
Dalam waktu singkat Amanda sudah mampu menguasai pekerjaannya, membuat para pengunjung hotel merasa puas dengan pelayanannya, hingga beberapa dari mereka sering memberi Amanda uang tips, tetapi gadis itu tak pernah menerimanya.
"Untukmu, Kak," ucap salah seorang pengunjung seraya mengulurkan uang pecahan seratus ribu.
"Tidak perlu, Nonya," tolak Amanda secara halus.
"Tidak apa-apa, Kak, ini tips karena kamu sudah melayaniku dengan baik."
"Itu semua sudah tugas saya, Nyonya. Sebagai seorang tamu, anda memang layak mendapatkan pelayanan yang baik, kepuasan anda sudah cukup membuat saya merasa senang," ujar Amanda, bukannya dia sombong, tetapi dia hanya berusaha untuk bekerja sesuai peraturan yang ada.
Wanita itu tersenyum lebar dan tak mau memaksa Amanda menerima uang tips darinya.
"Aku senang bertemu dengan orang sepertimu, selain cantik kepribadianmu juga luar biasa. Terima kasih ya," pujinya.
"Sama-sama, Nyonya, kalau begitu saya pamit untuk keluar," balas Amanda seraya membungkukkan badan. Setelah mendapat persetujuan, gadis itu benar-benar keluar dan turun ke lantai dasar.
Dia menjalani tugasnya dengan penuh semangat hingga saat jam kerjanya telah habis, Amanda langsung bergegas untuk pulang. Hari ini dia tidak berinteraksi banyak dengan Dominic, karena pria itu juga tak memanggil dirinya untuk naik.
Amanda sangat bersyukur, sebab dia tidak perlu merasa canggung gara-gara kejadian tadi pagi, sebuah kejadian yang begitu memalukan.
Namun, perasaan lega Amanda tak berlangsung lama, sebab saat ia sampai di basemen, senyum di bibirnya sirna seketika saat melihat Dominic sudah berdiri di sisi motornya.
"Mau apa dia? Apakah dia sengaja menungguku?" gumam Amanda, kini kakinya melangkah dengan begitu pelan.
Akan tetapi tetap saja akhirnya ia sampai juga di hadapan Dominic. Amanda langsung menundukkan kepala, karena masih tak sanggup bersitatap dengan kedua netra itu.
Sementara Dominic hanya memasang wajah datar, seolah tak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Percayalah, itu semua adalah caranya menetralisir rasa malu di depan Amanda.
"Pulang bersamaku," cetus Dominic saat Amanda baru saja memegang stang motor. Gadis itu memejamkan mata sejenak, tak bisa membayangkan kalau mereka ada dalam satu mobil dengan penuh kecanggungan.
Tidak, Amanda tidak mau.
"Aku membawa motor, jadi tidak mungkin aku pulang bersamamu," tolak Amanda, sudah sangat jelas alasannya, tetapi Dominic seolah tak bisa menerima itu semua.
"Motormu tidak bisa digunakan, jadi pulang bersamaku."
Sambil berkata seperti itu Dominic menendang ban depan motor Amanda yang sudah kempes, membuat gadis itu menganga. Apakah ini semua kerjaan Dominic? Sumpah demi apapun, andai benar pria ini sungguh kekanak-kanakan.
Karena perasaannya berubah kesal, Amanda pun melupakan sejenak tentang perasaan canggung itu, dia melangkah ke arah Dominic dengan wajah menantang, "Kamu mau mengerjaiku?"
"Jangan berlagak di depanku. Ayo masuk!" tukas Dominic seraya meraih tangan langsing Amanda dan membuka pintu mobilnya. Dia sengaja memarkirkan kendaraan roda empat itu di samping motor Amanda.
"Bisa tidak sekali saja jangan memaksaku?!"
"Tidak, karena kamu pasti akan menolak."
Belum sempat Amanda melanjutkan ucapannya, Dominic sudah menutup pintu mobil membuat gadis itu mengepalkan tangan dan berdecak keras.
Dengan cepat Dominic duduk di balik kursi kemudi, lalu membawa kendaraan roda empat itu ke jalan raya. Sementara Amanda terus memalingkan wajahnya, tak mau melihat apalagi bicara dengan Dominic.
Hingga saat di pertengahan jalan, Dominic tiba-tiba buka suara, berusaha untuk memecahkan keheningan di antara mereka berdua.
"Maafkan aku atas kejadian tadi pagi, aku benar-benar tidak tahu kalau kamu masih ada di sana," ujarnya, entah kenapa dia merasa harus menjelaskan. Padahal sebelumnya dia adalah orang yang paling anti untuk membahas hal-hal sepele seperti ini.
Mendengar itu, Amanda sedikit terperangah. Karena untuk pertama kalinya Dominic mengucap kata maaf. Apakah Dominic sedang kerasukan setan?
Namun, bukannya segera membalas ucapan pria itu, Amanda justru betah untuk diam.
"Kamu tidak berniat untuk bicara denganku?" Dominic kembali bicara, suaranya terdengar begitu lembut membuat perasaan kesal Amanda tiba-tiba luruh begitu saja.
"Aku sudah melupakannya, jadi kamu tidak perlu membahas kejadian itu," balas Amanda, masih berbicara dengan ketus.
Namun, Dominic justru tersenyum. Tak mempermasalahkan sikap yang Amanda tunjukkan padanya.
"Kenapa kamu tersenyum? Apakah ada yang lucu?" tanya Amanda yang diam-diam melirik ke samping.
"Tidak ada, aku hanya suka saat melihatmu marah-marah."
Mata Amanda langsung mendelik, baru saja ingin berbaikan pria ini malah membuat emosinya kembali naik.
"Dasar aneh, melihat orang marah-marah kamu malah bahagia. Jadi, selama ini kamu sengaja 'kan membuatku kesal?" cetus Amanda dengan mata yang berapi-api.
"Benar."
"Dasar—"
"Karena aku lebih suka saat kamu bicara dari pada diam terus seperti tadi, aku benci kamu mengabaikanku," sela Dominic sebelum Amanda melanjutkan ucapannya. Kalimat-kalimat umpatan yang hampir saja keluar langsung tertelan kembali, sementara tatapan mereka terus beradu, karena kini mobil Dominic berhenti di lampu merah.
***
Sedih deh pas baca komen ada yang skip-skip bab😔 Hanya karena terbagi jadi dua kubu, jadi ketika yang didukung gak muncul, babnya jadi gak dinikmati, padahal aku nulisnya udah semangat, biar kalian terhibur.
Kalo boleh, aku minta jangan begitu ya. Ini kan cuma buat seru-seruan, entah nantinya Amanda sama siapa, itu sudah aku tentukan dari awal.
Cuma karena ada dua pria, ya harus adil kan, gak mungkin sama yang satu terus.
Oke itu aja dariku, semoga Amanda dan dua pria tampannya tetap ditunggu sama kalian 👋
Salam anu👑