
Makan malam di keluarga Tan terlihat begitu tenang, sebelum akhirnya Amanda buka suara.
"Dad, setelah ini aku ingin bicara," ucapnya terarah pada Aneeq.
Mendengar itu sontak saja Aneeq yang semula fokus pada makanan kini beralih menatap putrinya.
"Oke, memangnya kamu ingin membicarakan apa?"
"Masalah magangku."
"Ada masalah?" sambar Ken, kakek Amanda.
"Sedikit, Grandpa. Yang lain aku masih bisa mengatasinya," jawab Amanda, tak ingin membuat semua orang khawatir. Apalagi sang ayah yang dari awal sudah melarang dia menjadi seorang housekeeper.
"Jangan sungkan. Kalau ada apa-apa langsung bilang Daddy-mu. Dia jago dalam menyelesaikan masalah." Ken kembali bicara, sementara Aneeq langsung memutar bola matanya. Giliran yang seperti itu, dilimpahkan pada dia.
Hingga setelah makan malam selesai, Amanda naik ke lantai dua. Di mana kamar kedua orang tuanya berada. Dia duduk di ranjang sementara di kedua sisinya ada Aneeq dan Jennie.
"Ada apa, hem? Kamu pasti mau mengeluhkan? Daddy sudah bilang menjadi housekeeper itu tidak mudah, Sayang," ujar Aneeq asal menerka.
"Haish, bahkan aku belum mengatakan apapun, Daddy."
"Benar, Dad. Jangan suka memotong ucapan," timbal Jennie, yang membuat Aneeq langsung menghela nafas. Dia bersikap seperti itu karena memang khawatir terhadap putri bungsunya.
"Baiklah, kalau begitu katakan apa yang ingin kamu bicarakan."
Amanda lebih dulu menampilkan senyum, lalu bergelayut di lengan ayahnya untuk merayu. "Dad, izinkan aku tinggal di apartemen yah. Jarak mansion ke hotelku jauh, jadi sangat memakan waktu. Aku jadi tidak bisa sarapan dan juga terlambat pulang. Daddy tidak kasihan padaku?"
Mendengar itu Aneeq langsung melebarkan kelopak matanya sambil berteriak. "No!"
"Daddy, bicaralah dengan tenang." Jennie memperingati suaminya, kalau sudah soal Amanda, pria satu ini pasti menggebu-gebu.
"Lagi pula kenapa tidak boleh, Dad?" tanya Amanda.
"Ini bukan soal kemandirianmu, Amanda. Tapi Daddy khawatir, kalau kamu tinggal sendiri terus ada apa-apa bagaimana? Tidak, lebih baik kamu pindah tempat magang saja."
"Tidak bisa seenaknya begitu dong, Dad."
"Daddy bisa melakukannya!"
"Daddy," rengek Amanda seraya menatap ke arah Jennie, agar sang ibu membantunya. Karena biasanya Aneeq akan luluh kalau Jennie sudah angkat bicara.
"Sayang, kita akan memikirkannya lagi, jadi sebaiknya kamu pergi beristirahat," kata Jennie membuat Aneeq mendelik, pria itu ingin berkata tidak tetapi Jennie sudah lebih dulu menggengam tangannya.
"Oke, Mom. Terima kasih ya, kalian memang orang tua terbaik."
Sementara di sisi lain, yakni tepatnya di iLuva Hotels.
"Tuan, apakah anda tidak pulang?" tanya Lucas, karena sampai malam, Dominic masih betah berada di ruangannya.
"Kalau kamu ingin pulang, pulanglah. Aku akan tidur di kantor," jawab pria tampan itu tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer. Karena dia sedang membalas beberapa email yang masuk.
Kening Lucas langsung mengeryit, karena tidak biasanya Dominic memiliki kebiasaan tidur di kantor.
"Apakah saya perlu menemani anda, Tuan?"
Kalau sang asisten sudah banyak tanya, Dominic langsung menaikkan dua bola matanya, melirik penuh ancaman. "Kalau kamu bertanya sekali lagi, ku jadikan tumbal proyek mau?"
Glek!
Lucas langsung menelan ludahnya. Tak ingin mendapat masalah akhirnya dia pun ikut tidur di kantor. Namun, dia tetap berada di ruangan Dominic, sedangkan pria tampan itu naik ke kamar 2069.
Dominic menghabiskan malamnya di sana, hingga saat pagi hari. Di mana Amanda sudah kembali masuk kerja, Amanda langsung mendapat tugas untuk kembali melayani tamu di kamar yang sama.
"Ini tamu lain 'kan?" gumam Amanda, karena perasaannya sudah tak enak. Lagi pula untuk apa Dominic berlama-lama di sini hanya untuk mengerjainya, seperti kurang kerjaan saja.
Kini access card sudah ada di tangan Amanda. Namun, dia masih tetap menekan bel. Hingga sudah kesekian kalinya benda itu berbunyi, orang yang ada di dalam sana tak lekas memberinya izin. Sehingga dia berinisiatif sendiri untuk masuk.
Dan alangkah terkejutnya dia saat melihat seorang pria tengah tidur dengan bertelanjangg dada.
"Argh," teriak Amanda, bukan karena pria itu tidak memakai baju, tetapi satu yang dia sadari, sosok yang ada di hadapannya adalah Dominic.
Mendengar suara teriakan Amanda sontak saja membuat Dominic merasa bising, persis seperti ketika dia di rumah. Setiap pagi dia harus mendengar teriakan ibunya.
"Haish, berisik!" cetus Dominic, tanpa merasa sungkan sedikit pun dia duduk dan menatap Amanda yang sudah kalang kabut.
"Hei, kenapa kamu masih di sini? Seharusnya kamu pergi!" ujar Amanda sambil melirik kecil dada bidang Dominic yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
"Terserahku lah, lagi pula mulai hari ini kamu akan menjadi housekeeper pribadiku," balas Dominic sambil menyeringai. Sementara Amanda langsung membulatkan kelopak matanya.
"WHAT? TAPI-TAPI ...."
"Tidak ada tapi-tapi. Maman, siapkan air hangat!"
"WHAT? MAMAN?"
***
Sabar, Man, orang tua emang begitu 🤣🤣