna menyudahi panggilan.


"Hmm." Kepala Juna mengangguk mengiyakan sembari mengambil segelas air putih kemudian menyodorkannya pada Anggi.


"Mereka mendadak pulang hari ini karena Mbak Rani punya jadwal konsultasi program kehamilan dengan dokter kandungan di Bali. Bang Bara titip salam buat kamu. Semoga lekas sembuh katanya. Juga minta maaf, karena takkan sempat berpamitan secara langsung pada kita."


"Oh, be-begitu rupanya." Embusan napas Anggi terdengar lega saat mendengar Maharani pulang, bercampur resah yang berusaha disembunyikan. Hanya saja Juna tak menangkap ekspresi itu. "Semoga program kehamilan Mbak Rani kali ini berhasil," sambung Anggi kemudian.


"Semoga. Bang Bara dan Mbak Rani sudah menanti begitu lama. Semoga kali ini berhasil. Mungkin kalau sudah punya anak, sifat keras kepalanya yang makin kesini semakin menjadi bisa agak berkurang," tukas Juna menimpali.


"Seperti halnya dengan sifat keras kepala seorang calon Papa yang sekarang sedikit berkurang juga, begitu?" sindir Anggi menggoda sambil melipat bibir.


"Makasih," cicit Anggi pelan. Meraih tangan Juna dan mengelusnya lembut.


"Untuk?" Si pria yang selalu tampan dalam segala suasana itu mengerutkan keningnya samar.


"Untuk semuanya. Aku mungkin lupa berterima kasih atas segala kebaikan Mas lantaran tertutupi rasa perih di hati. Makasih, selalu membantu mengusahakan yang terbaik demi kesehatan ibu serta menghormatinya sebagaimana mestinya. Makasih juga, karena menyelamatkanku yang hampir melakukan hal bodoh. Aku juga minta maaf, sebagai seorang istri, aku belum seutuhnya berbakti pada suami. Juga maaf, karena pikiran buntuku, pernah berniat melenyapkan buah hati kita," ucap Anggi tulus. Tak dipungkiri rasa syukur kini mulai bergema, terselip dalam hati setelah banyak hal terlewati.


Juna tersenyum masam. "Rasa-rasanya aku tak pantas menerima semua ucapan terima kasih juga maafmu," ujarnya getir.


Anggi menggeleng. "Tapi aku ingin. Ingin mengucapkan ini dan kamu pantas, Mas. Terlepas dari hal lain, Mas tetap bertanggungjawab penuh sebagai suami. Walaupun mungkin Mas sendiri tak menyadari itu."


Tatapan Juna melembut. Mengecup punggung tangan Anggi yang sedang menggenggam tangannya.


"Sebagai suamimu, sebetulnya merawat ibu sudah merupakan bagian dari kewajibanku. Saat menikahimu, maka ibumu juga menjadi ibuku. Setelah menikah, tidak ada yang namanya ibu sendiri dan ibu mertua, semuanya adalah Ibu kita. Hanya saja aku menggunakan titel suami itu padamu sebagai pembenaran atas arogansiku yang tanpa sadar membuatmu terluka. Tentang pikiran buntumu aku memahaminya sekarang setelah banyak berpikir. Kamu berbuat begitu pun disebabkan olehku. Oleh keegoisanku. Aku lah yang yang seharusnya lebih banyak meminta maaf."


Saling bicara dari hati-hati selalu berhasil mengurai berbagai prasangka di hati juga praduga di kepala. Memang bukan perkara mudah. Butuh waktu serta butuh alasan untuk saling terbuka. Alasan kehadiran si buah hati menjadi penawar ajaib yang perlahan mengurai simpul kusut kedua orang tuanya.


"Aku sayang kamu, Mas."


Anggi mengukir senyum cantik penuh syukur. Disambut Juna yang kian membungkuk mengecup kening Anggi dan menggesekkan hidungnya di hidung sang istri.


"Aku lebih sayang kamu, Anggita," desah Juna pelan disertai napas yang berembus dekat. Begitu hangat menerpa pipi Anggi. "Makasih, sudah bersabar selama ini."


Kini, bukan hanya hidung mancung mereka yang saling menggesek. Memiringkan kepala, bibir Juna ikut berlabuh di bibir merah Anggi. Mengecup mesra di sana yang dibalas kecupan mesra yang sama. Aroma cinta semerbak mewangi berpendar di udara. Pertanda dua keping hati telah saling menautkan rasa.


TBC