Drama Harian Si Kembar.

Drama Harian Si Kembar.
Taman Jajan.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Lintang yang sudah menghabiskan susunya masih berguling ditengah ranjang besar milik Phiu dan Mhiunya. Dari ketiga anak Buaya betina, hanya dia yang tak ikut pergi dah memilih tetap tinggal di rumah utama. Keputusannya itu tentu membuat Samudera ingin sekali menggigit pipi Si bungsu.


"Cepet bobo, Lin," titah Biru yang duduk bersandar di ranjang sambil bertukar pesan dengan Ara.


"Ntal, biyum tuk-tuk," jawabnya tak benar.


"Ngantuk!"


"Iya, itu," jawab Lintang lagi sambil tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.


Biru hanya menggeleng kan kepala, percuma juga di benarkan karna biasanya akan kembali salah dan balik lagi kesetelan ulang. Begitu seterusnya sampai bosan sendiri.


"Lilin hali ini cuma mam tiyuy sama sayul popay nda mam itan loh," ucapnya yang kini ikut duduk dekat Biru. Tapi, setelahnya langsung merentangkan tangan saat melihat Samudera datang dan itu berarti ia meminta digendong oleh Si Tutut Markentut.


"Kan Mhiu udah suruh makan, kenapa ikannya gak di makan," kata Biru.


"Itannya potot-potot Lilin, selem banet. Apa dia nda mahu melem?" tanya Lilin, dan sialnya Samudera pertanyaan itu malah ditunjukkan padanya.


"Semua ikan emang melotot, Lin. Buktinya itu udah mati aja tetep meletot 'kan?" jawab Sam masih menggendong cucu bungsunya.


"Itannya udah mati, napa di doleng? nda bungkus bungkus tanem taya bunga Miyuh?" tanyanya lagi semakin menyebalkan.


Ingin rasanya Samudera menangis guling guling jika sudah begini, karna pertanyaan Lintang tak pernah ada habisnya. Kecerewetan dan tingkat kekepoannya melebihi langit ketujuh.


Tapi jika tak begitu, rumah utama akan sepi dan tak ada juga yang dibuat kesel sampai mengeluarkan tanduk di kepala.


"Gunanya ikan mati 'kan buat di makan, bukan di kubur kaya manusia," Sahut pria paruh baya itu.


Sam menyandarkan kepala Lintang ke bahunya saat menerima kode dari Biru agar bocah itu cepat terlelap karna sudah waktunya tidur siang. Sebab jika tak begitu malam nanti biasanya Lintang akan rewel tengah malam.


Tapi entah kenapa justru Si bungsu tak mau juga terbuai mimpi malah bernegosiasi pada Sam untuk mengajaknya ke taman.


"Siang begini gak ada orang, Lin." tolak halus Phiunya.


"Nda apa-apa, tapi ada abang jajan 'kan?"


Samudera membuang napas kasar, tak pernah sanggup rasanya ia menolak ajakan cucu bungsunya tersebut jika memang memiliki waktu luang untuk pergi bersama.


.


.


Seperti permintaan Lintang barusan, kini Sam bersama istri dan cucunya pergi ke taman dekat Rumah utama. Tak sampai dua puluh menit, mobil menepi di kawasan bermain anak-anak dan tempatnya para pedagang makanan dan cemilan berjejer rapih mulai dari yang kekinian hingga kue tradisional ada disana.


"Rame ya, By. Padahal belum sore," kata Biru saat turun dari kendaraan mewah suaminya.


"Tapi kan ini akhir pekan."


"Hem, tapi lumayan panas nih," sahut Biru. Ia berjalan menuju kursi dibawah pohon sambil menuntun Lintang.


"Lilin mau jajan apa?" tawar Sam.


"Mahu enjus jiluk,"


"JUS JERUK!" timpal pasangan paruh baya itu berbarengan.


Seperti biasa Lintang hanya cekikan sendiri saat mendengar ucapannya di benarkan.


Sam mulai beranjak dari duduknya kemudian melangkah menuju stand penjual minuman bersama Lintang. Tapi lagi dan lagi cucunya itu membuat ia kaget hingga rasanya jantung mau copot.


.


.


.


Ya awoh... Lilin liat POCONG



Satuin noh sama Si Skala 🤣🤣


Ketan malah teriak SETAN


Eh ini tuyul malah ikut-ikutan 😭😭😭