
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"PapAy kita jalan jalan yuk, piling-piling," ajak Angakasa saat ia sudah ada di dalam dekapan Sang Buaya.
"Healing, Bang." Hujan yang mendengar ucapan salah cicitnya pun langsung di benarkan.
"Yuk," sambungnya lagi tanpa memperdulikan MiMoynya.
"Piling kemana? di alam mimpi aja ya," sahut Air yang matanya sudah terpejam karna jika terus membuka mata Angkasa tak akan mau tidur dengan cepat.
"Nda, mau piling beneran."
"Ajak Ayah sama Bubun kalian sana," titah Tuan besar Rahadian.
Ia yang sudah...... ( Gak kuat lanjutin) tentu tak lagi memikirkan untuk jalan-jalan karna memutari rumah utama saja sudah tak sekuat dulu lagi. Dan jika di beri kesempatan untuk sehat dan bugar lagi tentu Air akan memilih hal lain dibanding sekedar jalan-jalan.
"Mahunya sama PapAy, nda mahu sama Ayah juga Bubun," tolak Angkasa sambil merengek.
"Kenapa? PapAy gak kuat jalan jauh, Bang."
"Ntal dorong-dorong sama Abang," rayu Si sulung.
Air langsung merengut kesal karna akan merasa dirinya sangat jompo sekali jika harus memakai kursi roda sedangkan ia selalu menolak tua, dan itu di dukung oleh Mak othor yang belum menewaskannya.
"Jangan dong, papAy cape ah."
"Telus PapAy mahunya apa?" tanya Angkasa.
"Mau Garap tanam siram" jawab Air sambil tertawa dan itu membuatnya mendapat pukulan dari Si Jan Hujan Deres yang takut petir.
"Apa tuh?"
"Itu tuh berkebun yang menyenangkan," kekeh Air, ia senang saat melihat istri tercintanya memicing kan mata.
Ia tahu, jika MiMoynya kini sedang mengumpat kesal karna ia menceritakan hal mesum lagi pada Angkasa Lee Rahardian Wijaya.
Tentunya tetap dengan bahasa yang sulit itu pahami bocah tersebut.
"Kebun mana? adanya alaman bakang sama samping," kata Angkasa dengan polosnya.
"Kebun kecil, punya MiMoy yang sekarang udah gersang."
Air tergelak saat Hujan akhirnya menjerit kesal padanya.
"Aer kobokaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan!"
Drama mau tidur selesai kini saatnya drama bangun tidur yang berlangsung dan Lintang lah yang sedang membuat kerusuhan di kamar Putra Mahkota Rahardian Wijaya.
"Kamu ngapain Lin pagi-pagi udah bangun?" tanya Sam yang kesal karna cucunya membuka mata disaat yang tak tepat karna baru saja ia bercumbu di bagian leher istrinya.
"Udahan mimpinya becok lagi, anan banak-banak ntal cepet abis," jawab Si bundu masih di bawah selimut tebal.
Entah sampai kapan ketiga keturunan Buaya betina dan Kadal jantan itu tidur dikamar mereka masing-masing karna nyatanya sampai detik ini para bocah menggemaskan itu masih berada di ketek masing masing pria kesayangannya.
"Emang minum susu, bisa abis?" ledek Samudera pada lintang yang tersenyum lebar hingga deretan gigi putih kecilnya terlihat sendiri.
"Balin ih," sahutnya lagi yang kemudian bangun dari baringnya. Ia loncat dari atas ranjang lalu berlari kearah pintu kamar.
"Lilin mau kemana?" tanya Samudera dan Biru berbarengan.
"Mahu kamal Bubun, Lilin inget-inget Syatu," jawabnya sambil menoleh dengan tangan memegang kenop pintu.
Samudera dan Biru tentu langsung saling pandang mencerna apa yang di maksud oleh Lintang.
"Sesuatu mungkin," kata Biru.
Lintang yang masuk kedalam kamar orang-tua nya langsung naik keatas tempat tidur, jika saja Keanu tak cepat bangun, mungkin Si bungsu akan tahu lagi jika kini ia dalam keadaan polos tanpa apapun.
"Lilin bisa pelan pelan gak?"
"Nda, Lilin mahu liat kaki Bubun, mana kaki Bubun?" carinya dengan heboh sendiri, untung saja Embun sudah membersihkan diri lebih dulu, firasatnya memang sudah tak enak sejak tadi, dan benar saja jika Si biang rusuh akhirnya datang tiba-tiba.
"Mau apa cari kaki Bubun, Lin?"
Kata Cekay, Culuga ada tapak kaki Ibu, Lilin nda puna Ibu, pindah di tapak kaki Bubun, buleh??? "