
ππππππ
Lintang yang sudah tidur di tengah tinggal menunggu Phiunya melakukan ritual sebelum tidur. Si bungsu yang jarang sekali mau tidur bersama Bubun juga Ayahnya semakin menempel pada Sang kakek yang pandai bercerita.
"Tetepan, Piyuuuuh," teriak Lintang saat Samudera belum juga meletakkan ponsel mahalnya.
"Sabar, Sayang," sahut Tuan Rahardian tersebut tanpa menoleh. Ada saja email yang masuk padahal ini jelas diluar jam kerjanya.
"Lilin didit ya!" ancam bocah menggemaskan tersebut.
Samudera yang mendengar hal itupun mau tak mau meletakan Si benda pipih keatas nakas samping ranjang. Ia yang sedari tadi duduk bersandar akhirnya mulai berbaring lalu memeluk cucu bungsunya itu.
"Ucapin," pinta Lintang seperti biasa.
"Merem dulu matanya, janji gak boleh melek."
"Talau melem telus melek agi apa?" tanya Lintang, ia memang selalu saja bertanya sampai kadang Samudera kesal sendiri menjawabnya.
"Kalau merem melek itu Mhiu yang lagi keenakan," jawab Samudera mulai kearah hal meseum.
Ucapannya barusan tentu langsung mendapat tatapan tajam dari Biru, tentu ia paham apa yang dimaksud suaminya barusan tak seperti Lintang yang justru semakin dibuat penasaran.
"Miyuh enak apain? Lilin mahu enak," Si anak yang belum pasih bicara itu malah bangun dan duduk.
"Mhiu enak di kejar-kejar Si Tutut, Lin. Ntar malem nih mau di kejar lagi," kata Samudera yang tertawa lepas.
"Lilin mahu liat, Lilin gak mahu bobo!"
#MampusLoTut!!!
πΎπΎπΎπΎπΎπΎ
Sama seperti Lintang, Sulung dari tiga saudara itu justru masih berbaring disofa menghabiskan susunya dibotol besar. Dari kedua adiknya hanya Angkasa yang bisa berkali-kali meminta susu dalam waktu sehari semalam jadi tak salah jika ia yang paling besar dan paling aktif bermain.
Jika Fajar sering asik dengan dunianya dan mainannya, begitu juga dengan Lintang yang lebih senang dipangku atau digendong. Tapi Angkasa akan berlari sesuka hatinya bagai gangsing yang dibaru dilepas dan akan berhenti jika jatuh atau menabrak.
"Bobo sini, Bang," ajak Hujan yang sudah berbaring di ranjang, bahkan selimut tebal sudah menutupi sampai bagian dadanya.
"Jangan tungguin papAy, dia mau semedi," ujar Hujan lagi, bahkan matanya kini sudah terpejam.
Angkasa tak lagi menyahut, ia malah mendekat kearah Air yang duduk diatas karpet masih menonton Film. Tatapannya begitu fokus sampai rasanya ia kurang mendengar apa yang diobrolkan cicit dan istrinya barusan. Ditambah rasanya Hujan sudah terlelap ke alam mimpi. Wanita baya yang sejak remaja selalu sibuk itu seakan bertemu surganya jika sudah diatas tempat tidur.
"PapAy nda bobo?" tanya Angkasa yang ikut duduk juga disebelah pria baya yang...
#Ah, sudahkah
#TakTerbayang!
"Abang Asha bobo duluan sana bareng MiMoy, PapAy tanggung sebentar lagi," titah Air pada cicit sulungnya.
"Abang temenin, buweh?" tawarnya sambil tersenyum lebar sampai deretan giginya yang kecil kini terlihat semua.
"Boleh, sini deketan." Air menarik tubuh Angkasa yang malah ia duduk kan diatas pahanya.
"Belat nda?" tanya Angkasa yang dijawab gelengan kepala oleh Air.
"Abang Asha mau nyanyi, dengerin ya."
"Nyanyi apa?" tanya Air yang malah beralih fokus pada Si Sulung.
.
.
.
Tik.. tik... tik... Buni MiMoy diatas genting, PapAynya tulun nda hingga coba nengok nanan kili basah muaaaaaaaaa....
Anak pinter, gak berani dia nyebut nama AirHujan.. takut gak dibagi warisan ya tong π€£π€£π€£