Drama Harian Si Kembar.

Drama Harian Si Kembar.
Lilin apa?


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Pagi hari semua sudah sibuk di kamar masing-masing karna si tiga bocah menggemaskan itu akan berkunjung ke rumah Abah dan Enin mereka. Angkasa yang tak mau diam saat di pakaikan baju mau tak mau harus di pegangi sambil di duduk kan diatas pangkuan Air agar Hujan bisa merapihkan cicit mereka tersebut.


"Diem dulu, bisa gak sih?!" omel Nyonya besar Rahardian pada Si sulung.


"Udaaaah, Abang Asha udah ganteng jangan bedak bedak ih," protes bocah tampan itu.


Setelah selesai, Angkasa lalu menarik tangan PapAy dan MiMoynya untuk keluar dari kamar menuju ruang tengah lantai bawah, berharap dua saudara kembarnya yang lain sudah ada disana.


"Tulun tangga tapi gendong ya," pinta Angkasa yang sudah merentangkan kedua tangannya.


"Enak aja, bisa encok dipinggang. Nanti gak bisa enak-enak," tolak Air pada cicitnya sembari menggoda istri tercinta yang mencibir kearahnya.


Ekor buaya yang tak lagi berfungsi itu kini hanya bagai pajangan, karna sudah tak mampu lagi basah-basahan diarea kebun kecil milik Hujan yang selalu membuatnya terbang ke puncak menikmatan.


#KarunyaTeuing.


#NgakakBariGugulingan!!


.


.


Fajar yang duduk diatas paha Ayahnya entah kini sedang mengobrol apa, tapi dari yang sudah-sudah biasanya Si tengah akan bernegosiasi dengan Tuan Muda Lee untuk lebih lama dirumah Abah dan Eninnya nanti.


"Nanti Abang sama Lilin kangen loh," ucap Keanu sambil mengusap pipi Fajar dengan lembut.


"Gak apa-apa, kan ada Phiu sama papAy."


Keanu tersenyum simpul, ia tarik tubuh mungil putra keduanya kedalam pelukan untuk di dekap hangat.


"Ok, tapi janji sama Ayah gak boleh nakal ya," pesan Keanu kemudian.


"Tentu, Ayah." dengan cepat Fajar menjawab dan mengiyakan penuh keyakinan.


Angkasa dan Fajar yang sudah ada disana kini tinggal menunggu Lintang turun dari kamar Samudera dan hampir 15 menit berlalu akhirnya Si bungsu datang juga.


"Anan tangen ya, Ntak pikol-piko Lilin, Keh," pamitnya sambil terisak sedih meninggalka Pria kesayangannya itu.


Samudera yang tak kuasa melihat cucunya itu malah ikut sedih dan hampir menitikan air matanya juga, ini bukan yang pertama tapi entah kenapa rasanya selalu sesak di dada.


"STOP!!! Phiu sama Lilin kalau mau nangis baleng baleng sono gih di kamar mandi, bicik!!" ujar Angkasa.


"Cih, dasar Buaya cilik," balas Sam, kesal.


"Huaaaaaa.... cicit PapAy akal," sambung Lintang.


Drama perpisahan yang menyebalkan itu selalu saja terjadi saat Si kembar ingin pergi.


.


.


Mereka yang diantar oleh Ayah dan Bubunya langsung berhambur masuk kedalam rumah dua lantai tempat dimana Keanu tumbuh sampai dewasa, terlalu banyak kenangan dirumah tersebut sampai membuat Rendra dan Cheryl enggan pindah ke rumah yang lebih mewah.


"Camalikum, Abang Asha ganteng datang," seru Angkasa yang sudah lebih dulu masuk, ia disambut dengan pelukan hangat oleh Abahnya.


"Assalamu'alaikum, Fajar juga datang," sambung Si tengah yang sama juga langsung mendapatkan pelukan dari Abah dan Eninnya.


"Kum-kum Lam, Lilin--Lilin---Lilin apa ya?" tanyanya bingung sendiri yang belum juga berhambur kedalam pelukan pria baya kesayangan Si tengah.


.


.


.


Lilin cengeng laaaaaaaah....