
Dari balik pohon itu aku merasa ada seseorang yang mengawasiku dan pria ini. Benar saja, baru beberapa langkah aku berjalan, sebuah anak panah melesat ke arah dada sebelah kiriku. Aku sudah berfirasat dengan kedatangan orang itu.. Dengan cepat aku menghindar dari anak panah itu.
Namun naas panah itu malah mengenai lengan kiriku. Darah mulai keluar dari goresan itu, membuat lengan kebaya putih ini terkena bercakan darah.
Aku masih memerhatikan luka di lenganku, tanpa sadar seseorang menarikku bagitu kuat. Saat menoleh ternyata pria yang menarikku tadi sedang melawan makhluk menyeramkan dan menjijikkan yang berusaha mendekatiku. Ralat, lebih tepatnya darahku.
Setelah makhluk itu hilang, makhluk menyeramkan yang lainnya pun datang. Jumlah mereka begitu banyak, dan rupa mereka semua beragam. Ada yang wajahnya hancur, ada yang mata dan tangannya hilang, dan banyak yang menyeramkan lainnya.
Dan mereka semua mengincar darahku.
Pria yang menolongku tadi merobek ujung bajunya dan dililitkan ke lenganku. Tangannya mengarah ke bercakan darah di tanah, dan darah itu berubah menjadi bunga berwarna merah. Pria itu mengepalkan tangannya, seketika bunga merah itu hancur meninggalkan bau harum yang menguar.
Melihat itu, semua makhluk yang mengerikan menatap marah ke pria tadi. Satu persatu dari mereka menyerang secara brutal.
Aku harus membantunya, tapi dengan cara apa. Karna terlalu lama berfikir, aku sampai tidak sadar kalau sesosok makhluk berbadan besar dan berbulu itu hendak menangkapku.
Saat hendak berlari, badanku terasa kaku. Sedangkan sosok tadi makin dekat ketempatku. Aku berusaha berteriak memanggil pria yang menolongku tadi, tapi suaraku seperti enggan keluar.
Dengan pasrah aku menutup mata, berdoa di dalam hati, semoga kejadian ini hanya mimpi.
Straassss
Aku merasakan sebuah cairan berbau amis mengalir dari atas kepalaku.
'Ya Tuhan, apa ini akhir dari hidupku. Aku bahkan belum ngerasain bagaiman rasanya punya pacar'
Sebuah bau busuk menusuk indra pemciumanku, membuat perutku serasa di aduk aduk. Kepalaku terasa berat, dan aku tak sadarkan diri.
*****
Aku merasakan sesuatu yang dingin dan basah mengusap wajahku. Perlahan aku mengerjapkan mata. Terdengar helaan nafas dan ucapan syukur dari orang orang di ruangan ini.
"Alhamdulillah, lo udah sadar" ucap seseorang dari arah sampingku. Saat menoleh, ternyata Aulya yang sedang mengelap wajahku tersenyum.
"Udah tujuh jam lo pingsan, gue kira lo udah koit" saut suara cempreng, siapa lagi kalau bukan Riki.
Karena terlalu lama pingsan, tenggorokanku terasa kering. Aku butuh air.
"Haus" ucapku dengan susah payah.
Dengan cepat Aulya mengambilkan gelas berisi air yang terletak di atas nakas tak jauh dari tempatnya. Aulya membantuku duduk dan meminumkan air itu.
Setelah itu aku menatap satu persatu orang yang berada di ruangan itu. Eits, perempuan paling ujung itu siapa.
"Ekhm, gue permisi pamit" ucap seseorang dengan suara agak berat.
Aku mengalihkan tatapan pada orang itu. Ternyata orang yang berbicara itu adalah pria yang bersamaku sebelum aku kehilangan kesadaran.
"Di sini aja dulu ngobrol, udah lama kan kita nggak ketemu. " ucap orang yang ku anggap sebagai salah satu kakakku, Gio.
"Ntar gue kesini, yo. Mau nganterin dia dulu" jawab pria yang di panggil Agil itu. Dia menunjuk ke arah perempuan di sebelahnya.
"Ya udah, sekali lagi makasih ya, udah nolongin ni bocah"
"Udah tugas gue."
Pria bernama Agil itu keluar dari ruangan bersama perempuan di sebelahnya, diantar oleh Gio.
Setelah mereka pergi, aku mulai bertanya kepada orang orang yang berada di ruangan ini.
"Ehhh kok gue bisa pingsan gini sih, trus di mana kalian nemuin gue ?"
"Mana gue tau. Gue aja kaget, lagi asik sarapan, tiba tiba bang Agil ngegendong lu" jawab Riki.
Benarkah.
Ohh iya, aku ingat lengan sebelah kiriku terluka. Segera ku lihat, tetapi lengan kiriku itu tak ada tanda tanda luka. Kemana perginya, aku yakin lenganku tadi terluka terkena anak panah.
Aku periksa lengan kananku, tetap tidak ada.
"Nyari apa, Cel ?" tanya perempuan berhijab biru di depanku. Perempuan berwajah ayu itu bernama Dita, temannya Gio yang ikut bersama kami.
"Ng.... itu. Mbak Dita liat nggak luka di lengan kiriku ?" tanyaku sembari menggulung lengan baju sedikit lebih tinggi untuk memperlihatkan tempat luka tadi.
"Nggak ada, dek" jawabnya.
"Di lengan kanan ada nggak mbak ?"
Aku lihat bajuku ternyata sudah berubah menjadi piyama doraemon biru. Aku semakin penasaran, lukanya kok cepat banget hilangnya, apa pindah, kan nggak mungkin.
Oh iya, terakhir aku memakai baju kebaya putih dan kain jarik.
"Mbak kebaya putih tadi di mana ?"
"Kebaya ? kebaya yang mana, kamu tadi kan pakek hody sama celana panjang"
"Kamu pasti laperkan mangkanya ngawur, mbak ambilin makan dulu ya" sambungnya sebelum meninggalkan kamar.
Aku menatap satu per satu orang yang masih setia memandangiku itu.
"Kalian udah pada makan ?"
"Belom" jawab Kafka.
"Ya udah, makan sono. Gue udah nggak papa kok"
"Beneran udah mendingan, dek ?" Tanya mbak Sasya.
"Iya, mbak" jawabku mantap.
Kelihatan sekali mereka belum makan, karena menungguku sadar. Akhirnya satu persatu dari mereka meninggalkan ruangan ini.
Kini hanya tinggal aku sendiri, dengan segala pertanyaan yang menunmpuk di kepala. Iya, Riki bilang tadi aku di antar sama pria yang bernama Agil itu. Sebaiknya nanti ku tanyakan pada pria itu.
Banyak pertanyaan pertanyaan yang melintas di kepalaku. Tanpa sadar mbak Dita sudah berada di hadapanku.
"Dek, ngelamunin apa sih ?"
"Astagfirullah, bikin kaget aja mbak. Aku nggak melamun"
"Yowes. Ini dek, makan dulu. Seharian tadi kamu kan cuman makan roti pas sarapan aja"
Mbak Dita menyodorkan sebuah nampan yang berisi nasi dan segala lauk pauknya.
"Mbak udah makan ? kalau belum, makan aja dulu Aku bisa kok makan sendiri"
"Ya udah, di makan nasinya. Mbak tinggal ya" Ucap mbak Dita, setelah itu dia pergi ke luar dari kamar ini.
Karena melihat lele goreng dan sambel terasi di piring itu, anak cacing yang sudah aku rawat seperti anak sendiri ini mengetuk ngetuk perutku.
Sedangkan lele goreng itu bergoyang goyang memintaku untuk segera melahapnya. Tanpa mengurangi waktu, setelah berdoa aku langsung memakan makanan itu dengan lahap.
*****
Suara berisik dari ruang tamu mengganggu tidur cantikku. Aku melirik ke arah jam di dinding, ternyata sudah pukul 10 malam. Bahkan Aulya sudah tidur di ranjangnya yang bersebelahan denganku.
Aku mencoba untuk kembali tidur, tapi suara tawa orang orang itu sangat keras dan berisik, membuatku tak bisa memejamkan mata.
Aku berjalan ke arah ruang tamu, melihat setan jenis apa yang mengganggu tidurku ini.
"Berisik klean, tidur syantik gue keganggu" ucapku dengan suara keras. Mereka seketika diam dan beralih menatapku.
"Eh udah bangun ya Cel" ucap suara yang terdengar cempreng di telingaku, siapa lagi kalau bukan Riki.
"Belom, masih tidur gue. Lagian kalian pada ngomongin apaansih ? berisik amat" tanyaku penasaran.
"Kita rencananya besok mau camping, mangkanya ini lagi rundingan" jawab Riki.
"Beneran, Ki. Camping di mana emangnya, gue ikut ya" Mendengar kata camping, jiwa petualangku meronta ronta.
"Tanya babang Agil, dia yang ngajakin soalnya" Riki memonyongkan bibirnya ke arah orang yang duduk membelakangiku.
"Ini khusus acara untuk laki laki" Saut Agil, tidak mengizinkanku ikut bersama mereka.
Kalau si Agil gila itu tidak mengizinkanku, Gio pasti boleh kalau aku ikut. Aku menatap Gio dengan raut wajah memohon. Sepertinya Gio menyadari maksudku ini, dan dia hanya menggelengkan kepalanya.
Aku kembali ke kamar dengan langkah kaki yang sengaja dihentak hentakkan. Biar mereka tau aku lagi sebel.
--------------
Maapkeun kalok ini cerita agak enggak nyambung 😅