
🍂🍂🍂🍂🍂
"Aa sakit?" tanya Lintang yang baru masuk kedalam kamar orang tuanya.
"Hem, pusing."
"Napa? nda punya uwit?" tanyanya lagi yang kini duduk di tengah ranjang berukuran besar yang cukup untuk mereka berlima, tapi sayangnya hanya orang tuanya saja yang meniduri karna para hasil keringat kadal jantan sering tidur di ketek para pria kesayangan mereka.
"Aa mau tidur, Lilin jangan berisik ya," pinta Fajar yang memang sedang demam.
Di kamar besar itu hanya ada mereka berdua, karna Embun sedang mengantar dokter sampai luar kamar, dan Keanu masih menuju jalan pulang dari kantornya.
Lintang yang kasihan hanya mengangguk paham, ia tak bicara lagi dan langsung ikut berbaring di samping kakak keduanya itu.
"Abang Asha juga di kamalnya Buaya besal, telus Lilin mahu main sama sapa dong? mua muanya bobo," ucapnya sedih.
Meski kembar tiga, kadang hanya Angkasa dan Fajar yang sering sakit bersamaan sedangkan Si bungsu, jika tak duluan ya akan belakangan dan itu adalah keadilan sempurna bagi keluarga Rahardian karna tak ada satupun yang bisa membayangkan bagaimana rumah utama jika ketiganya sakit berbarengan karna Lintang sendiri saja sudah di buat pusing.
"Main sama emak emak yang lagi marah-marah aja sana, di kamar sebelah," titah Fajar dengan kedua mata tertutup sambil tak lupa berdoa agar Lintang tak banyak mengoceh dari A hingga Z.
"Ini, makanya Lilin ongol-ongolin mak Othor biar adeeeeeeeeeeem," jawabnya sambil tertawa cekikan dan itu mampu membuat Fajar tersenyum.
#BaikKanSaya!!
Cek lek
Embun datang bersama Mhiunya untuk mengambil Lintang yang pasti sedang menggangu Fajar, semua nampak biasa karna ekspresi Si tengah selalu datar saat bersama adiknya meski dalam hatinya ia sangat kesal menanggapi.
"Aanya mau bobo, Lilin sama Mhiu dulu yuk, Sayang," ajak Biru sambil merentangkan tangan.
"Mahu banja-banja ya?" tanya Lintang yang membuat wanita paruh baya itu tergelak.
"Telus Mhiu apa? kang-kang abisin uwit Phiu, iya?" tanya Lintang yang kini justru membuat Embun tertawa.
Biru yang kesal bercampur gemas langsung menggigit pipi bulat pipi cucu bungsunya, dan bukan Lintang namanya jika ia tak langsung melakukan paduan suara yang menggelegar ke seisi rumah utama.
cek lek
Biru menyerahkan Lintang pada suaminya yang baru saja habis mandi, pria tampan dengan hanya memakai handuk sebatas pinggang itu bingung karna jeritan Sang cucu sambil mengaduh-aduh tak jelas.
"Lilin kenapa? Aa sama Abang Asha lagi sakit, hayo... siapa yang nakalin?" tanya Samudera yang kini sudah menggendong Si kesayangannya itu.
"Mhiu didit-didit pipi Lilin, Lilin butan bapauw," adunya sedih sambil menjerit dan sesegukan.
"Ya udah, nanti Mhiunya di cium ya, jangan nangis lagi, Phiu mau pakai baju dulu," ucap Sam yang langsung mendudukkan Lintang di atas ranjangnya yang sudah rapih.
Usai merapihkan diri, Samudera kembali pada cucunya. Ia hapus air mata Lintang yang masih saja terisak sedih. Di pangkunya bocah itu sambil di dekap dengan erat sambil merasakan hangatnya tubuh mungil Si bungsu.
.
.
.
"Anan Elat-elat piyuknya, nanti Lilin betus, Phiu dadet loh!"
.
Wah, jadi inget balonnya Cekay 🤣🤣🤣