DERITA ORANG KETIGA

DERITA ORANG KETIGA
KEDATANGAN REBECCA


Pagi hari Yoshep bangun dengan perasaan bahagia. Ia menatap wajah cantik istrinya yang saat ini berada dalam dekapannya. Ia merapikan anak rambut Yolan membuat tidur sang empu terganggu.


" Engh." Yolan mengucek matanya, ia menatap wajah Yoseph yang sangat dekat dengannya.


" Eh maaf! Tangan Mas pasti sakit." Ucap Yolan saat menyadari jika ia menjadikan tangan Yoseph sebagai bantalan sepanjang malam.


" Tidak apa apa, Mas malah senang


Adek mau dekat sama Mas. Itu artinya Adek menyukai Mas, apa benar tebakan Mas kalau Adek udah ada rasa sama Mas seperti yang Mas rasakan saat ini?" Tanya Yoseph mengelus pipi Yolan.


Yolan nampak sedikit gugup, ia mengalihkan pandangan ke sembarang arah.


" Kenapa Adek tidak menjawabnya? Apa tebakan Mas salah?" Yoseph bertanya lagi.


" Bu... Bukan begitu Mas, aku tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini bisa di sebut cinta, rasa suka atau hanya sekedar rasa nyaman saja. Yang jelas aku merasa senang berada di dekat Mas." Ujar Yolan.


" Tidak apa apa sayang, Mas memahaminya." Sahut Yoseph.


Yolan menatap Yoseph begitupun sebaliknya, Yoseph memajukan wajahnya hendak mencium Yolan, namun Yolan menghindarinya.


" Aku mau mandi dulu Mas, aku ada kelas pagi ini." Ucap Yolan turun dari ranjang.


Yoseph menghela nafasnya pelan, ia menatap punggung Yolan yang masuk ke kamar mandi.


" Sabar Yoseph, jangan terburu buru! Ini masih terlalu awal untuk Yolan. Kau harus bisa menahan diri." Monolog Yoseph.


Di dalam kamar mandi Yolan segera membersihkan tubuhnya, setelah selesai Yolan keluar kamar bersamaan dengan Yoseph yang masuk ke kamar sambil membawa segelas susu di tangannya.


" Mas buatkan susu untuk Adek, di minum ya mumpung masih hangat. Mas ke bawah dulu menyiapkan sarapan untuk kita." Ujar Yoseph.


" Iya Mas Terima kasih, oh ya Mas apa perlu aku menyiapkan pakaian kantor Mas?" Tanya Yolan menatap Yoseph.


" Mas tidak bekerja di kantor sayang." Ucap Yoseph membuat Yolan terkejut.


" Lalu Mas kerja di mana?" Tanya Yolan penasaran.


" Adek akan tahu nanti, kerja Mas hanya di dalam rumah saja sambil berkutat dengan komputer." Ujar Yoseph.


" Oh." Gumam Yolan tidak mau terlalu jauh mencampuri urusan pekerjaan Yoseph.


Yoseph keluar kamar sedangkan Yolan duduk di depan meja riasnya. Ia merias wajahnya dengan riasan natural. Setelah selesai ia turun ke bawah menghampiri Yoseph yang sedang berkutat di depan kompor.


" Mas masak apa hari ini?" Tanya Yolan.


" Mas memasak nasi goreng seafood spesial untuk istri Mas tercinta." Sahut Yoseph.


" Lain kali kalau aku libur ajari aku masak ya Mas, biar aku bisa membuatkan sesuatu untuk Mas." Ujar Yolan.


" Oke siap sayang." Sahut Yoseph.


Ya selama ini Yolan tidak pernah menginjak dapur untuk memasak ataupun sekedar membantu mamanya. Bahkan mencuci piring saja Yolan tidak bisa.


" Sudah matang, selamat makan." Ucap Yoseph meletakkan sepiring nasi goreng buatannya di depan Yolan.


" Kelihatannya enak nih Mas." Yolan menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya. Ia mengunyahnya lalu merasakan rasa yang lezat di lidahnya.


" Enak Mas, ternyata Mas pintar memasak. Aku jadi malu karena aku tidak bisa apa apa." Ujar Yolan menatap Yoseph.


" Di dalam pernikahan, kita di takdirkan untuk saling mengisi kekurangan satu sama lain. So jangan khawatirkan akan hal itu, yang tidak bisa Adek lakukan pasti Mas bisa melakukannya, begitu pun sebaliknya." Ucap Yoseph melempar senyuman kepada Yolan.


Yolan menatap Yoseph, terbesit rasa bersalah dalam hatinya karena suatu hal yang tidak bisa ia katakan.


Selesai sarapan Yoseph mengantar Yolan ke kampusnya.


" Mas sampai di sini saja! Aku tidak mau sampai kehadiran Mas membuat mereka semua curiga dan bertanya tanya. Aku paling malas jika nanti banyak yang bertanya soal hubungan kita." Ucap Yolan membuat Yoseph kecewa.


Sejujurnya ia tidak suka jika hubungan mereka di rahasiakan. Yoseph yakin jika banyak cowok cowok yang mengejar Yolan, ia khawatir jika Yolan akan tergoda. Tapi saat ini dia memilih untuk diam daripada bertengkar.


Yoseph menepikan mobilnya di perempatan yang tak jauh dari kampus.


" Aku pergi Mas, sampai jumpa nanti." Ucap Yolan turun dari mobil. Ia berjalan di trotoar menuju kampusnya.


Setelah Yolan tidak terlihat lagi, Yoseph segera melajukan mobilnya menuju rumahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yeshi yang mendengar bel berbunyi segera membukakan pintu.


" Mbak Rebecca." Ucap Yeshi terkejut.


" Kapan mbak Rebecca pulang?" Tanya Yeshi menatap perut Rebecca yang terlihat membuncit.


" Aku pulang sekitar satu minggu yang lalu. Maaf baru hari ini aku ke sini." Sahut Rebecca.


" Iya Mbak nggak apa apa." Ucap Yeshi.


" Silahkan masuk Mbak!"


Keduanya masuk ke dalam menuju ruang tamu.


" Siapa sayang?" Tanya Tian menuruni tangga sambil mengancingkan lengannya.


" Mbak Rebecca Mas." Sahut Yeshi.


Tian menghentikan langkahnya, ia menatap Rebecca sekilas.


" Hai, bagaimana kabarmu?" Tanya Tian menghampiri keduanya.


" Aku baik Yan, kalian sendiri bagaimana?" Rebecca balik bertanya.


" Seperti yang kau lihat, kami baik baik saja." Sahut Tian duduk di samping Yeshi.


" Oh ya aku ucapkan selamat atas kehamilanmu Yeshi, Yoga bilang kamu hamil dua bulan." Ucap Rebecca.


" Iya Mbak, terima kasih." Ucap Yeshi.


" Mau minum apa Rebecca?" Tawar Tian.


" Tidak perlu repot repot, aku ke sini hanya ingin meminta maaf pada kalian berdua. Satu bulan aku menjauh dari kalian membuatku menyadari kesalahanku selama ini. Aku banyak berbuat dosa pada kalian berdua, aku sadar betapa pentingnya kasih sayang dan saudara. Aku minta maaf, maafkan aku! Dan tolong jangan benci aku! Aku tidak punya siapa siapa yang bisa aku jadikan sandaran hidup. Aku tidak percaya lagi pada Yoga dan keluarganya. Sejujurnya aku ingin mempercayai Yoga seperti dulu lagi, tapi entah kenapa aku sangat sulit melakukannya Yeshi, Tian." Ucap Rebecca menahan air matanya.


Yeshi dan Tian saling melempar pandangan.


" Kami sudah memaafkanmu Rebecca, kita lupakan masa lalu dan kita jalani hidup yang baru. Kau juga harus melakukan itu kepada Yoga dan keluarganya. Yoga sudah berubah, ia sudah menyadari kesalahan yang dia lakukan padamu selama ini. Percayalah! Yoga benar benar mencintaimu. Yoga benar benar menyayangi kalian berdua." Ujar Tian.


" Aku tahu itu, aku akan mencoba mengembalikan kepercayaanku padanya lagi. Aku juga tidak mau hidup seperti ini terus. Anakku butuh kasih sayang ayahnya, aku tidak bisa terus terusan menghindari Yoga. Terima kasih telah membuka hatiku." Ucap Rebecca.


" Yeshi, maukah kau berteman denganku? Maukah kau aku sebagai saudaramu?" Tanya Rebecca menatap Yeshi.


" Aku tulus kali ini, aku tidak akan mengganggu hubungan kalian lagi. Aku sudah bertobat untuk hal itu. Aku mencintai Yoga, dan selamanya aku akan mencintainya." Ucap Rebecca.


" Benarkah?"


Rebecca menoleh ke asal suara, begitupun dengan Tian dan Yeshi. Mereka bertiga saling melempar pandangan.


" Benarkah yang kau katakan Rebecca?" Tanya Yoga duduk di samping Rebecca.


" A... Aku... " Gugup Rebecca.


Yoga menggenggam tangan Rebecca.


" Aku minta maaf! Aku berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi. Aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi. Aku mencintaimu." Ucap Yoga mencium punggung tangan Rebecca.


Rebecca tidak kuat menahan rindu dan cinta dalam hatinya untuk Yoga selama ini. Walaupun selama satu bulan ini ia berusaha membenci Yoga, namun nyatanya ia tidak mampu. Cintanya pada Yoga melebihi cintanya pada Tian dulu.


Tiba-tiba....


Grep...


Rebecca memeluk Yoga, ia meluapkan rindu melalui pelukan hangatnya. Yoga mengelus kepala Rebecca dengan lembut. Sesekali ia menciumi pucuk kepala Rebecca.


" Kita buka lembaran baru mulai hari ini, lupakan hari hari yang menyakitkan itu! Apa kau mau?" Tanya Yoga di balas anggukkan kepala oleh Rebecca.


" Terima kasih." Ucap Yoga.


Tian dan Yeshi yang melihatnya ikut bahagia.


TBC.....