HUTAN LARANGAN

HUTAN LARANGAN
Awal


"Akhirnya kita sampai juga di penginapan" seru salah seorang temanku.


Setelah melalui perjalanan yang begitu jauh, kami akhirnya sampai di Villa. Villa yang akan kami tempati selama 2 minggu ini milik keluarga Gio, sahabatku.


Aku dan semua temanku menurunkan barang bawaan kami, dan meletakkannya diruang tamu. Saat ini kami berunding untuk memilih kamar masing masing.


Karena kamar yang tersedia hanya 6, sedangkan anggota seluruhnya ada 12. Jadi di dalam satu kamar ada 2 orang. Para laki laki memilih 3 kamar yang berada di lantai atas.


Aku dan Aulya menempati kamar yang berada di dekat tangga. Setelah membereskan barang bawaan, kami memutuskan untuk tidur.


Selama tiga hari kami menginap di villa ini, tidak ada hal hal aneh yang terjadi. Saat memasuki hari ke empat kami tinggal di villa ini, suatu hal di luar nalar terjadi.


Malam itu hujan deras, aku dan teman perempuan lainnya sedang memasak makan malam di dapur. Sebuah kilatan petir menggelegar di langit, dan seketika lampu di seluruh ruangan villa ini padam.


Teman teman yang lain menjerit ketakutan, aku berusaha menenangkan mereka. Aku memanggil semua teman laki laki yang berada di ruang tamu.


Kami memutuskan untuk menyudahi acara masak memasak ini, dan memilih pergi berkumpul di ruang keluarga.


Aku merasa aneh, pasalnya dari tadi kami hanya berputar putar saja. Tak kunjung sampai di ruang tamu, seperti ada yang sengaja menyesatkan jalan ini.


"kalian ngerasa nggak, kalok kita dari tadi cuman muter muter aja ?" tanyaku


"Iya sih, tapi biasanya jarak dapur sama ruang keluarga itu dekat, cuman ngelewatin tangga sama lorong ini aja" jawab Kafka.


"Semuanya, baca ayat kursi sama surah surah pendek yang kalian hapal" Ucap Gio.


Kami segera melaksanakan perintah yang di berikan Gio. Gio memimpin rombongan melewati lorong yang gelap ini, lantunan ayat ayat suci al-Quran tak lepas dari bibir kami.


Akhirnya kami sampai di ruang keluarga. Untuk malam ini kami memutuskan tidur di ruang keluarga. Mita yang sedari tadi di dekatku sudah mulai terlelap di sofa bersama teman wanita yang lain.


Kini tinggal Aku dan teman laki laki yang masih terjaga.


"Cel, lu tidur aja dah. Biar kita kita yang jagain " Ucap temanku yang bernama Tio.


"Nggak ah gue belum ngantuk. Kalian mau gue bikinin kopi nggak ?" tawarku.


"Boleh tuh, gih sono kedapur"


"Sendirian ? Elah temenin ngapa, serem tauk"


"Manjanya kumat nih bocah. Biasa juga kemana mana sendirian. Ki, temenin gih"


Dengan gerutuannya, Riki beranjak dari tempat duduk. Aku mengikuti Riki berjalan kearah dapur.


"Ki, nih bawak gelas sama kopinya. Seduh di sana aja, cepet. Merinding gue lama lama di sini" ucapku.


Dengan langkah lebarnya Riki berjalan meninggalkanku. Aku yang pendek hanya bisa berlari kecil sambil membawa termos air panas.


"Ki, woy, pelan pelan jalannya. Gue ketinggalan ini"


Riki memberhentikan langkahnya, membuatku menabrak punggunnya.


"Duh, lu kok berenti mendadak sih"


Dengan kesal aku meninggalkan Riki yang masih menggerutu di belakang.


sesampainya di ruang keluarga, aku segera menyeduhkan kopi untuk mereka.


"Gi, lukisan yang di lorong itu bisa di pindahin nggak" ucap Riki membuka percakapan.


"Emang kenapa" Gio menoleh kearah Riki.


"Ng.. ta.. tadi gue ngelihat lukisan itu kek ada bayangan hitam masuk kesitu. Trus mata si cewek dalam lukisan itu kayak merhatiin gue ama Cellia. " jelas Riki.


"Jadi tadi lo berhenti, gegara ngeliatin tu lukisan ? Kenapa nggak ngomong sama gue" tanyaku.


"Kalok gue ngomong sama lo, yang ada lo lari ninggalin gue. Kan serem"


"Dih. Emang iya sih gue bakal lari"


"Ya udah, besok kita pindahin tu lukisan" ucap Tio menengahi.


Ruangan ini kembali senyap, gemericik air hujan masih terdengar di luar. Lampu belum hidup juga. Sementara yang lainnya sibuk bermain ponsel.


Aku mengalihkan pandangan pada jendela di belakang sofa. Terlihat bayangan seseorang melintas begitu saja.


Aku memukul bahu Gio yang duduk di sebelahku.


"Gi, itu bayangan siapa ya ?" bisikku.


Gio melihat kearah yang kutunjuk, setelah itu dia menggelengkan kepala.


"Nggak ada apa apa tuh, lo aja yang parnoan"


Brakkk


Suara itu tepat berada di belakang sofa yang ditiduri Mita. Tio, Arya, dan Kafka berlari ke asal suara.


Aku hendak menyusul mereka, tapi lengan Gio menahanku.


"Lo di sini aja. Devin jagain mereka semua"


Devin mengangguk patuh, Gio segera berlari menyusul teman temannya.


"Cel, lu sini aja, ntar gue yang di marahin sama bang Gio" ucap Devin.


"Iya, kalok mereka bangun kita nggak usah nyeritain apa apa. Ntar malah bikin riweh" Ucapku yang diangguki Devin.


sudah setengah jam berlalu, tapi Gio dan teman teman lainnya belum menampakkan diri. Aku berdoa semoga teman temanku di beri perlindungan.


"Udah Cel, lu duduk aja dah. Gue pusing ngeliat lo bolak balik macam setrikaan. Mereka pasti selamat kok, kan mereka semua jago bela diri" ucap Devin menenangkanku.


Aku melirik ke arah Aulya, Mita, Putri, Via, dan Sasya yang tengah tertidur pulas di sofa. Disatu sisi aku bingung, apa aku harus menyusul Gio dan yang lain. Tapi kalau nanti orang itu kemari dan menyakiti teman temanku bagaimana, walau ada Devin aku tak yakin jika dia bisa melawan penjahat itu.


Sesaat kemudian terlihat Gio dan yang lainnya datang.