Fierce Boss Or Handsome Assisten

Fierce Boss Or Handsome Assisten
Bab 62. Tembakan


Ruangan yang disambangi Aneeq saat ini adalah ruangan yang digunakan untuk latihan menembak atau pun menyimpan pistol koleksinya. Berbeda dengan sang ayah, Aneeq lebih menyukai senjata api dari pada pedang panjang yang dimiliki Ken.


"Tuan, itu?" tanya Dominic dengan terbata, terus menatap Aneeq yang sedang memegang pistol.


"Ya, untuk mengetes ketahanan kepalamu."


Jawaban itu membuat seluruh anggota tubuh Dominic kembali bergetar. Aneeq benar-benar tak bisa diprediksi, hingga membuatnya sangat ketar-ketir.


Dominic meneguk ludahnya susah payah, dia ragu untuk masuk tetapi melihat Aneeq yang menyuruhnya mendekat membuat dia tak bisa mundur.


Perlahan dua kaki jenjang Dominic melangkah menuju sang calon mertua. Melihat wajah pucat Dominic, rasanya Aneeq ingin tertawa, tetapi sebisa mungkin dia tahan. Hah, lagi pula siapa suruh bermain-main dengannya.


"Kamu pasti sudah tahu apa fungsi benda ini," ujar Aneeq sambil mengisi peluru lengkap dengan wajahnya yang begitu mengejek. Dominic tergagap, dia ingin menjawab tetapi tiba-tiba seorang pelayan datang dengan membawa satu mangkuk buah cherry.


Untuk apalagi? Pikir Dominic dalam batinnya.


"Tuan, ini buah yang ada minta," ucap pelayan tersebut.


"Kemari!" balas Aneeq, dia mengambil satu buah cherry lalu meminta pelayan meletakkan sisanya di atas meja yang tak jauh darinya.


Masih terdiam, Aneeq memakan buah tersebut dalam satu kali suap. Sementara Dominic hanya bisa menatapnya sambil terus meneguk ludah.


"Manis, tapi bagaimana kalau kamu taruh buah ini di atas kepalamu dan kita lakukan permainan?" kata Aneeq seraya melayangkan tatapan ke arah Dominic yang semakin pucat pasi.


"Maksudnya bagaimana, Tuan?" Dominic bertanya.


"Ambil buah itu dan berdiri di sana. Sudah cukup kita berbasa-basi, nanti juga kamu tahu sendiri." Aneeq memainkan pistol hingga suaranya membuat kepala Dominic berdenyut-denyut.


Meski bergerak dengan ragu, tetapi akhirnya Dominic berhasil mengambil buah cherry yang sudah tersedia dan berdiri di depan Aneeq dalam jarak kurang lebih 10 meter.


"Letakan di atas kepalamu cepat!" titah Aneeq melihat Dominic yang malah terbengong-bengong seperti orang linglung. Dia merana sekali menghadapi pria yang akan menjadi mertuanya. Itu juga kalau berhasil, kalau tidak mungkin dia akan langsung ditimbun di dalam tanah.


Patuh, Dominic mengikuti perintah Aneeq. Saat Aneeq mengangkat senjata, Dominic pun reflek mengangkat tangannya. Kini di ruangan itu hanya ada mereka berdua, karena dua orang pelayan yang semula ada di sana sudah kembali ke tempat masing-masing.


"Hei, simpan tangan itu di samping tubuhmu!" cetus Aneeq.


"Tapi, Tuan, anda tidak berniat untuk menembak kepala saya 'kan?" tanya Dominic dengan ketakutan setengah mati.


Aneeq mengangkat satu alisnya, "Tentu saja tidak, tapi kalau pelurunya meleset ya apa boleh buat? Paling kamu kritis."


Dominic langsung ternganga. Sumpah demi apapun dia sudah seperti buah simalakama, mau bertindak seperti apapun menjadi serba salah. Namun, sekali lagi ini adalah murni keputusannya untuk mendapatkan Amanda.


"Bagaimana? Kamu sudah siap? Kalau kamu berubah pikiran kamu boleh pergi, tapi ingat, jangan pernah menampakkan wajah di depanku, kalau sampai itu terjadi maka saat itu juga peluru di dalam pistol ini akan bersarang di kepalamu," ujar Aneeq memberikan penawaran yang sama sekali tak menarik.


Dominic terdiam sesaat, lalu dia pun berkata, "Tidak, Tuan, saya akan terima syarat dari anda. Saya akan tunjukkan bahwa saya benar-benar serius dengan Amanda."


Damn it! Ancaman Aneeq tidak mempan. Akan tetapi hal tersebut membuat Aneeq semakin menggebu-gebu.


Akhirnya Dominic pun pasrah, seperti anak murid yang sedang melakukan upacara, tubuh Dominic berdiri tegak meski kakinya terus merasa gemetar. Sementara Aneeq sedikit menyunggingkan seringai.


Aneeq kembali mengangkat pistol yang ada di tangannya, siap untuk menembak. Di saat ia menarik pelatuk, Dominic langsung memejamkan matanya kuat-kuat.


DOR!


Satu tembakkan telah melayang, tetapi tak mengenai anggota tubuh Dominic. Karena pelurunya kosong. Detik selanjutnya Dominic membuka mata dengan nafas terengah-engah, jantungnya memompa dengan kuat, seolah ingin meledak.


"Hei, ini belum apa-apa, tunggu sampai aku berhasil menembak cherry di kepalamu," ujar Aneeq dengan santai, padahal dia sudah membuat manusia kaku seperti Dominic ketar-ketir.


"Maaf, Tuan, saya belum siap, jadi saya kaget," balas Dominic jujur, membuat Aneeq jadi ingin terkekeh.


"Bersiaplah, kali ini ku pastikan pelurunya menembus dengan tepat. Sebelum itu, kamu harus tetap berdiri di sana!"


Dominic meneguk ludahnya kasar.


"Ba—baik, Tuan," jawab Dominic terbata-bata. Tangannya terkepal, dia kembali menutup mata tetapi tak sepenuhnya. Sementara Aneeq kembali mengarahkan pistolnya.


Dia terus mengerjai Dominic, karena tembakkannya tak pernah benar. Tak peduli meski wajah Dominic sudah seperti tak dialiri oleh darah. Bahkan keringat dingin terus mengucur dari pelipis pria itu, menandakan kecemasan yang berlebih.


DOR!


Astaga, astaga, bisa mati berdiri aku kalau begini ceritanya. Batin Dominic menjerit.


Hingga saat yang ke sepuluh kali Aneeq hendak menembak, tiba-tiba pintu ruangan terbuka, menampilkan seorang pria paruh baya yang ternyata kakek Amanda.


"An, sedang apa kamu?" tanya Ken, membuat Dominic merasa terselamatkan oleh kehadiran pria itu. Dia yakin masih ada orang waras di rumah ini yang akan membantunya.


"Aku sedang memberi tes kepala calon menantu cucumu, Dad. Aku ingin lihat, seberapa hebat dia bisa menjaga dirinya, sebelum menjaga putri kesayanganku," jawab Aneeq dengan sudut bibir yang terangkat.


Ken langsung melayangkan tatapan ke arah Dominic yang sudah lemah, letih, lesu. Dan ternyata penilaian Dominic terhadap Ken salah, sebab detik selanjutnya Ken justru melangkah ke arah Aneeq dan merebut pistol tersebut.


"Kemari, biar aku ikut mengetesnya," ujar Ken yang membuat Dominic kesulitan untuk bernafas.


Dominic tergagap, sementara Aneeq semakin menyeringai penuh. Kini Ken mengambil alih permainan, dan Dominic tidak yakin kalau pria paruh baya yang ada di depannya bisa menembak dengan benar.


Namun, lagi-lagi pemikirannya salah. Karena detik selanjutnya suara pistol kembali menggema, disusul buah cherry yang seperti hilang dari kepalanya.


Bruk!


Karena terlalu shock, tubuh Dominic ambruk di lantai. Ya, dia pingsan setelah Ken berhasil menembak. Membuat Ken dan Aneeq saling pandang.


"An, dia tidak mati 'kan?" tanya Ken, dan Aneeq hanya angkat bahu.


***