
Saat menoleh Cellia mendapati wajah datar seseorang yang sangat dekat dengannya.
>>>>>>
Plakkk
Refleks Cellia menampar wajah orang itu, membuat sang empu wajah mengaduh sakit.
"Bunda kenapa ayah dipukul" tanya Devin menahan tawanya.
"Diem lu anak bawang" kesal Cellia.
Seketika mereka semua tertawa melihat drama pagi itu.
****
Rencana hari ini mereka akan berkeliling desa dengan berjalan kaki. Karna jalan desa yang mereka datangi ini sangat sempit, susah untuk di lewati kendaraan, belum lagi sekelilingnya adalah hutan belantara.
Para laki laki duduk diruang tamu menunggu Cellia dan teman temannya. Biasa, cewek kalok mau pergi suka rempong.
Setengah jam berlalu, akhirnya Cellia dan teman temannya menuju ruang tamu.
"Etdah lama beud klean" kesal Riki.
"Si Cellia noh, orang udah selesai dandan dia masih molor" ucap Putri yang terlihat menggunakan make up begitu tebal.
"Idih apaan, gue nungguin kalian lama banget. Ya udah, gue tinggal tidur bentar" bela Cellia.
"Jadi ini mau pergi apa mau baku hantam dulu bu ibu" celetuk Tio.
"Yuk, gaes" teriak Cellia sambil berlari meninggalkan yang lainnya.
Mereka memulai perjalanan, melewati area persawahan. Karna Villa yang mereka tempati berada di ujung desa yang sedikit penduduknya, jadi wajar saja jika mereka hanya menemui beberapa orang di perjalanan ini.
Sebetulnya niat mereka bukan hanya untuk jalan jalan. Tetapi untuk bersilaturahmi ke rumah pak Parto, penjaga dan pengurus villa keluarga Gio.
Tok
Tok
Tok
Sedari tadi Gio mengetuk pintu rumah bercat hijau ini, namun tak kunjung mendapat sautan dari pemilik rumah.
"Lu, yakin di sini rumahnya Gi ?" tanya Riki.
"Iya lah, gue sering dulu dateng kesini" jawab Gio.
"Elah lama beud dah, sini gue aja yang ngetuk pintunya yo" ucap Cellia tak sabaran.
Dengan sigap Aulya dan Mita memegangi lengan Cellia yang hendak mengetuk pintu. Bukan apa apa, kalau Cellia yang ngetuk, bisa dipastikan besoknya pak Parto minta ganti pintu rumahnya.
"kalok nggak ada orang gua balik nih" sambung Cellia kesal.
" Maaf, cari siapa ya rame rame" ucap seseorang dari arah belakang.
"Oh den Gio, mari masuk nak " sambung orang itu.
"Maaf den, di rumah saya cuman ada ini" ucap pak Parto sambil menghidang teh hangat untuk mereka yang berada di ruangan ini.
"Iya pak, nggak papa"
Gio dan pak Parto mulai berbincang bincang, sedangkan yang lainnya hanya menjadi pendengar.
Merasa telah lama berbincang, Gio dan temannya pamit untuk pulang ke villa.
Entah mengapa Cellia merasakan ada seseorang yang memerhatikannya sedari tadi. Dia menoleh kearah semak semak di samping rumah pak Parto, tidak ada siapa siapa di situ. Apa cuma perasaannya.
Setelah Gio dan teman temannya meninggalkan rumah pak Parto, seseorang menghampiri pak Parto.
"wanita itu memang keturunannya. Sepertinya dia akan menjadi pelengkap dari semua usaha yang telah aku lakukan selama ini" ucap orang itu.
"Jangan macam macam, dia orang baik. Kau tak boleh melukainya" balas pak Parto dengan nada tinggi.
Tanpa memperdulikan ucapan pak Parto, orang itu berlalu dengan wajah sumringah.
*****
Saat di perjalanan menuju villa yang letaknya agak jauh dari pemungkiman warga, Cellia dan teman temannya berpapasan dengan seorang kakek yang terlihat membawa cangkul di pundaknya.
Pandangan kakek itu tertuju pada Cellia. Cellia yang merasa risih di perhatikan akhirnya angkat suara.
"Ada apa ya, kek ?" tanya Cellia sopan.
"Sebaiknya kau pergi dari tempat itu. Sebelum dia menemukanmu, Celaka." ucap kakek itu dengan raut wajah yang sulit di artikan. Setelah mengatakan itu, dia pergi ke arah hutan
****
Karena terlalu lelah, sesampai di villa mereka semua memilih beristirahat di kamar masing masing.
Sedangkan di kamarnya, Cellia duduk di dekat jendela, mencoba mencerna kejadian kejadian yang menimpanya beberapa hari ini.
Kenapa orang itu meletakkan sesajen di bawah tempat tidurnya, dan apa maksud kakek itu.
Jika di teliti lagi, saat Gio menanyakan perihal mati lampu itu, ekspresi pak Parto terlihat terkejut sesaat setelah itu raut wajahnya datar. Tapi siapa yang menyangka dimatanya terlihat suatu kekhawatiran dan perasaan bersalah.
Entah lah, apa itu cuman perasaannya saja.
Karena terlalu asik bergelut dengan fikirannya, tak terasa hari sudah mulai gelap.
Saat hendak beranjak, Cellia mendengar suara batu besar yang bergesekan satu sama lain. Pandangannya tertuju pada tumpukan batu batu besar yang berada tepat di halaman paling belakang.
Sesaat seseorang keluar dari balik batu itu. Orang itu merasa ada yang mengawasinya, dia beralih menatap Cellia dengan tatapan tajam.
Seketika seluruh tubuh Cellia membeku saat matanya bersitatap dengan mata orang itu. Entah mengapa Cellia merasakan dari tatapan orang itu seakan mengikatnya dengan tali tak kasat mata.
Keringat mulai membanjiri pelipis gadis itu. Untuk mengeluarkan suara saja tidak bisa, jantungnya berdetak dengan cepat.
Entah mengapa pandangan Cellia menjadi buram. Sebelum dia kehilangan kesadarannya, Cellia mendengar seseorang menyerukan namanya dengan nada khawatir.
<<<<<<