
"Siapa kau, Sialan?!" sentak Saga dengan kilatan amarah. Nafasnya terdengar memburu, karena begitu geram melihat seorang pria berusaha mencumbu sang kekasih di hadapannya.
Sementara Donita yang sudah tahu Saga akan datang, kini nampak terkejut dengan kehadiran pria itu. Karena Saga malah harus melihat Daniel.
Ya, awalnya Donita mengira bahwa sosok yang menekan bel apartemennya adalah Saga. Hingga dia menyambut pria itu dengan suka cita, tetapi pada kenyataannya perkiraan dia salah.
Begitu pintu terbuka, dia langsung diserang oleh Daniel, tak peduli ia sudah menolak pria itu. Hingga akhirnya Saga datang dan melihat semuanya. Setelah ini, Donita berharap Saga tidak salah sangka dengannya.
Daniel berusaha untuk menyeimbangkan tubuhnya, mengangkat kepala untuk melihat Saga yang sudah tak sabar ingin menyerangnya. Namun, seperti tak kenal takut dia malah menyeringai penuh.
"Aku tanya kau siapa? Untuk apa kau di apartemen kekasihku?" cetus Saga sekali lagi, seraya melirik Donita yang sudah pucat pasi. Takut kesalahpahaman terjadi lagi di antara mereka.
"Mari berkenalan, aku Daniel, pria yang pernah tidur dengan kekasihmu," ucap Daniel seraya mengulurkan tangannya, raut wajah penuh ejekan itu membuat Saga kehilangan kendali, hingga dengan cepat dia menepis tangan Daniel menggunakan kakinya.
"Jadi, kamu pria itu? Dasar tidak tahu diri!" teriak Saga kembali menyerang Daniel tanpa ampun. Namun, Daniel tak diam saja, dia pun membalas tiap pukulan dan tendangan yang Saga berikan, membuat perkelahian mereka tampak sangat sengit.
Donita nampak terperangah, namun karena tak ingin sang kekasih pun terluka, wanita itu segera menelpon pihak keamanan agar segera datang dan melerai keduanya.
"Malam ini kamu akan habis di tanganku!" cetus Saga, entah kenapa rasa amarah begitu membara di dadanya, membuat dia ingin menghabisi Daniel saat ini juga.
"Tidak akan semudah itu, kau hanya pria bodoh, jadi jangan harap bisa melawanku dengan mudah," balas Daniel dengan sudut bibir yang tertarik ke atas.
Detik selanjutnya kedua pria itu kembali saling menyerang satu sama lain. Tubuh Daniel ambruk ke lantai, dan Saga menggunakan kesempatan itu untuk menguasai perkelahian. Kini pria itu memimpin, tetapi hal tersebut tak berlangsung lama, karena tenaga Daniel masih cukup besar.
"Argh!"
Suara nafas, erangan dan pukulan mengudara, membuat Donita semakin ketakutan.
"Hentikan!" teriak Donita dengan rasa frutasi, apalagi melihat sudut bibir Saga yang sudah mengeluarkan darah segar. "Cukup, aku mohon hentikan perkelahian kalian!"
Namun, seperti tak memiliki telinga, keduanya tak mendengarkan apa kata Donita. Apalagi Daniel terus memancing kemarahan Saga dengan semua kalimat yang keluar dari mulutnya.
"Kamu tidak tahu kan betapa hebatnya desaaahan Donita saat menikmati hentakan senjataku? Bahkan dia terus meminta ampun, dan aku sangat menyukainya, apalagi saat dia memintanya lagi dan lagi, ah, aku jadi rindu malam itu," ujar Daniel, membuat kepalan tangan Saga kembali melayang ke wajahnya.
Bugh!
"Tutup mulut kotormu, Sialan!" ketus Saga, kembali menyerang Daniel dengan membabi buta hingga tubuh Daniel semakin terjerembab di lantai yang dingin. Bahkan sebagian wajahnya kini sudah berubah babak belur, tetapi Saga masih belum cukup puas untuk memberi pelajaran pada pria itu.
Hingga tiba-tiba sebuah pelukan Saga rasakan. Sekuat tenaga Donita menahan pria itu, agar berhenti berkelahi, karena meladeni Daniel hanya buang-buang waktu.
"Cukup, Saga, aku takut. Ku mohon hentikan semuanya," ucap wanita itu tergugu. Membuat tenaga Saga kian melemah. Namun, hal tersebut justru menjadi kesempatan bagi Daniel yang tampaknya sudah cukup payah.
Saat ia hendak melakukan serangan balik, pihak keamanan justru datang dan langsung menyuruhnya berhenti. "Stop! Ada apa ini ribut-ribut? Bukankah kalian bukan penghuni apartemen?"
Saga dan Daniel sama-sama bungkam. Namun, terlihat sekali dari tatapan mereka yang saling melayangkan bendera permusuhan.
"Kalian sadar bukan, bahwa keributan yang kalian ciptakan membuat penghuni lain terganggu. Jika kalian tidak bisa menyelesaikan masalah dengan cara baik-baik, ayo saya antar ke tanah lapang, di sana kalian bisa berkelahi sepuasnya. Saya tidak akan menghentikan kalian berdua," sambung pria itu lagi semakin membuat Saga dan Daniel tak berkutik.
Di samping Saga, Donita terus memeluk lengan pria itu. Dia tak peduli dengan rasa sakit yang dia terima, yang penting perkelahian itu selesai.
"Ayo, jadi kalian mau bagaimana?"
Daniel berjalan sempoyongan. Dia terpaksa meninggalkan apartemen Donita saat ini. Namun, di sepanjang langkahnya, dia terus menatap Saga dengan tajam, seolah memberi peringatan bahwa dia tidak akan menyerah.
"Anda juga harus meninggalkan tempat ini," ujar pria yang bertugas sebagai security itu pada Saga.
"Dia kekasih saya, Pak. Sebentar lagi dia juga akan pergi, saya ingin mengobati lukanya dulu," balas Donita, membuat pria itu pun akhirnya menganggukkan kepala.
Setelah semua orang pergi, Donita mengajak Saga masuk. Dia langsung mengambil kotak p3k dan kompres. Namun, saat Donita hendak membersihkan luka Saga, wanita itu malah terisak-isak.
"Maaf, karena aku, kamu harus mengalami ini semua. Aku tidak tahu dia akan datang, Saga. Aku tidak tahu, aku sudah berusaha menolaknya, tapi dia terus memaksaku," ujar Donita sambil sesenggukan.
"Andai kamu tidak datang tepat waktu, aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Aku takut."
Wanita itu semakin tergugu, karena dia benar-benar menyesali perbuatannya dan berjanji untuk berubah. Namun, seolah dosa yang ia perbuat selalu mengikutinya dan enggan lepas.
"Aku berkata seperti ini karena aku takut kamu salah paham. Aku berani bersumpah, aku tidak pernah menghubunginya lagi."
Saga terdiam, karena jujur saja meski mulut berkata bahwa dia telah memaafkan Donita. Namun, hatinya tak bisa bohong, setelah melihat pria yang sudah berhasil meniduri kekasihnya, hati Saga mendadak gamang.
"Aku bingung, Donita. Aku benar-benar bingung, karena pada kenyataannya, hatiku tetap sakit, apalagi melihat dia mencumbumu di depan mataku," ucap pria itu dengan jujur, bahkan sakit di sekujur tubuhnya seolah tak berarti apa-apa.
"Tapi, Saga. Itu semua bukan sengaja, tolong percaya padaku," ucap Donita dengan lelehan air mata yang semakin menderas.
"Inginnya seperti itu. Tapi hati dan otakku selalu berbeda."
"Lalu aku harus bagaimana, Saga? Aku harus bagaimana? Aku tidak ingin kita berpisah, aku tidak mau," rengek Donita dengan kepala yang tertunduk dalam. Namun, Saga lagi-lagi hanya terdiam.
***
Beri aku apapun itu, supaya aku semangat 🥺🥺🥺