
Pagi hari.
Amanda meminta waktu untuk bicara pada ayahnya, sebelum pria itu berangkat ke perusahaan. Karena rasanya tidak enak sekali jika harus saling mendiami seperti ini. Apalagi Amanda jadi tidak leluasa untuk beraktivitas.
"Dad, bisakah kita bicara sebentar?" tanya Amanda saat sang ayah sudah bangkit dari meja makan. Semua orang yang ada di sana paham betul apa yang sedang terjadi, maka dari itu tidak ada satu pun dari mereka yang berkomentar. Mereka hanya turut prihatin.
"Ikut Daddy ke ruang kerja," balas Aneeq dengan raut datar.
Lantas setelah itu Aneeq berjalan lebih dulu dengan Amanda yang mengekor di belakangnya. Sedangkan Jennie hanya bisa menatap dua orang kesayangannya dengan raut sendu.
Sampai di ruang kerja, Aneeq memilih berdiri dan menatap ke arah jendela. Tak ada niat untuk menatap Amanda yang sedari tadi tak memiliki keberanian untuk mengangkat kepala. Gadis itu menggigit bibir, bingung ingin memulai dari mana.
"Bicaralah, Daddy akan mendengarkannya," ujar Aneeq tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. Seolah pemandangan di luar sana jauh lebih menarik. Padahal tatapannya terasa kosong, sementara otaknya bekerja dengan keras.
"Dad, aku benar-benar minta maaf untuk masalah malam itu. Aku salah karena sudah membuat semua orang khawatir. Saat itu aku dalam keadaan mabuk, Dad, tapi meskipun begitu, aku yakin kalau aku dan dia tidak melakukan apapun. Dia juga mengatakan seperti itu kok," ujar Amanda menyesali tiap tindakan gegabah yang sudah pernah ia lakukan. Ia tidak menyangka kalau dampaknya akan separah ini.
"Mabuk?" Aneeq nampak tercengang, karena bisa-bisanya sang anak mengambil tindakan seperti itu. "Lalu bagaimana bisa kamu menjamin kalian tidak melakukan apa-apa? Kamu saja tidak sadar kalau ada tanda—" Rasanya Aneeq enggan untuk menyebutnya. "Tanda sialan itu. Lalu kamu mendapat keyakinan dari mana?"
Amanda memejamkan matanya dengan kuat. Karena sebenarnya dia juga tak bisa menjamin hal itu, dia benar-benar tak ingat apa yang sudah terjadi, sekarang hanya Dominic yang bisa ia andalkan, karena dia adalah saksi kunci dari kejadian ini, namun pria itu justru sedang terkapar di rumah sakit.
Gadis itu tak tahu, kalau sedari tadi sang ayah sudah mengepalkan tangannya di balik saku celana. Antara geram, ingin marah dan merasa gagal untuk menjaga putri kesayangannya.
"Sekali lagi maafkan aku, Dad. Aku benar-benar menyesal karena sudah melakukan hal ceroboh itu. Sekarang aku hanya ingin meminta izin pada Daddy, untuk tetap datang ke hotel, karena aku masih bertanggung jawab dengan kegiatan magangku," ujar Amanda, memberanikan diri untuk membahas perihal kuliahnya. Karena tidak mungkin kan dia terus berdiam diri di rumah?
Terdengar helaan nafas panjang keluar dari mulut Aneeq.
"Pergilah ... tapi ingat, mulai saat ini Daddy tidak akan memfasilitasi apapun padamu, kendaraan, apartemen, semuanya akan Daddy cabut, bahkan uang bulananmu akan Daddy potong. Tak peduli jarak mansion ke hotel itu jauh, kamu harus menanganinya sendiri. Bukankah semuanya sudah menjadi pilihanmu?" ujar Aneeq yang semakin membuat Amanda tersadar, bahwa apa yang dilakukan sang ayah selama ini adalah yang terbaik. Namun, kenapa harus dia sia-siakan?
"Lakukan apapun semaumu. Kali ini Daddy tidak akan campur."
Belum sempat Amanda menjawab ucapan ayahnya. Aneeq sudah lebih dulu meninggalkan ruangan itu. Seketika Amanda menjambak rambutnya frutasi, rasanya sungguh membingungkan karena masalah ini seolah tak lekas menemui penyelesaian.
"Oh God, kapan semua ini berakhir?"
Sebelum berangkat ke iLuva Hotels, Amanda yang cukup cemas dengan keadaan Dominic pun menyempatkan diri untuk pergi menjenguk pria itu.
Dengan membawa parsel buah, dia mengetuk salah satu ruangan di rumah sakit Puri Medika. Tanpa menunggu lama, Amanda sudah diizinkan masuk, dan ternyata ada Sarah juga di sana.
"Amanda?" seru Sarah saat melihat sang calon menantu datang. Sementara sosok yang berada di atas brankar merasa cukup terkejut, karena dia tak berpikir bahwa Amanda akan menemuinya setelah apa yang terjadi di antara mereka.
"Maaf, Mom, aku baru sempat datang," Ujarnya sambil tersenyum.
Sarah langsung bangkit dari duduknya. Amanda pikir wanita itu akan marah, karena Dominic sudah dipukuli oleh ayahnya. Namun, ternyata dugaannya salah, sebab Sarah malah menghambur memeluknya.
"Kamu tidak perlu meminta maaf, Sayang, Mommy tahu kamu juga mengalami sedikit masalah," balas Sarah, tak peduli Amanda anak siapa dan dari kalangan mana. Wanita paruh baya itu akan tetap memperlakukan Amanda dengan baik, sebagaimana sebelumnya. "Ayo duduk!" Ajak Sarah setelah melerai pelukan.
"Terima kasih, Mom," ucap Amanda, lalu mendekat ke arah Dominic. Dia meletakkan parsel yang ia bawa, kemudian melihat keadaan Dominic yang cukup memprihatinkan.
"Amanda, Mommy tinggal sebentar ya," ujar Sarah yang membuat gadis itu menoleh. Karena Sarah ingin memberikan waktu bagi Dominic dan Amanda untuk bicara berdua.
"Baik, Mom," balas Amanda sambil menganggukkan kepala.
Setelah kepergian Sarah, fokus Amanda kembali pada sosok yang terkapar di atas brankar. Seluruh wajah pria itu di penuhi luka lebam, dan ia yakin rasa sakitnya sungguh luar biasa.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Amanda setelah mendudukkan dirinya.
"Kamu tidak perlu cemas, aku baik-baik saja," jawab Dominic dengan suara lirih, karena ia merasa kesulitan untuk bicara. Namun, dalam lubuk hatinya dia merasa senang, karena dapat melihat wajah Amanda.
"Aku minta maaf atas nama Daddy. Dia tidak bermaksud seperti itu," ujar Amanda dengan raut sendu. Karena walau bagaimanapun, Dominic sudah membantunya malam itu.
"Apa yang dilakukan beliau sudah benar. Lagi pula siapa yang bisa menyangka kalau anak pengusaha ternama sepertimu bisa tidur di hotel dengan pria asing?"
Amanda tersadar kalau Dominic merasa terkejut dengan statusnya. Namun, bukan itu yang ingin ia sampaikan sekarang.
"Kalau begitu aku minta, setelah ini jelaskan pada Daddy sejelas-jelasnya. Aku ingin semuanya segera selesai," ujar Amanda dan Dominic langsung menganggukkan kepalanya. Namun, tanpa Amanda tahu ada senyum kecil yang terbit di sudut bibir pria itu, entah artinya apa.