
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Bintang di Angkasa?" tanya gadis kecil berbando putih tersebut.
"Iya, Bintang gak boleh mana-mana," ucap Si sulung sambil meraih tangan Bintang.
Fajar dan Lintang hanya bisa saling pandang saat melihat kakak mereka sedang merayu, sungguh benar-benar adegan yang tak patut ditiru karna hanya bisa dilakukan oleh seorang yang sudah profesional saja, buaya cilik misalnya.
"Abang Asha ba'aya ya?" bisik Lintang ditelinga kanan Si tengah.
"Iya, kamu mau gak digigit?" tanya Fajar sambil meledek.
Lintang langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat karna bayangannya tentu bukan Angkasa melainkan hewan buaya sungguhan yang siap memangsanya.
"Lilin nda angis, nda boleh gigit," ujarnya sambil menahan cairan bening diujung matanya agar tak jatuh.
Fajar yang melihat hal tersebut hanya tertawa kecil, ia selalu kesal dan gemas saat melihat adiknya itu siap melakukan paduan suara. Tapi ia tak pernah memarahi meski kadang sangat terganggu.
Embun yang mendengar putranya terisak tentu langsung menoleh. Dan benar saja, Lintang sedang sesegukan disamping Fajar.
"Lilin kenapa?" tanya Embun sambil merentangkan tangan.
"Lilin mahu gigit ba'aya tanyanya, Lilin nda mahu gigit," jawab Lintang yang kini sudah ada diatas pangkuan Bubunnya.
"Mana buayanya?"
"Itu, ba'aya tecil ama Bintang," Sahutnya sembari menunjuk kearah Angkasa.
Sama dengan Fajar, wanita itupun tertawa kecil saat mendengar Lintang menyebut Angkasa Buaya kecil.
Kara dan Elang yang sudah datang dan ikut bergabung akhirnya berpamitan untuk pulang, mereka memanggil Bintang untuk segera menghampiri.
"Aku mau pulang ya," pamit Bintang saat sudah berdiri, ketiga bocah laki-laki tampan itu pun hanya mengangguk dan melambaikan tangan mereka.
"Hati-hati dijalan ya," balas Fajar.
"Awas jatuh ya," sambung Angkasa
"Nda boweh tanen ya," lanjut Lintang.
Kini semua mata tertuju pada Si bungsu yang pesannya berbeda dari kedua kakak laki-laki tersebut. Kara yang gemas sampai ingin sekali mencium pipi ketiganya.
"Iya, dadah," jawab Bintang seraya melambaikan tangan.
.
.
"Wah, keren," ucap Sang Tuan besar Rahardian tersebut.
"Nanti main umah Bintang ya, pAy," ajak Angkasa sedikit memaksa dan memohon.
"Tentu, sayang. Sekarang mandi dulu. Buaya cilik harus wangi dan ganteng 24 jam," rayu Air di sela gelak tawanya.
Jika saja Hujan mendengar percakapannya dengan Angkasa, entah hukuman apa yang diterima Air karna sudah berhasil mengajari bocah menggemaskan itu banyak rayuan maut.
Lain Angkasa tentu lain juga dengan Lintang. Ia yang sudah mandi tentu sudah tampan, kini saatnya bocah itu keluar dari kamarnya menuju lantai bawah sambil digandeng oleh si Tutut Markentut.
Lalu dimana Fajar?
Si tengah yang tertidur saat perjalanan pulang masih ditemani Keanu dikamarnya.
"Lilin mau susu?" tawar Samudera saat sudah mendudukkan cucu kesayangannya itu disofa ruang tengah.
"Mahu," jawabnya sambil bertepuk tangan kecil.
Sam lalu mengangguk, ia mengusap kepala Lintang sebelum akhirnya melangkah ke arah dapur bersih.
Lintang yang sendiri di ruang tengah akhirnya
menyusul Phiunya diam-diam, dan betapa terkejutnya si TUTUT JAJAH saat mendengar Lintang berteriak.
"Waaaaaaaaaah, Tabaaaaaaak!!!!" jerit si bungsu.
"Tabrak? tabrak apa, Lin?" tanya Samudera yang berlari mendekat ke arah Lintang yang berdiri di samping meja makan.
,
.
.
Tabak totat cacang, Wey!!!!
Bikin emosi nih bocah..
pengen di cium tapi kesel, mau di gigit tapi lucu.
Tuuuuut, cucumu meresahkan 😌😌😌