HUTAN LARANGAN

HUTAN LARANGAN
Delia


>>>>>


Perlahan ku coba untuk membuka mata ini. Aku mendapati diriku berada di sebuah rumah yang begitu asing di ingatan.


Seorang wanita memasuki rumah itu. Secara otomatis aku terlempar ke sebuah ruangan yang ku yakini sebagai ruang tidur.


Aku melihat rupa wanita itu dari dekat, ternyata wajahnya sangat mirip denganku. Saat aku ingin mendekatinya, seorang pria tiba tiba masuk kedalam kamar. Pria itu membawa seorang bayi perempuan di gendongannya.


Wanita itu mengambil alih bayi dalam gendongan si pria. Sungguh pemandangan yang sangat membuat iri. Pasalnya sedari kecil aku diasuh oleh nenek.


Yang ku tahu di dunia ini aku hanya memiliki nenek. Aku berteman dengan Gio dari kecil, bahkan orang tua Gio menganggapku sebagai anak mereka. Aku di manja bagai anak kandung mereka, dari situlah aku tahu bagaimana rasanya memiliki orang tua.


Suara teriakan dari arah luar membuyarkan fikiranku. Pria dan wanita itu pergi dengan tergesa gesa. Seletika aku terlempar ke halaman rumah ini.


Ternyata di luar sana banyak sekali orang orang yang sedang berteriak seperti lagi demo.


"Ini tidak bisa dibiarkan, usir keluarga penyihir itu dari kampung ini" teriak seorang pria berpakaian hitam yang berada di barisan depan. Aku yakin dia adalah pemimpin kerumunan ini.


Ucapan pria itu di sambut dengan teriakan riuh warga yang lain.


"Lebih baik bakar saja rumah ini" teriak pria itu lagi.


Pria itu melemparkan obornya ke lantai rumah. Karena rumah ini terbuat dari kayu, api dengan cepat membakar bangunan ini.


Dalam sekejap api mulai membesar, menelan bangunan ini. Aku teringat akan wanita, pria serta bayinya itu. Apakah mereka akan selamat.


Ingin sekali aku masuk dan menyelamatkan mereka, namun aku kembali terlempar ke sebuah hutan. Rumah yang terbakar tadi terlihat dari sini, hanya tinggal kerangkanya saja.


Sedangkan para warga sudah membubarkan diri. Terakhir pria berpakaian hitam tadi menatap bangunan terbakar itu dengan sebuah seringai, setelah itu dia pergi.


*****


Seorang wanita paruh baya berlari ke arah hutan. Saat melewatiku, aku melihat sekilas wajahnya. Hanya sekilas, wajah itu mirip sekali dengan nenekku. Entah apa yang ada di gendongannya itu.


Aku mengikutinya dari belakang. Dia berhenti di sebuah gubuk yang kokoh, dan mengetik pintu gubuk itu. Keluarlah seorang wanita yang seumuran dengannya. Aku mengikutinya masuk kedalam gubuk itu.


"Semuanya hangus terbakar, Ni. Aku hanya bisa menyelamatkan Delia " ucap wanita tadi dengan wajah sendu.


"Itu sudah takdirnya, Ti. Aku berjanji cucuku itu akan menjaga cucumu"


"Terimakasih, Ni. Sekarang aku menjadi lega"


"Sepertinya dia akan menargetkan cucumu itu, karena dialah sang penerus tahta"


"Bagaimana ? Apa yang harus aku lakukan. Aku tak mau kehilangan orang yang kusayang lagi"


"Tenanglah, yang kau lakukan adalah menjauh dari tempat ini. Hiduplah seperti biasanya, jangan lupa sembunyikan identitas cucumu itu"


Setelah melihat dan mendengar obrolan itu, aku terlempar kembali ke sebuah rumah. Itu adalah rumah nenek sewaktu aku kecil dulu. Rumah itu letaknya tak jauh dari villa milik keluarga Gio.


Namun semenjak aku dan nenek pindah kekota, rumah itu tak pernah di rawat.


"Assalamualaikum, Ti. Titip cucuku ya, aku mau kesawah" ucap seorang wanita paru baya.


Sepertinya aku mengenal wanita itu. Tak salah lagi, itu adalah neneknya Gio.


"Waalaikum salam, iya mbak"


Entah mengapa telingaku rasanya berdengung, pandanganku kabur. Dalam sekejap aku terlempar kedalam ruangan serba hitam.


"Darahmu sangat berguna, nyawamu sangat berharga, dan tahtamu yang aku suka. Ha..haaha...ha"


Suara siapa itu, sangat menyeramkan. Aku berlari dan terus berlari, namun sejauh apapun kaki ini melangkah aku tak dapat keluar dari sini.


"Darahmu"


"Nyawamu"


"Tahtamu"


Suara itu, suara itu terus terngiang ngiang di telingaku. Siapa sebenarnya orang itu, mengapa dia menginginkanku. Aku menutup kedua telinga dan mataku, berharap suara itu berhenti.


Aku merasa ada yang menggenggam lenganku. Saat membuka mata, ternyata aku berada di kamar villa.


Semua orang yang berada di kamar ini menatapku.


"Lo udah bangun Cel ?" Ucap Riki.


"Belom, gue masih tidur. Lagian pertanyaan lo kek di sinetron sinetron"


"Untung aja gue belum manggil warga"


"Emang napa"


"Ya nyiapin acara tahlilan buat lo, sama penguburannya"


Mendengar jawaban  Riki membuatku teringat ucapan orang yang menginginkan aku mati. Apa maksud dari orang itu.


Bayi perempuan yang di bawa nenek itu apakah aku, atau cucu yang lainnya. Seingatku nenek tak memiliki keluarga selain aku. Lebih baik aku tanyakan pada nenek.


Lama bergelut dengan fikiranku, tanpa kusadari seseorang memukul kepalaku dengan bantal. Aku menoleh ke arah si pelaku.


"Canda tadi Cel, jangan di masukin ke hati napa" ucap orang yang tak lain adalah Riki, teman laknatku.


"Sakit tauk, pokoknya gue ngambek ama lo" rajukku.


"Cel, maafin yah. Ntar gue beliin coklat yang lima ratusan itu"


"Nggak"


"Cocholatos satu deh"


"Nggak"


"Permen"


"Nggak"


"Gulali dua ama lolipop"


"Nggak"


"Trus apaan"


"Gue cuman mau soto, nasi padang, bakso, mie ayam, bakso bakar, cilor, seblak...."


"Udah udah, Cel istirahat aja. Baru bangun juga permintaannya kayak orang ngidam aja. Yang lain silahkan istirahat juga" potong Gio.


"Makasih bang, lo penyelamat dompet gue" ucap Riki sebelum meninggalkan ruangan.


Dan di kamar ini tinggal aku, Dita dan Gio. Saat Gio ingin keluar kamar, aku menarik lengan bajunya.


"Gi, besok temenin gue ke rumah lama nenek ya"


"Hemm gimana ya. Gue ini orangnya..."


"Gila" sebelum Gio menyelesaikan ucapannya, aku lebih dulu memotong.


"Ayo lah, gue kangen pengen liat aja kesana. Ya, ya, boleh ya" bujukku.


Setelah bersusah payah membujuk, akhirnya Gio bersedia menemaniku. Aku tak sabar menanti esok hari.


<<<<<<


Maaf ya kalok nggak nyambung nih cerita 😅