
Satu kesialan Amanda adalah bertemu dengan Dominic. Dari awal sampai sekarang mereka tidak pernah akur, hingga setiap bertemu ada saja yang mereka perdebatkan.
"Hah, aku tidak mungkin mengadu pada Daddy, aku bukan gadis manja yang selalu merengek pada orang tua!" gerutu Amanda saat ia sedang menyelesaikan hukuman dari Dominic.
Perkataannya mungkin berusaha untuk menerima semua perlakuan sang Boss. Namun, gerakan tangan Amanda memperlihatkan bahwa dia tidak ikhlas diperlakukan semena-mena.
"Dia pikir dengan menjadi bos dia bisa seenaknya padaku? Cih, awas saja, aku akan memikirkan cara untuk melawanmu!" gerutunya lagi seraya melirik sinis ke arah pintu utama. Beberapa saat lalu Dominic sempat berdiri di sana dengan senyum mengejek.
Setelah berhasil mencuci mobil Dominic, Amanda diperintahkan untuk naik ke atas. Namun, tujuannya sekarang bukanlah kamar 2069. Sebab Dominic berada di ruang kerjanya.
Tok Tok Tok ...
"Masuk!" teriak Dominic, yakin kalau yang datang adalah Amanda.
Begitu mendapat izin Amanda langsung membuka pintu, hingga dia bisa melihat Dominic yang sedang duduk di meja kebesarannya. Pria tampan itu terlihat sangat serius ketika sedang bekerja.
Cih, tampan apanya? Jangan gila kamu, Amanda. Dia itu tidak tampan, tapi tua! Batin Amanda menampik pikirannya yang ke mana-mana.
"Ada apalagi, Tuan? Bukankah aku harus melayani tamu yang lain?" tanya Amanda dengan nada suara yang terdengar pelan.
"Buatkan aku kopi," jawab Dominic tanpa melihat ke arah Amanda. Membuat gadis itu langsung menahan nafas, dalam otaknya berbicara kenapa tidak dari awal Dominic memberi perintah seperti itu? Jadi, dia tidak perlu lagi turun ke bawah.
"Apakah memang begitu cara kerjamu? Lelet?" sambung Dominic melihat Amanda yang bergeming di tempatnya.
Amanda langsung tersadar.
"Ah iya baik, Tuan. Kalau begitu aku turun dulu," balas Amanda dengan gumpalan rasa kesal yang bersarang di dadanya. Dia pun segera pamit untuk membuat kopi sesuai permintaan Dominic.
Pagi ini dia sudah membuang energi terlalu banyak, jadi dia memutuskan untuk berhenti mengoceh dan memikirkan ide untuk mengerjai Dominic. Hingga tiba-tiba otak jahilnya berjalan, dia menaruh beberapa sendok garam ke dalam kopi pria itu.
"Rasakan! Minum ini supaya kamu tahu bagaimana rasanya memendam kekesalan!" gumam Amanda dengan bersemangat.
Dalam sekejap mood Amanda kembali membaik. Hingga saat mengantar kopi itu ke ruangan sang bos, dia terus mengulum senyum.
"Selamat menikmati, Tuan, semoga harimu menyenangkan," ujar Amanda kemudian keluar. Sementara Dominic hanya melirik gadis itu dengan kerutan di dahinya.
"Dasar aneh!" celetuk Dominic saat pintu sudah tertutup. Tanpa rasa curiga dia menyambar kopi yang dibawakan Amanda dan menyesapnya.
Dan tepat pada saat itu, mulut Dominic langsung menyembur.
Namun, bukannya dijawab Dominic justru berteriak.
"MAMAN, BERANINYA KAU!!!"
Sementara yang ada di luar sana langsung cekikikan, karena misinya berhasil. Sebelum mendapat amukan dari Dominic, Amanda pun langsung kabur begitu saja.
*
*
*
Karena selama seminggu ini Amanda bekerja di shift satu, jadi setiap sore dia sudah diperbolehkan pulang. Setelah berkemas, dia langsung mengajak Lara untuk keluar bersama-sama.
Namun, saat melewati lobby utama. Amanda melihat seseorang yang tak begitu asing di indera penglihatannya.
"Itu Kak Donita 'kan?" gumam Amanda seraya memperhatikan seorang wanita yang berdiri di depan meja resepsionis.
"Man, ada apa?" tanya Lara, karena temannya itu malah menghentikan langkah secara tiba-tiba.
"Ah aku melihat seseorang yang sepertinya aku kenal," jawab Amanda, tetapi saat pandangannya kembali ke meja resepsionis, wanita itu sudah tidak ada. Sebab dia berjalan ke arah lift.
"Perasaanmu saja kali," ujar Lara supaya Amanda tidak terlalu memikirkan hal-hal yang tidak penting. "Sudahlah ayo kita pulang, nanti kamu dipanggil sama Tuan Dominic lagi lho."
Amanda masih penasaran, tetapi dia tidak mungkin menanyakan ke bagian resepsionis. Sebab itu adalah bentuk privasi pengunjung hotel.
Akhirnya Amanda pun memilih untuk mengikuti apa kata Lara. Mereka melanjutkan langkah hingga tiba di parkiran.
Sementara di ujung sana, Saga baru mendapat pesan dari seseorang yang mengikuti Donita. Ya, meskipun sudah memutuskan untuk berpisah, Saga tetap menyelidiki apa yang membuat sang mantan kekasih membatalkan pernikahan mereka.
"Mungkinkah selama ini kamu menemui pria lain di belakangku?" gumam Saga seraya menatap foto Donita yang masuk ke sebuah hotel.
***
Jangan lupa dipencet-pencet Oeyπππ