Fierce Boss Or Handsome Assisten

Fierce Boss Or Handsome Assisten
Bab 71. Dia Calon Istriku


Dengan langkah takut ketiga wanita itu menyambangi ruangan Dominic. Ketika sampai mereka saling tunjuk siapa yang harus membuka pintu ruangan tersebut.


"Kamu saja! Kamu kan yang pertama membicarakan dia!"


Terdengar suara yang mulai saling menyalahkan. Padahal jika mereka benar-benar tidak ingin mengusik Amanda, apa salahnya memilih memutus obrolan?


"Hei, kalian juga sama. Kenapa hanya menyalahkan aku."


"Iya tapi kalau kamu tidak mendahului, kami juga tidak akan ikut-ikutan."


"Haish, dasar, kalau sudah seperti ini malah aku yang jadi kambing hitam. Kalian benar-benar menyebalkan!"


Salah satu dari mereka maju, menghela nafas kemudian memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruangan Dominic dengan memejamkan mata.


Tok Tok Tok!


"Masuk!" teriak Dominic dari dalam, sementara tangan dan matanya fokus pada luka Amanda.


Seketika mata ketiga wanita itu terbuka lebar, dan di dalam organ masing-masing jantung memompa dengan kuat.


Pintu terbuka lebar, menampilkan ketiga senior yang sudah menyerang Amanda secara brutal. Mereka sedikit terkejut melihat pemandangan yang ada di hadapan mereka saat ini.


Ya, ini adalah pertama kalinya mereka melihat Dominic bersikap lembut terhadap seorang wanita selain Sarah.


Sedangkan Amanda langsung memundurkan wajahnya. Tak enak hati jika semua ini dilihat oleh banyak orang.


"Akhirnya kalian datang juga. Aku sudah tahu semuanya, jadi aku tidak perlu mendengar masalah ini dari mulut kalian," ujar Dominic tanpa melihat ketiganya. Suara itu terdengar dingin dan menusuk.


"Maafkan kami, Tuan, kami mengaku salah. Tidak hanya itu, kami juga menyesal telah melakukannya," ucap salah satu dari mereka, dia melirik Amanda yang menampakkan wajah datar, tanpa sengaja tatapan mereka bertemu, tetapi ia segera berpaling.


"Jadi kalian sudah siap untuk menerima surat pemecatan?" tanya Dominic yang membuat semuanya terperangah, begitu juga dengan Amanda.


"Hei, aku bilang jangan memecat mereka!" bisik Amanda penuh penekanan.


"Tapi tadi kamu tidak mau cerita. Jadi, biarkan aku menyelesaikan masalah ini dengan caraku," balas Dominic yang membuat Amanda menahan nafas.


Bruk!


"Tuan, tolong jangan lakukan itu. Kami benar-benar bersalah, dan kami sungguh-sungguh ingin meminta maaf pada Amanda," ujar salah satunya sambil menangis. Karena dia sudah membayangkan hari-hari buruk menantinya.


"Benar, Tuan, tolong beri kami kesempatan," timpal yang lain tak kalah bersedih.


"Kami berjanji akan memperbaiki sikap kami, Tuan, terlebih pada junior kami."


Mereka langsung mengangguk satu sama lain, membenarkan apa kata mereka sendiri. Sementara Amanda yang merasa tak nyaman langsung bangkit dari sofa.


"Hei, apa yang kalian lakukan. Berdirilah, jangan mengemis seperti ini," kata Amanda sambil membantu mereka untuk bangkit, sementara Dominic melihat itu tak habis pikir.


"Mereka itu bersalah, jadi sudah sepatutnya mereka bertanggung jawab atas kesalahannya," seru Dominic dengan nada tak suka.


"Iya, tapi bukan berarti harus seperti ini, Tuan Dominic yang terhormat, anda bisa memberikan Surat peringatan terlebih dahulu, baru ke tahap itu. Bangunlah, kalian tidak akan dipecat," balas Amanda.


"Terima kasih, Amanda, kami benar-benar minta maaf karena sudah kasar padamu."


"Iya, maafkan semua atas perkataan kami juga. Kami mengaku salah, Amanda."


"Benar, tolong maafkan kami."


Ketiganya nampak begitu mengiba, membuat hati Amanda semakin tergerak. Dia tidak mau masalah ini sampai terdengar oleh ayahnya, dan membuat semuanya semakin panjang.


"Aku sudah memaafkan kalian, tapi ingat, kalian harus benar-benar merubah sifat jelek itu. Semuanya di sini sama, baik aku dan kalian sama-sama niat bekerja, tidak untuk yang lain!" jawab Amanda menegaskan.


Ketiganya mengangguk cepat dengan lelehan air mata yang menderas di pipi masing-masing. Sementara Dominic yang melihat itu hanya bisa memutar bola matanya dengan malas.


Lantas dia bangkit dan mendekati ketiga karyawannya yang sudah lancang sekali menyakiti pujaan hatinya. Tanpa aba-aba dia memeluk pinggang Amanda, membuat ketiga wanita yang semula sesenggukan langsung terperangah seketika.


"Dia calon istriku, kalau kalian kembali menyakitinya, aku tidak akan segan lagi," ucap Dominic yang semakin membuat mereka melebarkan kelopak mata.


Sama halnya dengan Amanda yang menganga dan tak sanggup lagi berkata-kata. Dominic benar-benar memproklamirkan hubungan mereka, meskipun semuanya masih terasa abu-abu.


***


Jumat berkah, kirim kopinya dong buat Amanda dan Dominic 😘😘😘